Dientry oleh Risda Hutagalung - 05 July, 2019 - 276 klik
Mengenal Profesor BLI yang Jago Melukis: Profesor CAS

Oleh: Bugi Sumirat - Peneliti P3SEKPI

Orang biasa memanggilnya Pak CAS atau Prof. CAS. Pak CAS yang bernama lengkap Chairil Anwar Siregar adalah profesor bidang Hidrologi dan Konservasi Tanah di Badan Litbang dan Inovasi (BLI), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Prof. CAS, pria kelahiran Medan, Sumatera Utara ini menamatkan SMA-nya di Medan dan baru hijrah ke Bogor saat memasuki dunia kampus sebagai mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1977. Ini berlanjut dengan diterimanya beliau sebagai peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan di Bogor hingga saat ini. Pendidikan pasca sarjananya, S2 dan S3 dihabiskan di Amerika Serikat, tepatnya di Mississippi State University, Mississippi, USA. 

Di luar keseriusannya menggeluti pekerjaannya sebagai peneliti, Pak CAS, yang meraih gelar profesornya tahun 2012 ini ternyata memiliki hobi yang menarik dan bermanfaat, yaitu melukis. 

Hobinya ini telah membawanya duduk pada jajaran pelukis papan atas. Hal ini terbukti dari dilibatkannya beliau pada beberapa pameran lukisan berskala nasional di Jakarta, diantaranya: Pameran bersama ”Nuansa Warna” yang diadakan di Crowne Plaza Hotel, Jakarta, 2004; Pameran bersama ”Indonesia Jelita untuk Kemanusiaan” di Crowne Plaza Hotel, Jakarta, 2006, dan pada tahun 2008 Pameran bersama ”Ekspresi Keagungan Ilahi”  yang diadakan bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan di tempat yang sama, Crowne Plaza Hotel. 

Prof. CAS, yang juga menggemari seni baca Quran, berpandangan bahwa setiap manusia sangat penting 'merawat' hobi yang dimilikinya. Dari pengalamannya, hobi itu sangat bermanfaat dalam menunjang pekerjaannya selaku peneliti karena 'dapat menjaga sensitivitas'. Yang dimaksudkannya sebagai sensitivitas di sini adalah bahwa hobinya melukis, mengajarkannya untuk memperhatikan unsur keseimbangan. Faktor keseimbangan sangat memengaruhinya dalam melaksanakan kegiatan serta proses pengambilan keputusan (decision making process). 

Bila kita memasuki ruang kerjanya yang cukup besar dan nyaman, kita akan disuguhi pemandangan indah dari jejeran lukisan hasil karyanya yang dinikmati bersama wangi aromaterapi yang sering digunakannya. Banyak pula lukisan karyanya yang telah berpindah tangan, dijual dengan harga yang lumayan bagus, karena banyak yang menyukainya. 

Saya sendiri, sangat tertarik dengan lukisannya yang menggambarkan kehidupan si Otan, boneka orang utan yang sering saya gunakan saat mendongeng, yang memang kehidupannya di alam ini semakin terancam. Untuk karya lukis si Otan ini, Pak CAS, yang gemar melukis dengan genre lansekap ini memberi judul: Hutanmu, rumahku juga. Sebuah judul yang sangat tepat sekali. Sorot matanya dalam lukisan tersebut mata yang sendu, seolah-olah minta belas kasihan manusia untuk mau berbagi kehidupan dengannya, "saya sangat kecewa karena hutan, rumah kami semakin sedikit, kehidupan kami semakin sulit, tolonglah kami..." 

Pak CAS, yang telah melukis sejak SMP ini memimpikan memiliki galeri lukisan di saat pensiun nanti. "Biar saya lebih bisa menggiatkan lagi dunia lukis-melukis ini di masa pensiun saya kelak, begitu keinginannya yang diucapkan dengan bersemangat. 

Iapun berpesan kepada para peneliti juniornya, agar dapat memelihara hobi yang dimiliki karena akan sangat bermanfaat, terutama untuk menjaga 'keseimbangan' di dalam tubuhnya, antara mind, body and soul (pikiran, badan dan jiwa). 

"Hal tersebut akan memacu semangat kita dalam bekerja," tambahnya ketika mencontohkan bahwa ia termasuk yang sangat menjunjung tinggi semangat kerja… kerja… dan kerja. Seperti katanya, sejak dulu, ia terbiasa datang ke kantor sangat awal. Biasanya melakukan olah raga pagi terlebih dahulu dengan berkeliling kantor bersama grup jalan paginya, dan pulang kantor sangat sore, bisa hingga pukul 18.00 WIB setiap harinya.    

Walau tidak seproduktif dulu dikarenakan banyaknya kesibukan di kantor, Prof. CAS tetap meluangkan waktunya untuk melukis sesempatnya. Di sela-sela kesibukannya bekerja, tetap menyalurkan hobi ternyata berdampak sangat positif bagi kinerjanya. Sebuah contoh yang baik untuk kita semua, khususnya rimbawan lingkup BLI.*