Dientry oleh Master Administrator - 15 March, 2019 - 550 klik
Kepala BLI Paparkan Arah Litbang Indonesia dalam Forum Iptek PBB

BLI (Nairobi, Maret 2019)_Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi (BLI) Kementerian LHK, Dr. Agus Justianto, menjadi salah satu panelis dalam Forum Iptek, Kebijakan dan Bisnis (UN Science Policy Business Forum on the Environment, UN-SPBF), Nairobi, Kenya, 8-10 Maret 2019. Forum ini adalah sesi global kedua (Second Global Session) yang diselenggarakan oleh Badan PBB untuk Urusan Lingkungan (UN Environment), menjelang pertemuan utama ke-empat Badan PBB untuk Urusan Lingkungan (UN Environment-4).

Mewakili pemerintah Indonesia, Agus memaparkan arah kebijakan penelitian dan pengembangan (litbang) Indonesia yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Untuk jangka waktu lima tahun ke depan, Bangsa Indonesia telah menentukan arah yakni menciptakan lingkungan inovasi dengan pembangunan kolaborasi triple-helix, pengembangan paten dan hak kekayaan intelektual, penguatan science techno park, dan pembinaan industri berbasis iptek.

Selain itu, Pemerintah Indonesia juga mempunyai program untuk mengembangkan kapasitas dan kuantitas peneliti untuk memperkuat pusat unggulan iptek dan kerjasama riset regional dan internasional serta pencarian sumber dana penelitian alternatif. Pemerintah Indonesia juga mengembangkan kegiatan multi-disiplin terutama untuk mengantisipasi bencana alam dan pemulihan pasca-bencana. Ini diprioritaskan terutama pada bidang kesehatan, obat-obatan, keamanan sistem jaringan online, eksplorasi energi alternatif, energi nuklir, keamanan nasional dan keantariksaan.

Pada tahun 2019, fokus utama sesi global forum ini adalah pemberdayaan ilmu pengetahuan, inovasi dan kewirausahaan yang berwawasan lingkungan. Tema utama yang dibahas adalah optimalisasi iptek untuk membentuk kebijakan berwawasan lingkungan dengan memperhatikan respon pasar, pembentukan platform digital global, dan perubahan wacana solusi yang cerdas dan lebih ramah lingkungan untuk pembangunan kota. Selain itu, tema utama yang dibahas adalah solusi inovatif untuk menjawab tantangan perubahan iklim dalam perspektif aktor pelaku keuangan, pasar internasional dan pelaku bisnis swasta serta tema peningkatan makanan sehat untuk produksi yang berkelanjutan.

Dalam forum ini, tampil panelis dari berbagai lembaga dan tokoh. Mulai dari lembaga ilmiah, tokoh pemenang nobel, seniman, menteri, anggota parlemen, pelaku bisnis, kepala entitas PBB, perwakilan masyarakat sipil dan wartawan dari media masa terkemuka. Tujuan forum tersebut adalah memformulasikan pembangunan berkelanjutan berdasarkan iptek melalui penetapan kebijakan yang tepat untuk membantu pengembangan bisnis.

Forum yang dirancang untuk mengintegrasikan dinamika iptek, kebijakan, bisnis, dan masyarakat ini diinisiasi oleh UN Environment, sejak Desember 2017. Salah satu upaya yang harus dilakukan forum adalah mempromosikan peluang investasi hijau berwawasan lingkungan yang didukung oleh iptek, pemberdayaan kebijakan pemerintah, dan pendanaan yang inovatif. Selain itu, juga mempromosikan penguatan peran iptek untuk menciptakan kondisi yang mendukung pemberdayaan teknologi berwawasan lingkungan. Oleh karenanya keberadaan UN-SPBF ini diharapkan dapat berfungsi sebagai akselerator dan inkubator inovasi yang mengarah pada pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.

Sains, Teknologi dan Inovasi

Tidak ada keraguan bahwa STI menyediakan sarana bagi wirausahawan untuk berinovasi dan tumbuh melalui penerapan produk dan layanan berbasis ilmiah. Para wirausahawan, menurut Agus, dapat mengantisipasi dan mengelola risiko sehingga bisnis dapat bertahan terhadap volatilitas harga, gangguan rantai pasokan, dan risiko keberlanjutan bisnis.

“Terdapat dua keuntungan utama dari menggabungkan Sains, Teknologi dan Inovasi (STI) untuk bisnis menuju manajemen sumber daya berkelanjutan, yaitu keuntungan finansial dan bertambah tingginya reputasi,” jelasnya.

Dengan menerapkan manajemen sumber daya berkelanjutan, bisnis akan dapat secara signifikan meningkatkan pemahaman mereka tentang bahan apa yang mereka beli dan bagaimana mereka membelinya. Penghematan efisiensi sumber daya yang tersedia untuk bisnis, berasal dari penggunaan bahan baku yang lebih cerdas dan kegiatan minimalisasi limbah dapat meningkatkan profitabilitas dan memberikan keuntungan finansial bagi wirausaha.

“Di era digital, penggabungan STI juga mampu menjadi alat bagi pengusaha dan pemula untuk berinovasi dan tumbuh melalui akses ke platform digital untuk penelitian, pengembangan, pemasaran, penjualan dan distribusi. Namun, konsumen kini lebih sadar akan lingkungan. Konsumen mempertimbangkan dampak perusahaan terhadap lingkungan dalam mempertimbangkan di mana membeli barang dan jasa dan lebih cenderung membeli dari perusahaan yang mempraktikkan kebiasaan berkelanjutan. Itulah sebabnya kemampuan untuk melacak, memahami dan memverifikasi sumber etis dan lingkungan dari bahan semakin penting,” jelas Agus lebih lanjut.

Science Policy Business

“Kami ingin wirausahawan terlibat erat dengan proses pembuatan kebijakan untuk mempromosikan Science Policy Business (SCP),” jelas Agus. Bisnis dan industri adalah pemain kunci dalam agenda SCP.

Untuk memajukan SCP, masukan dari berbagai pemangku kepentingan di tingkat regional dan nasional akan sangat berguna bagi pembuat keputusan. Bersama-sama dengan pemerintah daerah, sektor swasta akan memberikan informasi tentang praktik saat ini dan mengembangkan rekomendasi tentang langkah ke depan, kemudian kebijakan siap diterapkan untuk mempertahankan penggunaan sumber daya dan untuk meningkatkan pengelolaan limbah dan kinerja utama industri.

Peran Global Resources Outlook dalam Kebijakan

“Penentuan kebijakan harus dilakukan berdasarkan pengetahuan yang sudah ada. Para pembuat kebijakan memerlukan data, informasi, analisis, pengetahuan, dan sains yang dapat diakses secara terbuka untuk memberi informasi dan panduan yang lebih baik tentang apa yang perlu dilakukan untuk mencapai keberlanjutan di semua dimensi lingkungan,” lanjut Agus.

Memilih kebijakan yang tepat untuk mengatasi masalah yang diberikan tidak mudah; analisis komprehensif yang didorong oleh data dan pemahaman yang kuat tentang insentif dan konteks politik tempat mereka beroperasi sangat penting untuk memilih kebijakan yang akan menciptakan pertumbuhan ekonomi jangka panjang tanpa mengorbankan kesehatan planet.

Agus menambahkan bahwa saat ini outlook sumber daya dunia (Global Resource Outlook) menyediakan data dan informasi tentang kekuatan demografi dan sosial ekonomi yang mendorong ekstraksi dan penggunaan sumber daya alam secara global. Hal ini juga memberikan penilaian tentang dampak lingkungan dan kesejahteraan serta pertimbangan distribusi dan intensitas dampak lingkungan dan kesehatan manusia yang dihasilkan dari perubahan keadaan lingkungan kita. Informasi ini adalah titik awal untuk pengambilan keputusan strategis bagi bisnis yang sukses dalam ekonomi berkelanjutan.

Di tingkat nasional, intervensi pemerintah dalam mengatasi masalah lingkungan sangat diperlukan dalam beberapa keadaan. Pemerintah memainkan peran penting dalam penciptaan konteks keseluruhan di mana pihak swasta beroperasi dan membuat keputusan terkait lingkungan. Global Resource Outlook harus dapat menawarkan rekomendasi kepada pembuat kebijakan, sektor swasta, dan masyarakat sipil yang dapat mendukung inovasi untuk tantangan lingkungan dan konsumsi dan produksi berkelanjutan.

Di tingkat internasional, kebijakan tersebut mencakup sejumlah masalah: perlindungan iklim, kebijakan energi berkelanjutan, pelestarian keanekaragaman hayati dan konservasi hutan, laut dan tanah. Perancangan kebijakan optimal, terlepas dari alat kebijakan mana yang dipilih, memerlukan penilaian komprehensif dari semua biaya dan manfaat sosial. Respons dalam Global Resource Outlook harus relevan bagi pembuat kebijakan di tingkat internasional.*(KS)

Informasi lebih lanjut:

Bagian Program dan Kerjasama
Sekretariat Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi, KLHK
Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor
Telephone/Fax 0251-8631238
Website: www.forda-mof.org