KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda - 11:18 am, 21. June 2016 - 984 klik

Potensi Destinasi Ekowisata di KHDTK Aek Nauli

Oleh Teknisi Litkayasa Penyelia BP2LHK Aek Nauli ---

Ekowisata memberikan kesempatan kepada seseorang untuk belajar tentang pentingnya konservasi keanekaragaman hayati dan budaya lokal. Pada saat yang sama, ekowisata juga menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan dan sekitar hutan.

Saat ini, manfaat ekowisata telah berkembang, tidak hanya untuk pengamatan berbagai jenis tumbuhan dan satwa, penelusuran jejak di hutan belantara atau daerah pantai, gunung, sungai, gua atau tempat tempat lainnya, tetapi telah terkait dengan konsep pelestarian hutan dan penduduk lokal. Ekowisata tidak dapat dipisahkan dari konservasi. Oleh karena itu, ekowisata disebut sebagai bentuk perjalanan wisata bertanggungjawab.

Terkait ekowisata, Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli memiliki sebuah Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli yang secara administratif termasuk pada Desa Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipanganbolon dan Desa Dolok Parmonangan Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Salah satu yang menarik dari KHDTK Aek Nauli adalah kawasan ini berada pada jalur lintas atau pintu masuk ke kawasan wisata Danau Toba jika kita melakukan perjalanan dari Kota Medan menuju kota wisata Parapat.

Kawasan hutan yang didominasi hutan pinus yang menjulang tinggi dan tertata rapi ini memberikan udara yang sejuk khas dataran tinggi. Jika ditelusuri lebih dalam, kawasan hutan Aek Nauli ini memiliki ekosistem yang sangat beragam dan menarik yang dilengkapi. Selain itu, berbagai fasilitas yang tersedia menjadi alasan utama KHDTK Aek Nauli pantas dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata dan lokasi belajar tentang lingkungan hidup.

Pada KHDTK Aek Nauli telah teridentifikasi sedikitnya sekitar 90 jenis pohon dan 27 jenis anggrek, sembilan jenis satwaliar kelompok mamalia darat, tiga jenis primata dan 51 jenis burung. Beberapa jenis satwa tersebut tergolong langka dan dilindungi undang-undang, seperti kambing hutan, beruang madu, siamang dan ayam hutan merah.

Jumlah pengunjung KHDTK Aek Nauli yang terdata setiap tahun mencapai 2000-an orang. Jumlah ini belum termasuk pengunjung yang tidak melapor atau yang singgah sebentar. Kunjungan ini semakin tahun semakin meningkat mengingat KHDTK Aek Nauli relatif mudah dijangkau, dekat dengan kawasan wisata menarik Danau Toba, keamanan yang relatif terjamin karena dalam kawasan terdapat komplek perkantoran BP2LHK Aek Nauli dan komplek perumahan, tersedianya sarana dan prasarana yang cukup memadai, dan tersedianya instruktur/pendamping lapangan.

Pengunjung KHDTK Aek Nauli berasal dari berbagai kalangan antara lain masyarakat, pelajar dari berbagai sekolah, organisasi, perguruan tinggi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Pramuka. Tujuan kedatangan mereka untuk pembelajaran lingkungan, camping ground, melakukan penelitian, dan untuk berwisata.

Dengan jumlah kunjungan yang semakin meningkat ini tidak menutup kemungkinan KHDTK Aek Nauli dapat menjadi salah satu lokasi yang dapat mendatangkan pendapatan negara di sektor kehutanan.

Untuk itu, BP2LHK Aek Nauli sebagai pengelola telah menyiapkan berupa leaflet dan panduan jalur trekking yang dapat membantu pengunjung untuk mempersiapkan rencana wisatanya. Ada 3 jalur tracking ekowisata di KHDTK Aek Nauli yaitu jalur tracking pendek, menengah dan jalur panjang.

Panjang jalur tracking pendek kurang lebih 2,2 km dan dapat ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam. Jalur ini melewati aliran anak sungai yang di sekitarnya berdiri tegakan tusam atau bahasa latinnya Pinus merkusii  yang ditanam tahun 1930-an dan tahun 1960-1970-an. Pada tegakan tusam ini dapat ditemui model penyadapan getah dari batang sebagai bahan baku terpentin dan gondorukem.

Di samping itu, pada jalur ini juga dapat ditemukan bekas aktivitas peninggalan Jepang antara lain 7 buah tungku bakaran dari batu, 2 buah sumur, bekas tapak bangunan, jalan lori atau kendaraan dan jalan yang membelah bukit kecil dengan ketinggian 6-7 m dan lebar ±2 m sepanjang 100 m. Kriteria pengunjung pada jalur tracking ini adalah semua umur, karena relatif mudah ditempuh.

Pada jalur tracking sedang, panjang track kurang lebih 4 km dan dapat ditempuh 2-3 jam. Selain dapat menjumpai objek seperti yang dijumpai pada jalur tracking pendek, pada jalur tracking sedang ini dapat dijumpai berbagai hal menarik lainnya seperti tanaman hias ”kantung semar”, berbagai jenis bunga anggrek hutan, hutan dengan dominasi kayu sulim (Leptospermum flavescens), panorama Danau Toba dengan view terbatas yang dilengkapi shelter. Karena jalur track yang relatif sulit untuk ditempuh, kriteria pengunjung yang dianjurkan pada jalur ini adalah minimal usia siswa SMP.

Jalur tracking jauh memiliki panjang kurang lebih 6,41 km dan dapat ditempuh dalam waktu 3 sampai 4 jam. Banyak objek menarik yang dapat dijumpai pada track ini, disamping keragaman jenis tumbuhan dan berbagai hal yang dapat dijumpai seperti pada track sebelumnya, pada jalur ini panorama Danau Toba dapat dinikmati dengan view yang lebih luas. Karena jalur track relatif lebih sulit ditempuh, kriteria pengunjung yang dianjurkan pada jalur track ini adalah minimal usia siswa SMA.

Ayo ke Aek Nauli....

Penulis:

Wendra S. Manik

Teknisi Litkayasa Penyelia pada BP2LHK Aek Nauli

manikwendra@gmail.com

 

Editor:

Alharis Muslim dan Risda Hutagalung

Pengelola Website