Dientry oleh Muhamad Sahri Chair - 15 January, 2019 - 1259 klik
Kepala Badan Challenge Peneliti Rumuskan Inovasi

BLI (Serpong, Januari 2019)_Untuk menghasilkan inovasi yang sesuai dengan nomenklatur Badan Litbang dan Inovasi (BLI), di awal tahun 2019 ini, Kepala Badan, Dr. Agus Justianto memberikan challenge atau tantangan kepada seluruh jajaran lingkup BLI, khususnya para peneliti. Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya di acara pembahasan rencana kerja, penandatangan perjanjian kinerja tahun 2019 dan pembinaan tenaga fungsional peneliti, Serpong, 11/1.

Lebih lanjut Agus menyampaikan, BLI sebagai bagian dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) adalah satu-satunya unit kerja yang memiliki nomenklatur inovasi. Agus mempersilahkan peneliti untuk merumuskan atau mendefinisikan yang dimaksud inovasi itu seperti apa. “Peneliti harus dapat menjawab tantangan, untuk memikirkan apa langkah-langkah dan upaya-upaya BLI dalam melakukan inovasi,” tegas Agus.

Agus juga meminta peneliti untuk incharge dalam memberikan masukan kebijakan, karena visi dari BLI adalah menjadi Policy Think Tank bagi KLHK dalam menghasilkan kebijakan publik yang berkualitas. Menurutnya, hal tersebut dapat dicapai melalui pengembangan kebijakan yang didasarkan pada research base policy dan kebijakan yang dirumuskan pada evidence base policy.

Dalam menjalankan hal tersebut ada beberapa strategi, adalah dengan melakukan positioning terhadap BLI, lalu merumuskan strategi dan melakukan pembenahan manajemen. Agus menambahkan, peneliti dan manajemen harus bekerjasama dan bersinergi untuk menghasilkan kinerja yang terbaik. Oleh karena itu diperlukan re-orientasi penelitian, re-orientasi SDM peneliti dan re-orientasi sistem penelitian demi kemajuan Ilmu Pengetahuan di sektor KLHK terutama menghadapai era revolusi industry 4.0.

Diinformasikan, BLI sebagai sumberdaya KLHK mempunyai banyak peneliti. Jumlah peneliti BLI yang ada saat ini adalah 487 orang, terdiri dari calon peneliti sampai ke peneliti utama serta 10 profesor riset. Menurut Agus, dengan jumlah SDM terbanyak ke-dua di KLHK setelah Ditjen KSDAE, BLI harus mampu mengantisipasi perkembangan revolusi industry 4.0. Sebagai garda terdepan pengembangan IPTEK dan pengembangan inovasi sektor LHK, BLI harus dapat memberikan lompatan IPTEK dengan hasil penelitian yang konstruktif dan menjadi problem solver atas permasalahan yang ada.

Pada kegiatan pembinaan peneliti lingkup BLI tersebut, juga diberikan kesempatan kepada peneliti untuk menyampaikan kondisi dan permasalahan yang dihadapi oleh peneliti. Penyampaian permasalahan tersebut diwakilkan oleh masing-masing 1 orang peneliti dari Pusat Litbang dan Balai Litbang Teknologi Perbenihan Ciheleut, Kepala BLI dengan didampingi Ketua Dewan Riset menjawab dengan lugas setiap pertanyaan dari perwakilan peneliti tersebut.

Sementara itu, Sekretaris BLI, Dr. Ir. Sylvana Ratina, dalam laporannya menyampaikan bahwa jumlah peserta yang hadir pada acara ini berjumlah 250 orang, yang terdiri dari seluruh Kepala Pusat, Kepala Balai Besar, Kepala Balai dan pejabat struktural, serta peneliti lingkup BLI.

Menurut sylvana, kegiatan pembinaan peneliti ini akan menyuguhkan interaksi langsung antara Kepala Badan dengan peneliti. Peneliti diharapkan dapat menyampaikan hal-hal yang kira-kira dianggap perlu dilakukan dan apa yang perlu dilaksanakan bersama.

Untuk kepala Satker, Sylvana juga berpesan agar kepala satker membangun sinergitas yang baik dengan peneliti. Kedepannya, banyak tantangan serta dinamika mobilisasi yang luar biasa. Kita dituntut untuk selalu beradaptasi dengan perubahan,” tegas Sylvana.

Sebagai contoh, dinamika perubahan RPPI dan lainnya, yang sudah direncanakan, membuat kita harus selalu beradaptasi dengan setiap perubahan yang ada. “Kita dituntut untuk bergerak tepat, cepat dan benar dengan mengacu ketentuan yang ada,” pungkas Sylvana.*MSC