Dientry oleh budi - 19 December, 2011 - 1574 klik
Kemenhut-JICA Jalin Kerjasama Proyek MECS

Kementerian Kehutanan c.q Direktorat Jenderal Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial (BPDASPS) dan Japan International Cooperation Agency (JICA) telah menandatangi kesepakatan kerjasama proyek yang berjudul the Project on Mangrove Ecosystem Conservation and Sustainable Use (MECS) in the ASEAN Region, pada bulan Maret 2011. Kerjasama yang akan berlangsung selama 3 tahun (s.d bulan Juni 2014) ini merupakan lanjutan dari rangkaian kerjasama yang telah dilakukan JICA dengan Kementerian Kehutanan. Kerjasama yang pertama dilakukan tahun 1991-1999 dengan Project yang berjudul Development of Sustainable Mangrove Management Project. Hasil dari project ini adalah manual silviculture, nursery, mangrove handbook, dan model pengelolaan mangrove yang berkelanjutan. Setelah itu kerjasama dilanjutkan dengan project Mangrove Information Center Project (MIC) semenjak bulan Mei 2001-Mei 2004 dengan perpanjangan selama 2 tahun (s.d Mei 2006). Output yang didapatkan melalui project ini adalah Gedung Mangrove Information Center yang berlokasi di Bali, didalamnya terdapat museum mangrove dan informasi mengenai ekosistem mangrove di Indonesia dan juga di seluruh dunia. Selain itu juga terdapat beberapa training program yang sampai saat ini masih dipergunakan untuk kepentingan peningkatan SDM di bidang konservasi hutan mangrove. Kerjasama tahap berikutnya dimulai dari Januari 2007 sampai dengan Januari 2010 dengan project berjudul Sub Sectoral program on Mangrove Project. Dari project ini dihasilkan panduan untuk pembentukan model area pengelolaan mangrove yang berkelanjutan.

Mangrove Ecosystem Conservation and Sustainable Use in the ASEAN Region adalah lanjutan dari rangkaian kerjasama sebelumnya, yang bertujuan untuk membentuk mekanisme share-learning, sebuah pembelajaran mengenai konservasi mangrove dan pemanfaatan yang berkelanjutan di negara-negara ASEAN. Mangrove adalah komunitas vegetasi/tumbuhan pantai tropis yang mampu menyesuaikan diri dan tumbuhan di daerah berlumpur atau daerah tergenang pasang-surut. Ekosistem mangrove menyediakan keanekaragaman hayati dan plasma nutfah yang menunjang sistem kehidupan disekitarnya. Manfaat ekosistem mangrove diantaranya adalah sebagai pelindung pantai dari bahaya abrasi, sebagai tempat memijah dan berkembang biaknya biota laut, dan sebagai tempat wisata, penelitian/pendidikan.

Indonesia memiliki luasan mangrove terbesar di Asia Tenggara yaitu 7,7 ha. Selama ini telah terdapat berbagai upaya dari pemerintah pusat dan daerah, masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, universitas dan pihak terkait lainnya untuk melestarikan ekosistem mangrove agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Demikian pula di negara-negara ASEAN, berbagai upaya telah dilakukan untuk melindungi dan memanfaatkan ekosistem mangrove secara berkelanjutan dengan latar belakang dan tujuan yang berbeda dari satu negara ke negara lainnya. MECS project berupaya untuk berbagi pengalaman yang dimiliki stakeholder tersebut kepada masyarakat di Indonesia dan ASEAN sebagai sebuah proses pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan dalam proyek ini adalah mencari model area, dimana di lokasi ini akan diselenggarakan Shared-Learning Workshop baik di tingkat nasional maupun tingkat ASEAN. Setelah model area ditentukan, beberapa kegiatan akan dilakukan termasuk pengembangan program, penyusunan manual dan materi, sehingga terlaksananya Share-learning Workshop. Diharapkan, setelah proyek ini selesai, pemerintah Indonesia dapat meneruskan program ini menjadi kegiatan rutin dengan mekanisme yang berfungsi bagi negara-negara ASEAN dan meningkatkan taraf hidup masyarakat yang tinggal di sekitar ekosistem mangrove.

Jakarta, 19 Desember 2011
Kepala Pusat,
ttd
M a s y h u d
NIP.19561028 198303 1 002

 

Sumber: www.dephut.go.id/index.php?q=id/node/8225