Dientry oleh Dyah Puspasari - 03 March, 2021 - 249 klik
Mikroba Hutan, Si Kecil Bermanfaat Besar

" Mikroba hutan, merupakan salah satu komponen sumber daya hutan. Beragam jenis mikroba (bakteri, fungi, yeast, virus, dan lain-lain) diketahui berkontribusi besar bagi keseimbangan ekosistem hutan dan menyimpan banyak manfaat bagi kesejahteraan umat manusia. Di antara manfaatnya dalam bidang kehutanan, lingkungan (bioremediasi, bioplastik), kesehatan (bio-health), dan energi. "

[FORDA]_Mikroba hutan, merupakan salah satu komponen sumber daya hutan. Beragam jenis mikroba (bakteri, fungi, yeast, virus, dan lain-lain) diketahui berkontribusi besar bagi keseimbangan ekosistem hutan dan menyimpan banyak manfaat bagi kesejahteraan umat manusia. Apa saja manfaat organisme tidak kasatmata itu? 

Asep Hidayat dan Maman Turjaman mengungkapnya dalam artikel yang terbit di Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana Volume 2 Nomor 1 Tahun 2018.  Peneliti bidang mikrobiologi pada Puslitbang Hutan tersebut mengulas tentang potensi dan pemanfaatan mikroba hutan untuk bidang kehutanan, lingkungan (bioremediasi, bioplastik), kesehatan (bio-health), dan energi. 

Baca jurnal: Manfaat Besar di Balik Penampilan Kecil  

Hal menarik yang penting diketahui, beragam mikroba hutan tersebut ternyata memerankan fungsi yang saling bertautan dengan komponen ekosistem hutan lainnya. Oleh karena itu, keberadaan dan fungsi mikroba hutan sangat tergantung kondisi lingkungan hutan. Menjaga hutan dari aktivitas penebangan liar, kebakaran, konversi dan eksploitasi yang berlebihan, berarti akan menjaga keberlanjutan keberadaan dan fungsi mikroba hutan. 

 

Agen Bioreforestasi 

“Berbagai jenis pohon hutan tropis dapat diproduksi di tingkat semai dengan dibekali proses inokulasi fungi mikoriza yang mampu membantu penyerapan nutrisi makro maupun mikro untuk memacu pertumbuhan pohon yang ditanam di lapangan,” ungkap Hidayat dan Turjaman dalam artikelnya.  

Mikroba simbiotik merupakan salah satu agen penting dalam menghutankan kembali hutan-hutan yang terdegradasi. Selama ini hutan tropis tidak pernah dipupuk. Mikoriza, baik fungi ektomikoriza dan fungi mikoriza arbuskula, berperan merombak nutrisi tersedia bagi tanaman. Kegiatan bioreforestasi dengan menggunakan jenis-jenis pohon lokal pada ekosistem hutan, dan aplikasi fungi mikoriza sangat diperlukan untuk menghasilkan bibit tanaman hutan yang berkualitas.   

“.. agen bioreforestasi menjadi penting apabila hutan tropis Indonesia ingin segera dipulihkan,”jelas para peneliti mikrobiologi tersebut dalam tulisannya.  

Aplikasi mikoriza  terus dikembangkan oleh BLI. Salah satunya oleh BP2LHK Banjarbaru yang telah menghasilkan produk berupa pupuk bermikoriza untuk aplikasi di lahan gambut. Aplikasi mikoriza juga dapat meningkatkan pertumbuhan Kaliandra (Calliandra calothyrsus) melalui pemberian kombinasi rhizobium dan mikoriza sebagaimana hasil penelitian dari BP2BPTH Yogya. 

Baca juga: Aplikasi Mikoriza untuk Restorasi Lahan Gambut 

 

Agen Bioinduksi 

Peranan mikroba tidak terbatas untuk memacu pertumbuhan pohon. Mikroba juga berperan sebagai agen bioinduksi pembentuk glubal gaharu. Dalam hal ini peneliti BLI telah melakukan serangkaian riset, dan menemukan bahwa jamur adalah kunci yang mampu membantu terbentuknya gaharu melalui proses inokulasi. 

Teknologi inokulasi gaharu yang dikembangkan BLI telah diaplikasikan pada beberapa lokasi di Indonesia, antara lain di Sulawesi Utara dan Gorontalo, KPHP Kendilo Kabupaten Paser, TN Tanjung Puting, dll. Kualitas gaharu hasil inokulasi sudah diterima pasar sesuai dengan grade yang dihasilkan. Melalui agen bioinduksi, produksi gaharu akan meningkat dan lestari melalui proses budidaya. Pada akhirnya eksplotasi pohon penghasil gaharu di alam dapat ditekan. 

Baca juga: Teknologi Pemanfaatan Mikroorganisme untuk RHL dan Bioinduksi Gaharu 

 

Agen Bioremediasi 

Bioremediasi merupakan sebuah konsep penguraian secara biologis untuk lahan terkontaminasi oleh senyawa berbahaya (polutan). Penguraian dilakukan secara alami, sehingga lebih efisien (murah), ramah dan aman dibandingkan dengan proses penguraian secara konvensional baik secara fisik dan kimia. 

Penguraian konvensional secara fisik dilakukan melalui pembakaran dan pencucian, sementara secara kimia melalui ekstraksi, reaksi kimia dan pengenceran. Penguraian secara kimia ditengarai berbiaya lebih mahal dan hanya memindahkan polutan dari satu fase/tempat ke fase/tempat yang lain. 

“Mikroba, baik bakteri dan atau jamur, mampu mengurai polutan organik. Pada ekosistem, jamur sangat berperan sebagai agen dekomposer utama polimer dari sampah tanaman, misalnya selulosa, hemiselulosa dan lignin,” jelas Hidayat dan Turjaman dalam artikelnya.   

Baca juga: Telaah Mendalam Bioremediasi 

 

Sumber Bioplastik 

Bio-plastik adalah plastik dengan bahan dasar baik secara keseluruhan atau sebagian berasal dari bahan yang dapat diperbaharui. Bio-plastik yang bersifat mudah terurai (biodegradable) adalah plastik dengan karakteristik dapat terdegradasi secara alami/ biologis, terurai sempurna menjadi CO2 dan H2O. 

Hidayat dan Turjaman memaparkan saat ini terdapat beberapa contoh bioplastik yang menjadi trend, yaitu bioplastik yang diproduksi langsung oleh mikroba melalui proses fermentasi, maupun bioplastik dari proses gabungan fermentasi mikroba dan kimiawi. 

“Hanya bioplastik yang bersifat mudah terurai akan menjadi produk substitusi yang sangat prospektif di masa datang,”ungkap Hidayat dan Turjaman.  

 

Sumber Obat-Obatan 

Berdasarkan riset, mikroba juga berperan dalam bidang kesehatan sebagai sumber obat-obatan, khususnya taxol, obat anti kanker, yang diperoleh dari ekstraksi kulit batang tanaman bergenus taxus. 

Saat ini ketercukupan antara permintaan dan ketersediaan taxol tidak seimbang. Jumlah bahan aktif taxol yang terbatas, pertumbuhan tanaman yang relatif lambat, dan terancamnya kelestarian genus taxus, menjadi penyebabnya.  

Penelitian dan usaha mencari alternatif-alternatif baru untuk memproduksi taxol terus dilakukan, salah satunya dengan memproduksi taxol melalui perantaraan agen mikroba fermentasi.  

Taxomyces andeanae, jamur endofitik yang diisolasi dari kulit luar Taxus brevifolia dideteksi menghasilkan taxol dengan konsentrasi 24- 25 ng/L. Pengembangan dan pemanfaatan jamur endofitik jamur penghasil taxol terus bergerak secara signifikan,”jelas para peneliti mikrobiologi Puslitbang Hutan tersebut dalam artikelnya. 

 

Sumber Energi Alternatif 

Dalam bidang energi, mikroba berperan dalam proses fermentasi pada konversi sampah menjadi biogas. Riset menunjukkan bahwa sampah rumah tangga atau limbah organik dapat dijadikan sumber alternatif energi untuk menghasilkan biogas dan energi listrik. Biogas berupa gas metana (CH4) dihasilkan selama proses fermentasi berlangsung. Gas CH4 yang diperoleh tidak lepas dari peran serta mikroba.

Konversi limbah organik tersebut melibatkan empat kelompok mikroba, yaitu bakteri fermentasi (hidrolisis), sintrophik, asetogenik, dan metanogen. Keempatnya terdapat di lingkungan, dan menjalankan fungsinya selama proses dekomposisi limbah secara anaerobik. Bakteri metanogen memegang peranan sangat penting. Kehadirannya menjadi pemungkin dihasilkannya gas metana selama proses dekomposisi limbah organik. 

 

Menyelamatkan Mikroba Hutan Tropis Indonesia 

Menilik fungsi mikroba yang spesifik dan beragam tersebut,  Hidayat dan Turjaman berharap program perlindungan hutan dan reforestasi dapat dilakukan dengan sungguh-sungguh mempertimbangkan kelestarian sumber daya mikroba yang ada di dalamnya. Di antara upaya pelestarian mikroba hutan adalah dilakukannya kegiatan isolasi, identifikasi dan bioprospeksi untuk berbagai kemanfaatannya. 

“…bioprospeksi dari mereka sangat penting untuk kehidupan manusia dan pengendali kualitas lingkungan hidup,” tegas Asep dan Maman. 

Baca juga: Bioprospek Mikroba Hutan Tropis Indonesia 

Berkontribusi dalam upaya menyelamatkan mikroba hutan tropis Indonesia, BLI melalui Puslitbang Hutan telah membuat peta jalan data base mikroba hutan dengan membangun lndonesian Tropical Forest Culture Collection (INTROF CC) pada 2012 lalu. INTROF CC menyediakan iptek hasil litbang untuk konservasi dan pemanfaatan mikroba hutan tropis.  

Baca juga: lndonesian Tropical Forest Culture Collection, Basis Data Mikroba Hutan 

Sampai dengan akhir 2020 koleksi mikroorganisme INTROF-CC mencapai  4199 isolat yang terdiri dari 1618 isolat fungi berfilamen; 1619 isolat bakteri; 83 isolat aktinomiset; 807 isolat yeast (khamir) serta 73 isolat yang belum terkelompokkan. Dari 4199 isolat mikroorganisme tersebut, 1895 (45,13%) isolat telah teridentifikasi secara molekuler. 

Selain itu terdapat lebih dari 50 isolat endomikoriza (Fungi Mikoriza Arbuskula/FMA) yang dipelihara di persemaian, dengan diinokulasikan pada tanaman inang Pueraria javanica (sejenis tanaman kacang-kacangan). 

INTROF-CC juga telah mengkarakterisasi potensi pemanfaatan koleksi mikroorganise, antara lain sebagai pemacu pertumbuhan tanaman, bioinduksi gaharu, biodegrasasi limbah lignoselulosa, bioremediasi, pengendalian fungi patogen busuk akar, bahan pangan (edible mushroom), biodiesel dan bioetanol. *(IR)

---

Ilustrasi: Jamur di hutan alam
Photo credit: Hinnerwaeldler dari Pixabay


Informasi lebih lanjut:
Pusat Litbang Hutan
JL. Gunung Batu No. 5 Bogor 16610 
Website http://puslitbanghut.or.id/

Informasi jurnal:
Portal Publikasi Badan Litbang dan Inovasi
Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana
Website https://ejournal.forda-mof.org

Penulis : Indah Rahmawati
Editor : Dyah Puspasari