Dientry oleh BALITEK DAS Solo - 19 February, 2021 - 122 klik
Mengurangi Risiko Potongan Tebing Tegak, Ini Rekomendasi Balitek DAS

" Pada musim hujan, di wilayah dengan lereng curam dan adanya potongan tebing tegak (PTT), sangat berisiko terjadi tanah longsor. Rekomendasi dari Balitek DAS ini dapat menjadi perhatian untuk mengurangi risiko tersebut. "

Bencana longsor kembali terjadi di awal 2021. Salah satunya di jalur Wonosobo-Dieng, tepatnya di Jalan Dieng km 23, Desa Dieng, Kejajar, Wonosobo Rabu (10/02/21). Adanya potongan tebing tegak (PTT), ditambah dengan curah hujan dengan intensitas sedang selama beberapa hari, menjadi penyebabnya, menurut Ir. Beny Harjadi, M.Sc, peneliti Balai Litbang Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Balitek DAS) Solo. 

Baca juga: Teknik Identifikasi Daerah Berpotensi Rawan Longsor pada DAS 

"Di lokasi kejadian, kemiringan lereng di atasnya lebih dari 45% atau sangat curam. Sedangkan di bawahnya dipotong tegak lebih dari 85% atau terjal. Tebing tegak ini yang menyebabkan terjadinya longsor di lokasi," tegas Beny. 

Terkait kejadian longsor tersebut, peneliti ahli longsor dari Balitek DAS ini memberikan beberapa rekomendasi untuk mengurangi risiko pada daerah dengan PTT seperti itu. 

Baca juga: Temukan 3 Faktor Pemicu Longsor Brebes, Balitek DAS Solo Berikan Rekomendasi Mitigasinya 

“Di daerah dengan lereng yang telah dilakukan pemotongan secara tegak, sebaiknya diberi penguat dengan bronjong batu kosong,” ujarnya. Beny juga menyarankan dilakukan pemotongan panjang lereng setiap 5 meter dan pembuatan teras searah kontur atau menyabuk gunung. Termasuk membuat saluran pembuangan air (SPA) pada setiap 25 m bidang olah tanah. 

Selain itu, ia juga sangat menyarankan untuk menanam tanaman penguat teras tebing, seperti vertiver. Tanaman ini akan memberikan perlindungan pada teras gulud dengan menahan material erosi di belakangnya.  

“Pada bagian atas lereng, seyogyanya tanaman sayuran diganti dengan tanaman kehutanan dengan melakukan kegiatan reboisasi, atau kombinasi tanaman sayuran dengan tanaman tahunan," lanjutnya. 

Baca juga: 47 Jenis Pohon untuk Mengurangi Risiko Longsor , Rekayasa Vegetatif Kurangi Risiko Longsor

"Kalau tidak, minimal lahan olah di atas dibuat teras dan tidak searah lereng. Apabila searah lereng akan menyebabkan pergerakan air permukaan tanah yang membawa air sangat cepat beserta partikel tanah,"pungkas Beny. 

Ditinjau dari arah lereng, lokasi kejadian sebenarnya tidak berpotensi terjadi longsor, karena arahnya ke timur laut.  Potensi longsor terbesar justru ada pada lereng yang mengarah ke selatan.  Lereng dengan arah selatan di kawasan tersebut mudah lapuk karena panas matahari dan tingginya curah hujan akibat banyak uap air yang terangkat dari Samudara Hindia. Oleh kareannya, faktor arah lereng ini juga perlu menjadi perhatian dari para pihak terkait, untuk mengurangi risiko longsor yang potensial terjadi pada masa depan. 

Baca juga: Analisis Kerentanan Tanah Longsor sebagai Dasar Mitigasi 

Selain penyebab di atas, Beny juga menduga kemungkinan ada faktor lain, yaitu adanya sesar. Berdasarkan informasi, diketahui kawasan Dieng banyak sesar yang menyebabkan retakan sehingga tanah tidak stabil dan berpotensi longsor. Dugaan tersebut muncul melihat terdapat batuan metamorf, yakni  jenis rockfall atau jatuhan batu pada material longsoran, tidak hanya berupa lansdlide luncuran pada bidang lurus.*(Tim Longsor)   

Informasi Lebih Lanjut:
Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS (Balitek DAS)
Website http://balitekdas.id
Jl. Jend. A. Yani Pabelan Kotak Pos 295, Surakarta 57012, Telp.  0271 - 716709, Fax.   0271 – 716959

Penulis : Tim Longsor Balitek DAS
Editor : Dyah Puspasari