Dientry oleh Dyah Puspasari - 19 June, 2019 - 331 klik
Indonesia Serukan Aksi Konkrit Konservasi Lahan Gambut Tropis di Asia Pasifik

BLI (Incheon-Korea, Juni 2019)_Indonesia dalam pertemuan Asia Pacific Forestry Commission (APFC) ke-28 Food and Agriculture Organization (FAO) of the United Nations di Incheon (18/6), kembali menyerukan pentingnya konservasi ekosistem gambut tropis. Indonesia mengajak negara-negara, para pihak dan inisiatif khususnya di Asia Pasifik untuk mensinergikan sumber daya yang dimiliki untuk melakukan aksi konkrit menyelamatkan ekosistem gambut yang tersisa, dan melakukan pengelolaan gambut berkelanjutan.

Konservasi gambut tropis adalah isu strategis. Meskipun luasnya hanya mencakup 3% dari luas daratan dunia, namun lahan gambut tropis ditemukan di 80 negara, dan mengandung 30-40% karbon daratan serta 10% dari sumber daya air yang tersedia di dunia. Ini menunjukkan bahwa ekosistem gambut merupakan salah satu komponen kunci untuk memitigasi perubahan iklim, dan krusial untuk diselamatkan dari destruksi dan degradasi.

“Mengelola lahan hutan ditengah-tengah kompleksitas kepentingan adalah tidak mudah, menuntut curahan energi luar biasa dan kerja terus menerus. Situasi tarik ulur kepentingan antara kepentingan konservasi dan kepentingan ekonomi membutuhkan sandaran ilmu pengetahuan, menggugah cara-cara pikir baru untuk mengejar kesejahteraan,” tegas Dr. Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), dalam diskusi Stream 5 Innovating Governance and Institution, pada rangkaian pertemuan penting Asia Pasifik dua tahunan tersebut.

Pada diskusi tersebut, Indonesia mengkontestasikan “corrective area” pengelolaan hutan, dengan judul Encouraging Global Tropical Peatlands Knowledge Negotiation/Sharing. “Dengan semangat dan gerak cepat tersebut, akhirnya kebakaran hutan yang terjadi luar biasa di tahun 2015, tidak lagi terjadi di tahun-tahun berikutnya,” lanjut Siti.

Menteri Korea Forest Service (KFS) dalam kesempatan pembukaan, menyambut sangat baik dan mengapresiasi langkah-langkah yang ditempuh Indonesia. Ia juga menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya atas leadership Menteri LHK, Siti Nurbaya, sehingga gerakan perbaikan cepat dapat terus diarusutamakan. Tindakan-tindakan tegas Pemerintah Indonesia terhadap kejahatan lingkungan hidup dan kehutanan memberikan dampak signifikan yang patut diperhitungkan dan diapresiasi ditingkat internasional. Pemerintah Korea melalui KFS menyatakan siap bekerja bersama dengan Indonesia dalam mengkonservasi lahan gambut tropis.

Dunia telah mengakui keberhasilan Indonesia dalam mengelola lahan gambut tropisnya. Pusat belajar gambut tropis (International Tropical Peatlands Center/ITPC) telah dideklarasikan 30 Oktober 2018 di Jakarta, oleh negara pemilik lahan gambut terbesar dunia, yaitu Indonesia, Republik Kongo, dan Republik Demokratik Kongo. Selain itu, resolusi  Konservasi Konservasi dan Pengelolaan Lahan Gambut Secara Lestari yang diusung Indonesia juga telah ditetapkan sebagai resolusi Badan Lingkungan PBB dalam sidang UNEA-4 Maret 2019 lalu.

Tantangan ke depan adalah bagaimana mengumpulkan energi dan sumber daya yang dimiliki negara-negara dan para pihak, khususnya di Asia Pasifik, menjadi kekuatan yang luar biasa. Indonesia tidak dapat secara sendirian menopang lingkungan global. Keberadaan dan eksistensi ITPC kiranya dapat menjadi rumah bagi para pecinta, pemerhati, dan segenap aktifis gambut sedunia.

Dalam forum dua tahunan FAO)Regional Asia-Pasifik yang bertema Forest for Peace and Well-Being ini, delegasi Indonesia terdiri atas Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) KLHK yang juga sebagai ketua delegasi, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (PPI), Tim Badan Litbang dan Inovasi (BLI), Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL), Sekretariat Jenderal dan beberapa staf ahli menteri KLHK.*(YS)