Dientry oleh Rizda Hutagalung - 27 February, 2019 - 2894 klik
KLHK Luncurkan Ulat Sutera Unggul Hibrid “SINAR”, Inovasi Terbaru BLI

BLI (Bogor, Februari 2019)_Di hadapan para petani sutera alam binaannya dan para undangan yang hadir, Selasa siang (26/02/2019) di Hutan Penelitian Dramaga, Bogor, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meluncurkan ulat sutera unggul hibrid terbaru. Ulat sutera unggul hibrid bernama “SINAR” yang adalah akronim nama Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar tersebut merupakan inovasi terbaru Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK, hasil pengembangan ulat sutera unggul hibrid PS-01, penemuan sebelumnya. 

“Dengan mengucapkan “bismillahirrahmanirrahiim”, bibit ulat sutera hybrid unggul inovasi baru “SINAR” resmi diluncurkan,” kata Kepala BLI, Dr. Agus Justianto mewakili Menteri LHK yang berhalangan hadir karena harus menghadiri rapat terbatas dengan Presiden RI. Peluncuran ini ditandai dengan pemberian paraf oleh para pejabat berwenang pada prasasti kain kokon berukuran A3 yang terbentuk dari 100 ekor ulat sutera hasil riset Puslitbang  Hutan yang dihamparkan.

Sebelumnya, saat membacakan sambutan Menteri LHK, Agus menyampaikan bahwa persuteraan alam merupakan komoditas yang memiliki prospek luar biasa untuk dikembangkan di Indonesia. Untuk itu, Kementerian LHK sebagai instansi yang berwenang dalam pengembangan persuteraan alam khususnya di sektor hulu telah melakukan program-program dan inovasi yang berhasil guna, tepat dan solutif dalam rangka mengatasi tantangan persuteraan alam nasional.

Baca juga: KPHP Boalemo Gorontalo Kembangkan Murbei dan Sutera Unggul BLI

“Salah satu yang melaksanakan penyediaan bibit ulat sutera berkualitas dan murbei unggul adalah Badan Litbang dan Inovasi melalui Puslitbang Hutan,” kata Agus.

Dalam hal ini, dijelaskan Agus, Puslitbang Hutan mencoba menjembatani ketersediaan bibit ulat sutera yang dapat dipelihara oleh masyarakat dengan menginisiasi pendirian pusat pembibitan ulat sutera di Kecamatan Kadudampit, Sukabumi, bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL), pihak pengusaha dan Kelompok Tani Sutera Alam setempat.

“Pendirian pusat pembibitan ini diharapkan dapat mengatasi masalah kelangkaan bibit/telur ulat sutera dengan hibrid yang lebih berkualitas dan tersedia secara kontinyu,” kata Agus yang berharap produksi kokon dan benang sutera yang semakin meningkat, baik kualitas maupun kuantitas mampu mencukupi kebutuhan sutera alam nasional ke depan.

Baca juga: Sosialisasikan Hibrid Ulat Sutera Unggul, Puslitbang Hutan Gelar Pelatihan bagi Peternak

Sebagai informasi, selain merupakan akronim dari nama Menteri LHK, inovasi terbaru ulat sutera ini diberi nama “SINAR” agar dapat menjadi sinar terang dan harapan bagi petani persuteraan alam Indonesia.

 

Dialog dengan Petani Sutera Alam

Harapan senada juga disampaikan Direktur Jenderal PSKL, Dr. Bambang Supriyanto saat berdialog dengan petani sutera alam binaan KLHK yang datang dari beberapa kecamatan di Sukabumi. Mengapresiasi petani dan peneliti, Bambang berharap, dengan inovasi yang dihasilkan para peneliti KLHK, petani dapat meningkatkan produksi sutera alamnya.

“Petani harus optimis, tingkatkan produksinya, ikuti bimbingan dari para pihak, hasilnya pasti akan lebih bagus,” kata Bambang optimis.

“Apresiasi juga saya sampaikan ke penelitinya, bu Lincah dan tim, yang bekerja luar biasa. Terima kasih kepada peneliti atas pengembangan murbei tahan hama yang berproduksi bagus dengan copy system yang bisa diambil terus menerus, juga telurnya yang produktif,” lanjut Bambang.   

Terkait perhutanan sosial untuk kesejahteraan rakyat, Bambang menyampaikan bahwa pemerintah akan terus memfasilitasi kebutuhan para petani sutera. Menurut Bambang, satu kunci untuk usaha komoditi perhutanan sosial berkelanjutan itu adalah pasar. Hal yang menggembirakan tentang usaha persuteraan alam di Indonesia ini adalah pasar yang masih sangat potensial.

“Pemerintah memberikan ijin kepada Bapak-Bapak petani di hutan sosial dalam jangka waktu 35 tahun, hektarannya cukup, kemudian ada bimbingan dari pendamping, baik penyuluh dan peneliti sebagai teknikal asisten untuk mengembangkan produktivitas. Kalau perlu standar-standar yang diinginkan pasar ditrainingkan ke petaninya,” kata Bambang kepada para petani yang sebelumnya bercerita tentang kendala yang mereka hadapi, diantaranya perlunya kandang yang layak dan keterbatasan lahan untuk menanam murbei.

Baca juga: Pemuliaan Murbei dan Bibit Ulat Sutera Alam, Upaya Pemenuhan Kebutuhan Sutera Alam Nasional

Terkait keterbatasan lahan yang dialami petani, Kepala BLI, Dr. Agus Justianto mengatakan, Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) bisa dimanfaatkan untuk pengembangan ulat sutera.

“Kami di Badan Litbang dan Inovasi punya KHDTK menurut saya sangat luas, nanti bisa kami instruksikan untuk menjadi pusat pengembangan ulat sutera. Mana yang memungkinkan, tolong difokuskan untuk pengembangan ulat sutera,” kata Agus.

Mengapresiasi capaian peneliti, Staf Ahli Menteri LHK Bidang Industri dan Perdagangan Internasional, Laksmi Dewanti yang turut hadir pada kesempatan tersebut menyampaikan terima kasih atas adanya acara tersebut. “Dari diskusi ini, kami menyerap banyak, mudah-mudahan sutera alam ini jadi komoditas unggulan kita,” kata Laksmi.

Bicara tentang hulu-hilir, menurut Laksmi banyak titik-titik rawannya. “Kami perlu diberi masukan lagi, pada simpul mana yang perlu diberi penguatan. Di perdagangan itu yang penting adalah harga, harga yang paling optimal itu sebenarnya di range berapa, karena itu bisa memperngaruhi kebijakan, baik kebijakan perdagangan maupun kebijakan insentif fiskalnya. Mungkin itu yang perlu dilihat di masing-masing skala,” jelas Laksmi.  

“Saya titip ke peneliti, tolong dicatatkan, aspek-aspek lain di luar aspek produksi dan aspek teknis lainnya, terutama tadi bicara pasar, aspek mana yang paling menentukan,” tambah Laksmi.   

 

Testimoni Para Petani tentang Ulat Sutera Unggul Hibrid PS-01, Inovasi Sebelumnya

Kepada para pejabat terkait dan para undangan yang hadir, Edi, salah satu petani sutera alam dari Sukabumi menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada pemerintah. “Setelah menggunakan ulat sutera unggul hibrid PS-01, hasil yang kami dapatkan saat ini sudah meningkat dari sebelumnya,” kata Edi.

Edi menjelaskan, saat ini rata-rata produksi sutera alam yang dihasilkan 38 kg/box, bahkan ada yang mencapai 43 kg/box.

“Bibit ulat sutera dari Litbang (BLI) sangat membantu kami. Sifat ulat sutera PS-01 ini menghasilkan banyak kokon karena rakus. Oleh karena itu kami harus menambah luas tanaman untuk menghasilkan daun murbei, makanannya,” tambah Edi.

Baca juga: Teknologi Budidaya Sutera BLI Sudah Dimanfaatkan Masyarakat

Senada dengan Andi, petani sutera alam lainnya, Andi mengatakan, sejak ada PS-01, produksi mereka sesama petani sutera di desanya meningkat. “Kami yakin, kalau lahan cukup, produksi akan terus meningkat. Untuk memelihara kebun murbei, mudah-mudahan ada bantuan,” kata Andi.

Kodiran, petani lainnya yang bertani ulat sutera sejak tahun 2013 mengatakan telah mendapat dana bantuan untuk penanaman. Dengan menggunakan ulat sutera hasil litbang dan bantuan teknis dari peneliti, sekarang produksi suteranya meningkat.

“Hanya saja, kendalanya dari dulu sampai sekarang adalah masalah kandang. Ulat sutera ini banyak hamanya seperti kadal, kodok dan tikus. Untuk itu, kami mengharapkan bantuan pemerintah untuk perbaikan dan pembuatan kandang, juga mohon dibantu untuk pelebaran lahan penanaman murbei,” kata Kodirin.***RH