08-05-2013 | 682 Klik

Teknologi Peningkatan Nilai Tambah Produk untuk Revitalisasi Industri Kehutanan


eksposePustekolah (Bogor, 08/05/13)_Peningkatan nilai tambah produk (added value) adalah salah satu strategi pokok dalam kebijakan nasional industri agro untuk mewujudkan revitalisasi industri kehutanan.  Untuk itu, diperlukan dukungan input teknologi yang mampu menghasilkan produk-produk turunan bernilai tinggi.

Industri hasil hutan merupakan salah satu industri agro, yang merupakan industri andalan masa depan. Industri agro ini didukung oleh sumber daya alam yang cukup potensial yang berasal dari sektor pertanian, perikanan/kelautan, peternakan, perkebunan dan kehutanan.

“Produk hasil hutan kita, harus diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi, bukan lagi bahan mentah yang nilainya disandarkan pada volume,” kata Dr. Iman Santoso, Kepala Badan Litbang Kehutanan, saat membuka Ekspose“Teknologi Peningkatan Nilai Tambah Hasil Hutan”, yang diselenggarakan Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah) di IPB International Convention Center Botani Square, Bogor, Selasa (30/4).

Pengolahan hasil hutan Indonesia dari hulu ke hilir, harus didasarkan pada asas kelestarian, produktivitas yang tinggi, ramah lingkungan dan diolah menjadi produk-produk turunan yang bernilai tinggi. Hal lainnya adalah pengolahan dan pemanfaatan limbah, sehingga secara keseluruhan, proses produksi menjadi ramah lingkungan dan efisien. Hal itu sesungguhnya adalah tantangan terbesar para peneliti yang bergerak dalam bidang pengolahan hasil hutan. Karena penciptaan iptek dalam sisi ini, membutuhkan visi, sains, dan juga instrumen riset yang advance.

Oleh karenanya Iman berharap Pustekolah dapat menghasilkan iptek yang mampu menjadi rujukan bagi industri pengolahan hasil hutan. Iptek tersebut harus user friendly karena penggunanya sebagian besar adalah petani dan pengusaha kecil/menengah. Selain itu juga harus environmentally friendly. “Kita punya tugas besar dalam menemukan iptek bagi peningkatan nilai tambah, dan juga menyampaikannya kepada para pelaku industri hasil hutan,” ujar Iman.

Memenuhi harapan tersebut, Pustekolah terus berpacu untuk menghasilkan teknologi yang mampu meningkatkan nilai tambah dan pendapatan bagi industri hasil hutan Indonesia, baik yang dilakukan oleh industri besar, UKM, maupun masyarakat petani. Pemasyarakatan hasil riset pun dilakukan secara kontinyu.

“Sebagaimana diketahui bahwa nilai tambah ini sebuah isu lama/tua, tetapi tetap masih relevan. Selama kita  masih selalu mengekspor bahan mentah, selama itu pencarian teknologi peningkatan nilai tambah masih relevan,” papar Dr. Putera Parthama, Kepala Pustekolah, dalam laporannya di acara ekspose tersebut.

“Ekspose ini bertujuan memperkenalkan dan menyebar luaskan beberapa teknologi peningkatan nilai tambah hasil hutan yang dihasilkan oleh Pustekolah kepada khalayak pengguna,” lanjut Parthama. Harapannya teknologi yang disampaikan ini diterima oleh peserta dan pengguna serta di dukung oleh kebijakan pemerintah secara luas .

Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan, Ditjen Industri Agro, Kementerian Perindustrian,  Ir. Arya Wargadalam, M.A., yang tampil sebagai pembicara kunci mengatakan bahwa acara ini sangat mendukung kebijakan nasional industri agro menuju revitalisasi industri kehutanan. Kebijakan tersebut diarahkan kepada 2 (dua) hal yaitu peningkatan nilai tambah produk dan peningkatan daya saing/kualitas produk. Tujuannya adalah supaya industri hasil hutan dan perkebunan dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan (sustainable growth).

“Industri hasil hutan Indonesia memiliki kekuatan antara lain potensi bahan baku yang besar, potensi SDM yang besar (padat karya) dan daya kreativitas yang tinggi,” papar Aryan.  Namun, industri hasil hutan Indonesia saat ini menghadapi permasalahan kesenjangan antara kebutuhan dan pasokan bahan baku karena semakin berkurangnya pasokan kayu dari hutan alam.  Permasalahan lain yang juga dihadapi Indonesia selama ini adalah sebagian besar hasil utan dijual/diekspor dalam bentuk bahan baku atau bahan setengah jadi.

Hal itu memberikan nilai keuntungan yang rendah dan negara lainlah yang menikmati nilai tambah lebih besar. Semestinya, hasil hutan Indonesia harus diolah dengan input teknologi sehingga menghasilkan produk-produk turunan yang jauh lebih tinggi nilainya, yang juga sesuai dengan kebijakan pemerintah saat ini.

“Kami berharap hasil-hasil riset Pustekolah tersebut dapat sejalan dengan kebijakan nasional industri agro menuju revitalisasi industri kehutanan,” ujar Aryan.

 

Berbagai teknologi pengolahan hasil hutan

Dalam ekspose “Teknologi Peningkatan Nilai Tambah Hasil Hutan” ini dipaparkan sebanyak sebelas materi, yakni:

  1. Teknologi Pengawetan Kayu Alternatif untuk Bahan Bangunan Kelautan
  2. Mesin Pengering Kayu Sistem Panas Tungku untuk Usaha Kecil
  3. Pemanfaatan Kayu Trembesi untuk Furniture dengan Teknologi Laminasi
  4. Bambu Komposit sebagai Material Alternatif Pensubstitusi Kayu Pertukangan Berkualitas
  5. Pemanfaatan Ekstrak Cair Limbah Kayu Merbau sebagai Bahan Perekat Balok Lamina
  6. Pemanfaatan Limbah Pelepah Nipah dan Sabut Kelapa untuk Papan Serat Berkerapatan Sedang Menggunakan Perekat Terbarukan TF
  7. Teknologi Glulam untuk Pembuatan Komponen Kapal
  8. Potensi Ekonomi Limbah Kayu Pinus Bekas Sadapan dan Diskursus Pengelolaan Tegakan Pinus sebagai Penghasil Getah
  9. Teknik Pembuatan  Dekstrin  Secara Enzimatis dari Tepung Buah Sukun 
  10. Potensi Pemanfaatan Dryobalanops aromatica untuk Produk Kosmetik dan Obat
  11. Pembuatan Vernis dari Damar Batu

Selain ekspose hasil riset, digelar juga pameran iptek, dalam bentuk contoh produk serta informasi berupa buku dan leaflet yang dibagikan ke peserta. Contoh produk diantaranya bambu lamina, nano carbon, bio-fuel, panel kayu mangium, cuka kayu serta turunannya, dll. 

Acara ekspose ini dihadiri oleh sekitar 150 orang dari berbagai pihak terkait. Peserta yang hadir terdiri atas Fakultas Kehutanan beberapa Universitas, Kementerian Perindustrian, kalangan BUMN (Perum Perhutani, PT. Inhutani) dan industri swasta yang mengolah kayu, bambu, serta HHBK. Hadir pula perwakilan Asosiasi Profesi/ Industri, kalangan fungsional seperti dari peneliti, penyuluh dan widyaiswara, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan beberapa pengguna jasa Pustekolah seperti Bea Cukai. Tidak ketinggalan peserta dari eselon I teknis Kemenhut, para peneliti senior yang sudah purna tugas, serta para kepala UPT lingkup Badan Litbang Kehutanan.(SS)***