Dientry oleh Dyah Puspasari - 13 April, 2021 - 134 klik
Tanaman Penyerap Timbel (Pb), Rekomendasi untuk RTH

" Jenis pohon mahoni (Swietenia macrophylla) dan bintaro (Cerbera manghas) direkomendasikan untuk ditanam di Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan lokasi sekitar pabrik atau kawasan perusahaan smelter. Dari hasil riset P3KLL, keduanya konsentrasi timbel tertinggi diantara 11 jenis pohon yang diteliti. "

[FORDA]_Keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di perkotaan dengan berbagai jenis tanaman di dalamnya, sangat krusial untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota. Salah satunya dalam mengurangi tingkat pencemaran udara dari polutan logam berat seperti Timbel (Pb) yang banyak dihasilkan dari industri dan pembakaran bahan bakar tidak sempurna kendaraan bermotor. 

Jenis tanaman apa saja yang memiliki kemampuan menyerap Timbel (Pb) tersebut, dan bagaimana kemampuan penyerapannya? 

Hindratmo, dkk merekomendasikan jenis pohon mahoni (Swietenia macrophylla) dan bintaro (Cerbera manghas) untuk ditanam di Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan lokasi sekitar pabrik atau kawasan perusahaan smelter. Hal ini tertuang dalam hasil risetnya yang dirilis dalam Jurnal Ecolab Volume 13 Nomor 1 Tahun 2019

“Hasil analisis memperlihatkan konsentrasi timbel tertinggi pada jenis pohon mahoni (Swietenia macrophylla) dengan nilai 30,76 ppm dan bintaro 24,9 ppm sedang konsentrasi terendah pada pohon kemuning dengan serapan 10,83 ppm,” ungkap Hindratmo, dkk, tim peneliti pada Pusat Litbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL). 

Baca jurnal: Kemampuan 11 (Sebelas) Jenis Tanaman dalam Menyerap Logam Berat Timbel (Pb) 

Hindratmo, dkk, mengamati perlakuan penyemprotan logam Pb pada semai 11 jenis pohon yang dominan dijadikan sebagai tanaman turus jalan, pedestrian dan taman kota. Riset ini dilaksanakan di greenhouse P3KLL, dan analisis Pb dilaksanakan di Laboratorium P3KLL, Serpong, Tangerang dengan nomor akreditasi LP-083-IDN. 

Sebelas pohon tersebut adalah kepel (Stelechocarpus burahol), mahoni (Swietenia mahagoni), mahoni (Swietenia macrophylla), pinus (Pinus merkusii), beringin (Ficus benjamina), kemuning (Murraya paniculata), tevetia (Thevetia nerifolia), podocarpus (Podocarpus indicus), lamtorogung (Leucaena leucocephala), flamboyan (Delonix regia), dan bintaro (Cerbera manghas).  

Semua tumbuhan pada umumnya memiliki kemampuan menyerap logam dalam jumlah yang bervariasi. Menurut beberapa riset, penyerapan Pb dipengaruhi antara lain oleh bentuk dan permukaan daun. 

Daun yang mempunyai bulu (pubescent) atau daun yang permukaannya kesat (berkerut) mempunyai kemampuan yang lebih tinggi dalam menyerap Pb daripada daun yang mempunyai permukaan lebih licin dan rata. Mahoni memiliki bentuk daun lebar, hal ini mempengaruhi kemampuannya dalam menyerap Pb. 

Pada bintaro yang memiliki sifat morfologis daun yang lebar dan jumlah stomata yang cukup banyak, terlihat pengaruh penyemprotan terhadap konsentrasi Pb dalam daun. Dengan karakteristik daunnya yang majemuk, menyirip genap, helaian daun berbentuk bulat telur, ujung dan pangkal daun runcing, bintaro memiliki luasan permukan yang cukup untuk menyerap Pb. Kemampuan pohon ini dalam menyerap Pb termasuk sedang. 

Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. 

Timbel (Pb) sendiri termasuk dalam logam berat yang merupakan zat pencemar yang berbahaya. Unsur ini memiliki sifat tidak dapat terdegradasi secara alami dan cenderung terakumulasi dalam air, sedimen dasar perairan dan tubuh organisme. 

Terkait polutan logam berat Pb ini, Badan Litbang dan Inovasi (BLI) juga memantau penyerapannya oleh jenis-jenis lain, di antaranya oleh mangrove. Pemantauan juga dilakukan pada manusia, khususnya untuk mengetahui tingkat pajanan timbel pada anak-anak

BLI terus melanjutkan risetnya sebagaimana tercantum dalam Renstra 2020-2024.  Masuk dalam Program Prioritas Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup, kegiatan prioritas yang dilakukan adalah Pencegahan Pencemaran dan Kerusakan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, dengan proyek prioritas mencakup Pemantauan Kualitas Udara, Air, dan Air Laut.*(NC)

 

Catatan:

Udara ambien merupakan udara bebas di permukaan bumi pada lapisan troposfir yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia, mahluk hidup dan unsur lingkungan hidup lainnya. Dalam keadaan normal, udara ambien ini akan terdiri dari gas nitrogen (78%), oksigen (20%), argon (0,93%) dan gas karbon dioksida (0,03%). (bsn.go.id) 

Informasi lebih lanjut:
Pusat Litbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan
Kawasan Puspiptek Serpong Gd. 210, Jalan Raya Puspiptek Serpong, Muncul, Serpong, Muncul, Tangerang Selatan, Kota Tangerang Selatan, Banten 15314
Website http://p3kll.litbang.menlhk.go.id/

 

Informasi jurnal:
Portal Publikasi Badan Litbang dan Inovasi
Jurnal ECOLAB
Website https://ejournal.forda-mof.org

Penulis : Nurva Chaily
Editor : Dyah Puspasari