Dientry oleh Dyah Puspasari - 01 April, 2019 - 571 klik
Pesisir Jakarta Butuh Mangrove Greenbelt Lebih dari 115 meter

BLI (Bogor, Maret 2019)_Pesisir utara Jakarta, membutuhkan sabuk hijau (greenbelt) mangrove dengan lebar lebih dari 115 meter untuk mengurangi intrusi air laut, berdasarkan garis optimal pantai. Demikian menurut riset Hilmi dkk yang dirilis dalam Indonesian Journal of Forestry Research Vol. 4, No. 2, 2017, Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi (BLI).  

“Terdapat korelasi yang kuat antara intrusi air laut dengan lebar greenbelt mangrove di kawasan pesisir utara Jakarta,” jelas Dr. Endang Hilmi, peneliti kajian ini, yang juga merupakan Kepala Pusat Mitigasi Bencana Universitas Jenderal Soedirman. 

Dalam penelitian yang dilakukannya di kawasan pesisir dari ekosistem muara sungai Angke, Ciliwung, dan Cisadane, serta Samudera Jawa Utara ini, diketahui bahwa keberadaan mangrove diprediksi mampu menurunkan laju intrusi menjadi 0,2 km/tahun. Kondisi ini lebih rendah dari laju intrusi dengan tanpa ekosistem mangrove, yakni sebesar 0,3-0,4 km/tahun. Ini menegaskan bahwa keberadaan ekosistem mangrove sangat penting bagi pesisir utara Jakarta.

Baca jurnal: Correlation Analysis Between Seawater Intrusion and Mangrove Greenbelt

“Simulasi intrusi air laut ini  menggunakan permintaan air tawar untuk industri, pemukiman, masyarakat, pasang air laut, genangan air, debit sungai, kapasitas air tawar, topografi, intensitas hujan dan kepadatan bakau sebagai elemen dari model,” lanjutnya.

Untuk mendukung suksesnya rehabilitasi mangrove di Jakarta, sistem lingkungan mangrove yang kompleks dan dinamis harus menjadi perhatian. Jenis yang dipilih harus berdasarkan dominasi terbaik di wilayah Jakarta, karena jenis-jenis tersebut memiliki kemungkinan terbaik untuk bertahan hidup dan kepadatan untuk mendukung keberhasilan rehabilitasi mangrove. Jenis-jenis yang direkomendasikan dalam riset ini adalah Avicennia marina, Avicennia alba, Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba dan Sonneratia caseolaris.

Intrusi air laut merupakan masalah besar di Jakarta Utara. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Degradasi dan deforestasi ekosistem mangrove adalah faktor kunci. Bersama dengan faktor lain seperti pemompaan air tawar untuk pemukiman, industri dan hotel, secara terintegrasi telah menyebabkan peningkatan intrusi air laut di Jakarta.  

Selain model intrusi, Hilmi dkk juga melakukan simulasi salinitas air tawar di Jakarta. Dalam kurun waktu 10 tahun, diperkirakan salinitas air tawar meningkat dari 1,92 ppt menjadi 4,86 ​​ppt.  Peningkatan ini diketahui berkorelasi signifikan antara degradasi mangrove dan pemompaan air tawar.  

Faktanya, luas hutan mangrove di pesisir utara Jakarta memang terus berkurang. Konversi ekosistem mangrove di Jakarta merupakan faktor pemicunya. Data citra satelit dari Hilmi dkk memperlihatkan luas mangrove di kawasan tersebut telah berkurang 1.000 ha atau rata-rata 27,8 ha/tahun, dalam kurun waktu 1980-2016. 

Pemulihan ekosistem mangrove Jakarta dapat dilakukan berdasarkan regenerasi alami. Ini karena pada dasarnya ekosistem mangrove di Jakarta akan melakukan proses suksesi, karena memiliki 2.000-40.000 individu / ha (bibit) dan 400 - 1.663 individu / ha (anakan).

Untuk mensukseskan proses suksesi itu, keberadaan bibit dan anakan vegetasi mangrove harus dilestarikan sebagai proses dinamika ekosistem mangrove untuk mencapai vegetasi klimaks. Ini merupakan tantangan, karena vegetasi mangrove membutuhkan waktu lama untuk regenerasi dan pulih untuk mencapai fase pohon.

Baca juga: Wariskan Semangat Konservasi, Peneliti KLHK Susun Kurikulum PLH Tematik Mangrove

Untuk penelitian selanjutnya, selain faktor kemampuan vegetasi dan lebar greenbelt mangrove, Hilmi dkk merekomendasikan untuk memasukkan zona mangrove sebagai faktor penting untuk mengurangi gelombang laut tinggi, banjir air laut, dan abrasi.*(DP)

 

Informasi lebih lanjut:
Dr. Endang Hilmi
Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Jenderal Sudirman
Jl. Dr. Soeparno, Komplek GOR Soesilo Soedarman Purwokerto
e-mail: dr.endanghilmi@gmail.com 

About IJFR:

Indonesian Journal of Forestry Research (IJFR) was first published as Journal of Forestry Research (JFR) on November 2004 (ISSN 0216-0919). The last issue of JFR was Volume 10 Number 2 published on December 2013. The Journal of Forestry Research has been accredited by the Indonesian Institute of Sciences since 2008. The last accreditation was on June 2016 (accreditation number: 754/AU3/P2MI-LIPI/08/2016) which will be valid until June 2021. IJFR will be issued in one volume every year including two issues which will be delivered every April and October.

More information IJFR, click here