Dientry oleh Master Administrator - 13 March, 2019 - 2079 klik
Lima Inisiatif Indonesia dalam Pertemuan Lingkungan Sedunia

BLI (Nairobi, Maret 2019)_Indonesia mengusulkan lima inisiatif untuk diadopsi pada pertemuan lingkungan hidup sedunia (United Nations Environment Assembly ke -4, UNEA-4).  Inisiatif yang bernama rancangan resolusi (ranres) ini telah dinegosiasikan dalam forum Open-Ended Committee of Permanent Representatives (OECPR) ke-4 yang diselenggarakan oleh Badan PBB untuk Urusan Lingkungan, United Nations Environnment Programme (UNEP), Nairobi, 4-8 Maret 2019.

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Duta Besar Indonesia untuk Kenya, UNEP dan UN-Habitat, Soehardjono Sastromihardjo dan didukung oleh Staf Ahli Bidang Perdagangan Internasional, KLHK, Ir. Laksmi Dhewanthi, MA., dan Kepala Badan Litbang dan Inovasi, KLHK, Dr. Agus Justianto.

Rancangan resolusi pertama membahas pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan (sustainable consumption and production, SCP). Dalam ranres ini Indonesia ingin mendorong terbentuknya pusat-pusat pengembangan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan pada negara-negara anggota. Pusat-pusat ini akan menjadi knowledge platform untuk pengembangan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Resolusi ini telah disetujui dalam forum OECPR dan akan mendorong pencapaian target pembangunan berkelanjutan (SDGs) ke 12, yaitu konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (Responsible Consumption and Production).

Pengelolaan gambut secara lestari untuk mengatasi perubahan iklim (Sustainable Peatland Management to Tackle Climate Change), adalah ranres kedua yang diusulkan. Resolusi ini dimaksudkan untuk mendorong kerja sama internasional dalam konservasi dan restorasi lahan gambut di seluruh dunia. Saat ini, lahan gambut menjadi salah satu pilar penting dalam pencegahan perubahan iklim, karena lebih dari 180 negara memiliki lahan gambut, dan kemampuannya sebagai penyerap karbon menjadikan lahan gambut sebagai ekosistem yang perlu dilindungi.  

Pelestarian ekosistem mangrove menjadi fokus dalam pengusulan ranres ketiga yang diajukan oleh Indonesia. Hutan bakau memiliki peranan penting dalam menjaga garis pantai dari ancaman erosi dan tsunami, dan sebagai tempat konservasi keanekaragaman hayati yaitu menjadi tempat berlindung bagi ratusan spesies, mulai dari ikan hingga burung. Resolusi ini mendorong negara anggota untuk turut aktif berperan dalam konservasi mangrove dengan pencegahan konversi lahan mangrove, menghindari kerusakan ekosistem dengan mengurangi eksploitasi hutan mangrove secara berlebihan.  

Rancangan resolusi keempat yang diajukan adalah resolusi peningkatan kerja sama internasional dalam perlindungan lingkungan laut. Resolusi ini merupakan salah satu wujud dukungan nyata Indonesia dalam menindaklanjuti Deklarasi Bali tentang Perlindungan Lingkungan Laut dari Aktivitas Darat yang telah disepakati pada Oktober tahun lalu. Resolusi ini mengajak negara-negara anggota untuk bekerja sama mengembangkan Pusat Pengembangan Kapasitas Perlindungan Lingkungan Laut yang telah didirikan oleh pemerintah Indonesia di Bali.

Pengelolaan terumbu karang secara berkelanjutan adalah ranres kelima yang disampaikan Indonesia dalam pertemuan OECPR ini. Rancangan resolusi ini diawali dari keprihatinan dunia akan kerusakan terumbu karang. Saat ini, lebih dari setengah dari terumbu karang di dunia mengalami kerusakan, sehingga melalui Ranres ini, Indonesia berupaya meningkatkan kerja sama internasional dalam memperkuat Global Coral Reef Monitoring Network.

Dalam sidang OECPR, kelima rancangan resolusi tersebut bersama 35 rancangan resolusi lainnya telah didiskusikan dan dinegosiasikan dengan negara anggota lainnya. Kelima rancangan resolusi usulan Indonesia tersebut telah disetujui dalam forum OECPR, dan kelima rancangan resolusi tersebut diharapkan dapat dipaparkan dalam UNEA-4 dan diadopsi pada saat penutupan UNEA-4, 15 Maret 2019. Setelah ditetapkan menjadi resolusi dalam UNEA-4, kelima Ranres tersebut akan menjadi sumbangsih Bangsa Indonesia bagi pelestarian lingkungan secara global.*(K)

 

Informasi lebih lanjut:

Bagian Program dan Kerjasama
Sekretariat Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi, KLHK
Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor
Telephone/Fax 0251-7522638
Website: www.forda-mof.org