Dientry oleh Risda Hutagalung - 17 July, 2019 - 245 klik
BRG Bakal Adopsi Model Agrosilvofishery BP2LHK Palembang dalam Skala Luas

BP2LHK Palembang (Palembang, Juli 2019)_ Model agrosilvofishery restorasi gambut yang diterapkan Balai Litbang LHK (BP2LHK) Palembang di plot pilot model restorasi, dalam waktu dekat akan diadopsi dalam skala luas oleh Badan Restorasi Gambut (BRG). Hal ini disampaikan Kepala Deputi Penelitian dan Pengembangan - BRG, Harris Gunawan dalam diskusi Pengembangan Plot Show Window Model Restorasi Berbasis KHG di Ruang Rapat Tembesu, BP2LHK Palembang, Rabu (26/6/2019).

Harris mengungkapkan, plot agrosilvofishery yang terletak di Kelurahan Kedaton, Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) ini telah ditetapkan BRG sebagai salah satu show window keberhasilan restorasi gambut di Sumsel. Plot ini memberikan pembelajaran tentang potensi pengembangan paludikultur dan perikanan rawa.

“Suatu kebanggaan bagi kita, apabila kita bisa memberikan bukti keberhasilan restorasi gambut kepada negara lain. Bisa jadi, plot agrosilvofishery ini terobosan satu-satunya di dunia, dan kita akan mematahkan anggapan negara lain yang menganggap kita sebagai negara pengekspor asap, ini terkait dengan harga diri dan ketersinggungan kita sebagai bangsa,” kata Harris.

Terkait ekstensifikasi plot agrosilvofishery, Harris mengatakan pihaknya sudah melakukan observasi lebih lanjut, dan melihat adanya potensi pengembangan lebih luas dengan perlunya meningkatkan partisipasi masyarakat pemilik.

“300 ha lahan yang terbengkalai karena tidak produktivitasnya padi di Kabupaten OKI sudah kita bidik,” jelasnya.

Menyambut baik rencana BRG tersebut, Bastoni, peneliti BP2LHK Palembang mengatakan, model agrosilvofishery yang dikembangkan ini memang diwujudkan untuk memberikan ruang kolaborasi antar sektor, sehingga membuahkan hasil yang terintegrasi.

“Saat ini, Balitbang LHK Palembang sudah menjalin kerja sama dengan Pusat Litbang Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan telah menginisiasi kerja sama dengan Pusat Litbang Karet dan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi,” kata Bastoni.

Bastoni optimis, dengan sinergi keempat instansi ini, tujuan dari restorasi gambut akan cepat tercapai. Bukan hanya dapat mencegah kebakaran tetapi juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat kedepan.

“Hasil di lapangan menunjukkan tinggi muka air tanah sudah sesuai dengan amanat PP. 57 tahun 2016, yang membatasi peluang terjadinya kebakaran. Praktek paludikulturnya memberikan hasil yang memuaskan. Dari 12 jenis hortikultura yang dicobakan di plot ini, 6 jenis berhasil dibudidayakan, antara lain kangkung, cabe keriting, tomat ceri, jagung manis, ketimun dan daun bawang. Ditambah lagi dengan hasil budidaya perikanan yang menjanjikan, serta luasan tutupan vegetasi yang semakin bertambah,” jelasnya.

Kepada tim BRG, Bastoni mengungkapkan bahwa budidaya dengan pola agrosilvofishery di demplot ini telah menerapkan prinsip-prinsip paludikultur dengan memanfaatkan   fluktuasi tinggi muka air tanah musiman.

“Artinya saat genangan surut di awal musim kemarau, petani dapat memanfaatkannya untuk budidaya tanaman hortikultura, namun saat genangan air tinggi, areal tersebut mampu memerangkap ikan alam yang bermigrasi dari danau Teloko. Selain itu, petani juga dapat memanfaatkannya untuk budidaya padi,” kata Bastoni.***FA