Dientry oleh Dyah Puspasari - 06 April, 2021 - 90 klik
Pirolisis Kayu Kumpang Hasilkan Kualitas Arang Terbaik

" Lima jenis kayu tersebut dianalisa komponen kimia serta zat ekstraktif sesuai metode SNI. Kemudian tiap jenis kayu diproses menjadi arang dengan metode pirolisis pada suhu 500°C selama 5 jam. Dari riset ini diketahui kualitas arang kumpang adalah yang terbaik "

[FORDA]_Proses pirolisis pada kayu kumpang (Albizia sp) menghasilkan kualitas arang terbaik, dari 5 jenis kayu kurang dikenal asal Kalimantan Barat yang diteliti oleh Efiyanti, dkk. Temuannya ini dirilis dalam Jurnal Penelitian Hasil Hutan Volume 38 Nomor 1 Tahun 2020.   

Arang merupakan salah satu produk kehutanan Indonesia yang penting di dunia.  Selama ini, Indonesia merupakan negara pengekspor arang terbesar di dunia. Korea Selatan, Jepang, Arab Saudi, dan China, adalah negara dengan tujuan ekspor terbanyak.  Kondisi tersebut perlu didukung dengan ketersediaan sumber daya sebagai bahan baku arang. Untuk itu, potensi dari kayu-kayu kurang dikenal perlu digali agar dapat membantu pemenuhan kebutuhan produk kayu di Indonesia. 

Sebagai upaya untuk berkontribusi, Efiyanti, dkk tim peneliti pada Pusat  Litbang Hasil Hutan (P3HH) melakukan penelitian menggali informasi mengenai komponen kimia, zat ekstraktif dan karakteristik arang 5 jenis kayu kurang dikenal asal Kalimantan Barat. Kelimat jenis kayu tersebut yaitu kayu kumpang (Albizia sp.), bengkulung (Xanthophyllum excelsum Miq.), sawang (Santiria sp.), kempili (Lithocarpus ewyckii Korth.), dan ubar (Syzygium sp.). 

Baca juga: Sifat Kimia dan Kualitas Arang Lima Jenis Kayu Asal Kalimantan Barat 

“Lima jenis kayu tersebut dianalisa komponen kimia serta zat ekstraktif sesuai metode SNI. Kemudian tiap jenis kayu diproses menjadi arang dengan metode pirolisis pada suhu 500°C selama 5 jam,” ungkap Efiyanti, dkk dalam artikelnya. 

Hasil analisis menunjukkan produk arang yang dihasilkan secara umum memenuhi standar persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI). 

Dari riset ini diketahui kualitas arang kumpang adalah yang terbaik, karena memiliki karbon terikat paling tinggi, serta kadar serta kadar abu dan kadar zat terbang yang rendah, di antara 5 jenis kayu yang dianalisis. Hal ini dimungkinkan terjadi karena kayu kumpang memiliki kandungan lignin yang cukup tinggi (30%) dengan selulosa yang cukup rendah dibanding kayu lain (54%). 

Kualitas arang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kadar ekstraktif kayu adalah salah satunya. Pada umumnya, dari hasil penelitian, kadar zat ekstraktif yang tinggi akan menghasilkan kualitas arang, terutama nilai kalor yang lebih baik, karena akan menghasilkan zat mudah menguap yang rendah.  Sementara kandungan lignin dan berat jenis, dapat menjadi indikator rendemen arang yang dihasilkan.  

Faktor lain yang juga berpengaruh pada kualita aranag adalah jenis kayu, komponen kayu, anatomi kayu, kandungan elemen bahan baku, kristalinitas, rasio S/G serta proses karbonisasi/pirolisis dari kayu tersebut. Oleh karenanya menjadi menarik untuk dianalisis lebih lanjut pengaruh keseluruhan faktor tersebut terhadap kualitas produk arang yang dihasilkan. 

Pirolisis merupakan proses dekomposisi bahan organik dengan suhu tinggi dengan sedikit atau tanpa adanya oksigen. Proses pirolisis kayu menghasilkan produk berupa arang dan cuka kayu. 

Pemanfaatan dan aplikasi arang tersebut, tidak hanya digunakan untuk energi saja. Berbagai publikasi ilmiah menunjukkan arang dapat digunakan sebagai biofilter toluene, biofilter xylene, media tanam dan pupuk, adherent bakteri pada proses teknologi biometanasi, agen pereduksi yang baik dibanding arang yang berasal dari fosil.  Selain itu, arang dapat diaktivasi pada berbagai macam kondisi menjadi produk arang aktif untuk aplikasi yang lebih spesifik seperti katalis, adsorben, dan super kapasitor. 

Cuka kayu merupakan hasil kondensasi ketika selulosa, hemiselulosa, dan lignin terdekomposisi. Menurut beberapa riset, cuka kayu tersebut dapat digunakan untuk aplikasi pertanian mencegah serangan serangga, bakteri, jamur, antidermatitis, dan disinfektan E. coli. 

Penelitian pengolahan kayu menjadi produk arang dan turunannya telah dilakukan oleh Badan Litbang dan Inovasi (BLI) melalui P3HH sejak lama. Arang kompos, cuka kayu, dan arang aktif adalah salah satunya.  Tidak hanya dari kayu, riset arang dari tempurung biji mete dan tandan kosong kelapa sawit juga dilakukan. 

Dalam implementasi Rencana Penelitian Integratif (RPI) BLI 2010-2014, telah dilaksanakan kegiatan riset untuk menghasilkan teknologi karbonisasi dan turunannya dari bahan berlignoselulosa. Di antaranya riset pengolahan arang dan turunannya untuk energi dan carbon store, pembuatan karbon kemurnian tinggi sebagai bahan baku nano-karbon, dan produksi wood pellet dari jenis-jenis pohon alternatif. 

Selanjutnya dalam Rencana Penelitian dan Pengembangan Integratif (RPPI) BLI 2015-2020, penelitian dikembangkan untuk memperoleh teknologi pembuatan dan pemanfaatan nano karbon dalam bidang kesehatan seperti bahan aktif sebagai antidiabet, untuk penyerap logam berat, dan untuk bahan pelindung terhadap radiasi gelombang elektromagnetik.*(RAH)

Penulis : Rattah Handisa
Editor : Dyah Puspasari