Dientry oleh Tuti - 03 March, 2016 - 940 klik
Aeroseeding tidak cocok untuk merehabilitasi lahan gambut

BPK Banjarbaru (Banjarbaru, 04/03/2016)_Berbagai teknik dilakukan untuk rehabilitasi lahan atau hutan rawa gambut. Salah satunya adalah dengan aeroseeding. Tetapi berdasarkan kajian dari Dewi Alimah, S.Hut., Peneliti dari Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Banjarbaru, mengungkapkan bahwa teknik ini tidak cocok untuk rehabilitasi rawa gambut.

Aeroseeding tidak cocok untuk lahan rawa gambut. Kegiatan aeroseeding tidak efisien karena memerlukan biaya operasional yang tinggi. Selain itu, secara teknis, tingkat keberhasilanya juga renah,”kata Dewi saat ditemuin dikantornya (Rabu, 02/03).

Aeroseeding merupakan metode penaburan benih yang dikemas bersama media berbentuk bola-bola dan ditabur dari udara menggunakan pesawat udara. Tujuan teknik aeroseeding ini adalah untuk mencapai daerah rehabilitasi yang sulit dijangkau karena medannya yang susah ataupun tidak bisa dilakukan dengan penanaman secara konvensional. Selain itu, teknik ini tidak membutuhkan waktu lama dalam penyebaran benih tersebut.

Teknik ini sudah lama dikembangkan di Amerika sejak 1987. Di Indonesia, teknik ini pertama kali diujicobakan di wilayah pegunungan Kabupaten Ngawi pada tahun 2006. Hasil monitoring sampai dengan tahun 2008, benih yang telah tersebar sudah mencapai ketinggian 1,5 – 2,5 meter dengan tingkat prosentase keberhasilan mencapai kurang lebih 50 – 60%.

Melihat keberhasilan ini, maka kegiatan dengan teknik aeroseeding kembali dilaksanakan pada bulan Nopember-Desember 2008 di Pegunungan Wilis. Selain itu, Menteri Kehutanan (pada waktu itu MS. Kaban) juga menganggarkan dana sebesar Rp. 100 miliar untuk membeli benih dan sewa pesawat dalam rangka memperluas metode aeroseeding diseluruh provinsi di Indonesia.

Namun demikian, keberhasilan tersebut tidak sama untuk berbagai jenis lahan. Untuk lahan rawa gambut, ternyata teknik ini kurang dan bahkan tidak cocok. Hal ini dibuktikan dengan uji coba di Hutan Kota Palangkaraya pada tahun 2011 yang dilakukan oleh Dewi Cs bekerjasama dengan Tim Pokja Kalteng.

Untuk mengkonfirmasi hasil tersebut, Dewi Cs melakukan uji coba lapangan di areal rawa gambut di Desa Tumbang Nusa, Kalimatan Tengah. Benih yang digunakan adalah Randu (Ceiba petandra), Jelutung (Dyrea polyphylla), Geronggang (Cratoxylon sp), dan Tanah-tanah (Combretocarpus rotundatus).

“Hasil evaluasi menunjukkan bahwa benih yang kami tabur di lapangan tidak ada yang tumbuh. Benih di lapangan dalam kondisi terendam air dan dimakan hama, meski media pembungkus sudah dicampur dengan insektisida,”kata Dewi.

Lebih lanjut, Dewi menyatakan bahwa hal ini kemungkinan disebabkan kondisi lingkungan yang tidak mendukung pertumbuhan benih. Selain itu, kemungkinan media pembungkus benih atau seedball pecah ketika bola-bola benih aeroseeding dilempar dari udara.

Selain itu, Dewi Cs juga telah melakukan uji coba di persemaian BPK Banjarbaru terhadap media pembungkus benih (seedball) aeroseeding. Media yang digunakan yaitu campuran media gambut, tanah liat, talk powder dengan kompos (untuk memberi nutrisi) dengan perbandingan masing-masing 1:1. Diameter seedball masing-masing adalah 1 cm, 2 cm dan 3 cm.

Adapun jenis yang diuji adalah benih Pulai rawa (Alstonia penumatophora) dan Randu (Ceiba petandra). Hasil percobaan membuktikan bahwa semakin lebar diameter seedball maka daya kecambah benih akan semakin berkurang dan kecepatan berkecambah juga semakin menurun.

“Benih–benih sulit berkecambah, pada sebagian yang berkecambah tidak mampu menembus seedball, hipokotil dan kotiledon tidak dapat berkembang,”ungkap Dewi. ***Pbs