Dientry oleh Rizda - 23 December, 2013 - 2102 klik
Kontribusi Kerjasama Hibah Luar Negeri bagi Renstra Badan Litbang Kehutanan

Rapat Kerjasama HLN-2013FORDA (Bogor, 20/12/2013)_Pada tahun 2013, Badan Litbang Kehutanan dipercaya melaksanakan 18 kerjasama hibah luar negeri (HLN), antara lain dengan FCPF, KIPCCF, TBI, IAFCP, ACIAR, ITTO, AUSAID, KOMATSU, UNEP/GEF, ITTO, KFRI, SUMITOMO, dan KOICA.

Untuk mengetahui perkembangan kerjasama hibah tersebut, Sekretariat Badan Litbang Kehutanan menyelenggarakan pertemuan yang membahas Kontribusi Kerjasama Hibah dalam Mendukung Pencapaian Renstra Badan Litbang Kehutanan 2010–2014 dan Masukan bagi Penyusunan Renstra 2015-2019 di Bogor, Kamis (19/12).

Pada pertemuan ini, masing-masing Koordinator Proyek HLN tersebut mempresentasikan materinya yang dibagi dalam 3 sesi presentasi dan diskusi.

Sekretaris Badan Litbang Kehutanan, Ir. Tri Joko Mulyono, MM dalam arahannya saat membuka pertemuan tersebut mengatakan bahwa dalam pemanfaatan hasil kerjasama, selama ini Badan Litbang telah mengupayakan agar hasil proyek dijadikan sebagai acuan maupun dasar dalam menyusun kebijakan dan pengambilan keputusan bagi Kementerian Kehutanan.

Hal tersebut sesuai dengan hakekat kerjasama hibah lingkup Badan Litbang Kehutanan yang dimaksudkan sebagai komplementer untuk mengisi gap dalam pencapaian IKU/IKK Kemenhut melalui Renstra Badan Litbang Kehutanan dengan 9 Program dan 25 Rencana Penelitian Integratif (RPI) yang ada di dalamnya.

“Kerjasama (hibah) apapun bentuknya dilaksanakan dalam rangka penguatan pencapaian visi dan misi Kementerian Kehutanan, yaitu 18 sasaran strategis, kalau di Litbang terhadap 25 RPI yang kita punya dari 9 Program yang sudah disepakati,” jelas Tri Joko.

“Jadi, apapun yang kita (saudara) terima, itu harus dipertanggungjawabkan dalam institusional,” kata Tri Joko kepada para Koordinator Proyek selaku penanggungjawab kegiatan.

Terkait itu, Ir. Sri Murniningtyas, M.Sc, Kepala Pusat Kerjasama Luar Negeri, Setjen Kemenhut salah satu narasumber menjelaskan Kebijakan Kerjasama Luar Negeri Kementerian Kehutanan melalui prinsip-prinsip kemitraan/kerjasama dan evaluasi proyek hibah LN lingkup Badan Litbang yang sedang berjalan.

“Semua proyek kemitraan harus mendukung Renstra Litbang dan dimaksudkan untuk dapat meningkatkan profil Litbang di forum-forum internasional. Untuk itu, kita harus berani mengatakan tidak pada tawaran hibah yang tidak mendukung program institusi kita,” tegas Murniningtyas.

Dengan demikian, hasil kerjasama dapat benar-benar berkontribusi bagi program litbang untuk mendukung pembangunan kehutanan. “Hasil evaluasi ITTO menyebutkan proyek-proyek hibah di Indonesia sangat bermanfaat dan benar-benar sangat dibutuhkan,” kata Murniningtyas.

Lebih lanjut Murniningtyas mengatakan bahwa kerjasama hibah di Badan Litbang sudah bagus, tapi harus terus ditingkatkan. Untuk meningkatkan kualitas tata kelola proyek hibah tersebut perlu dilakukan beberapa hal, seperti betul-betul me-review agreement, ikut serta dalam rancangan pengembangan proyek, aktif sebagai stakeholder di semua level, dan tetap berpedoman pada peraturan yang berlaku serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas manajemen keuangan.

“Badan Litbang dibanding eselon 1 lainnya, laporannya paling bagus. Saya lihat, bagi Litbang proyek-proyek kerjasama LN adalah challange bukan masalah, itu positive thinking. Selain itu Litbang sudah punya kapasitas untuk membuat proposal yang bagus seperti yang diinginkan oleh mitra,” kata Murniningtyas mengapresiasi Badan Litbang yang tetap dipercaya oleh mitra LN.

Senada dengan itu, narasumber lainnya, Ir. Dedy Haryadi, M.Sc, Kepala Bagian Evaluasi, Biro Perencanaan, Setjen Kemenhut menyebutkan bahwa kerjasama hibah LN di Badan Litbang Kehutanan saat ini merupakan yang terbanyak dibandingkan eselon 1 lain lingkup Kemenhut.

Dedy yang menyampaikan sekilas tentang Sosialisasi Permenhut P.19/2013 dan Peran Proyek Hibah dalam Pembangunan Kehutanan ini mengatakan Badan Litbang dipercaya dalam pengelolaan hibah LN karena semakin baik dalam hal kepatuhan pelaporan. “Ada 40 program proyek KLN di Kemenhut, 50%nya ada di Badan Litbang,” kata Dedy mengapresiasi.

Menyambut baik apresiasi dari para narasumber, Sekbadan Litbanghut, Tri Joko kembali mengajak para pelaksana kerjasama HLN untuk tetap berkontribusi bagi Renstra Badan Litbang sehingga bisa mendukung pembangunan kehutanan di Indonesia.

“Kita sebagai representasi Kementerian, sudah sejauh mana memberikan feedback kepada institusi Litbang dan Kementerian,” kata Tri Joko menutup pertemuan tersebut.

Setelah mengidentifikasi challenges dan advantages yang ada, pertemuan ini telah menghasilkan beberapa rekomendasi (manajemen dan program) dan rencana aksi (manajemen, strategi dan program).

Selain itu, beberapa pembelajaran dalam pengelolaan hibah juga dihasilkan dari pertemuan tersebut, yaitu:

  1. Communication: Menghindari adanya gap antara para pihak melalui komunikasi dan koordinasi yang intensif;
  2. Sustainability: Jaminan dan komitmen keberlanjutan output program kerjasama (IKK) untuk mencapai outcome dengan dukungan sumberdaya yang memadai ;
  3. Prinsip kerjasama: Program Kerjasama merupakan agenda bersama berdasarkan rasa saling percaya, saling respek serta manfaat bersama;
  4. Exit Strategy: Mempersiapkan Exit Strategy antisipasi berakhirnya periode kerjasama (BAST, pendanaan lanjutan dalam DIPA, kebijakan dan kelembagaan);
  5. Sense of ownership: Meningkatkan rasa memiliki terhadap program kerjasama

Pertemuan tersebut dihadiri lebih dari 40 orang peserta yang terdiri dari Koordinator Proyek Kerjasama Hibah lingkup Badan Litbang Kehutanan, Ketua dan Sekretaris Dewan Riset, kepala satker dan pejabat lingkup Badan Litbang yang menangani kerjasama, dan perwakilan eselon 1 lingkup Kemenhut. (RH)***

 

Materi:

Arahan Sekbadan

Sosialisasi Permenhut P.19/2013 dan Peran Proyek Hibah dalam Pembangunan Kehutanan (IKU/IKK)

Ringkasan Hasil Rapat

 

Foto-foto: Datinfo