Dientry oleh Risda Hutagalung - 04 July, 2019 - 379 klik
Upaya Penyelamatan Siamang dan Primata Lain di KHDTK Aek Nauli

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, Juni 2019)_Menurut peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli, upaya konservasi siamang dan jenis famili Hylobatidae lainnya sudah saatnya menjadi prioritas secara nasional, seperti halnya satwa lainnya seperti orangutan, gajah, harimau dan badak. 

Hal ini penting mengingat, saat ini siamang termasuk jenis satwa langka yang terancam kelestariannya. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan juga Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018, siamang ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi. 

“Dalam konsep konservasi modern, program konservasi yang dilakukan bukan hanya sebatas perlindungan habitat dan populasi, akan tetapi peningkatan pemanfaatan secara lestari untuk membantu pengembangan ekonomi masyarakat dan daerah, seperti melalui pengembangan ekowisata siamang,” kata Wanda Kuswanda, S.Hut, M.Sc, peneliti BP2LHK Aek Nauli. 

Lebih lanjut Wanda mengatakan, salah satu program konservasi siamang yang memadukan konsep penyelamatan dan pemanfaatakn secara lestari dilakukan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli. KHDTK Aek Nauli yang berfungsi sebagai wilayah tangkapan air bagi kawasan di bawahnya termasuk kawasan wisata Danau Toba, juga merupakan salah satu habitat dari siamang. Selain itu ada juga jenis primata lain seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis Raffles, 1821), beruk (Macaca nemestrina Linnaeus, 1766) dan simpai (Presbytis sp.). 

Menurut pengamatan peneliti lainnya di BP2LHK Aek Nauli, Sriyanti Puspita Barus, S.Hut, MP, populasi monyet ekor panjang dan beruk di sekitar KHDTK Aek Nauli kemungkinan sudah melebihi daya dukung habitat (over populasi). Hal ini terlihat dengan banyaknya monyet ekor panjang dan beruk yang ditemukan di sekitar jalan raya menuju ke Parapat untuk mencari makanan. 

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pada tahun 2019 Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli mulai melakukan kegiatan penanaman 1.000 batang pohon pakan primata, seperti jenis jambu-jambuan, alpukat dan mayang. 

“Tahun depan jumlah pohon pakan direncanakan akan terus ditambah, sehingga ketersediaan pakan alami di hutan dapat tercukupi. Jadi yang kami tanam adalah tanaman buah-buahan antara lain jambu, alpukat, matoa, durian, dan cempedak. Sedangkan sementara ini untuk menarik kembali siamang dan primata lainnya ke kawasan KHDTK maka secara rutin mereka diberi makan tambahan, seperti pisang, jagung dan umbi-umbian,” papar Sri. 

Lebih lanjut Sri menyampaikan bahwa kegiatan lain yang dilakukan adalah dengan menjadikan lokasi berkumpulnya siamang, monyet, dan beruk di KHDTK Aek Nauli tersebut sebagai lokasi wisata ilmiah. Salah satunya adalah dibuatnya Taman Wisata Kera atau yang dikenal dengan nama Monkey Forest Sibaganding yang merupakan salah satu objek wisata alam yang dikelola oleh BP2LHK Aek Nauli. 

Taman Wisata Kera merupakan habitat dari berbagai jenis primata seperti siamang, beruk dan monyet ekor panjang. Di area ini pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan siamang, beruk dan kawanan monyet liar. Siamang merupakan primata yang menjadi ikon di Taman Wisata Kera ini. Taman wisata ini pada tahun 2019 juga akan dilaksanakan revitalisasi agar wisata ilmiah di Taman Wisata Kera dapat berkembang kembali. Taman Wisata Kera sebagai suatu peluang wisata yang menarik, yang nantinya jika dikembangkan akan menjadi lokasi wisata baru untuk mendukung pariwisata Danau Toba sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). 

“Harapannya, dua kegiatan yang dilakukan akan bermanfaat signifikan terhadap keberadaan primata yang ada di KHDTK Aek Nauli. Penanaman pohon pakan akan  membuat siamang, beruk, dan monyet yang mencari makan di jalan akan berkurang dan kembali ke hutan. Selain itu wisata ilmiah yang dilaksanakan bisa meningkatkan pengetahuan dan menimbulkan kesadaran bagi masyarakat khususnya pengunjung akan pentingnya perlindungan terhadap satwaliar dan juga hutan,” pungkas Sri. 

Siamang (Symphalangus syndactylus Raffles, 1821) merupakan salah satu jenis satwaliar dari kelompok primata yang merupakan satwa endemik Pulau Sumatera. Di Indonesia sebaran siamang hanya terdapat di Pulau Sumatera. Siamang adalah kera hitam tidak berekor, memiliki lengan panjang dan hidup di atas pepohonan. Tubuhnya ditutupi oleh rambut yang panjang dan semuanya berwarna hitam, kecuali di sekitar mulut dan dagu berwarna lebih muda.***