Dientry oleh BP2LHK Manado - 19 November, 2020 - 156 klik
Merawat Denyut Cempaka di Sulawesi Utara

" Upaya kolaboratif pelestarian cempaka terus dilakukan para pihak untuk merawat denyut cempaka sebagai salah satu SDA primadona dan potensial di Sulawesi Utara. Dengan demikian diharapkan dapat memberikan manfaat konservasi, sosial budaya dan ekonomi secara berkelanjutan bagi masyarakat Minahasa khususnya dan Sulawesi Utara umumnya "

[BP2LHK Manado]_Kayu Cempaka memiliki nilai penting dalam sejarah masyarakat di Sulawesi Utara, terutama bagi masyarakat Minahasa. Kayu ini merupakan salah satu bahan baku untuk rumah Walewangko atau sering disebut juga Woloan, rumah tradisional (rumah kayu) Minahasa. Rumah ini merupakan identitas dan kebanggaan sosial budaya masyarakat Minahasa sejak dahulu. 

Kayu cempaka merupakan salah satu jenis kayu komersil primadona di Sulawesi Utara. Pemanfaatannya sangat beragam. Selain untuk bahan baku rumah tradisional, masyarakat Minahasa juga menggunakannya sebagai bahan pembuatan meubel, interior ruangan, alat musik, kerajinan tangan, perahu, panel, alat olahraga, dan plywood. Di samping itu, bunga cempaka dapat diproses menjadi minyak cempaka sebagai bahan baku parfum. 

Baca juga: Prospek Pengembangan Cempaka di Sulawesi Utara 

Rumah tradisional tersebut lebih dari sebuah rumah bagi masyarakat Minahasa. Dimanfaatkan sebagai rumah tinggal sejak berabad silam, kini keberadaannya mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Selain merupakan obyek wisata, rumah kayu berbentuk panggung ini juga telah menjadi komoditas perdagangan domestik dan internasional. Keunikan, keindahan, dan juga kekuatan bangunan yang tahan gempa, termasuk kecanggihannya dengan konsep knock-down, membuat rumah ini sangat diminati oleh masyarakat luar Minahasa, termasuk juga mancanegara. 

Industri rumah tradisional Minahasa terus berkembang. Bagi pemerintah Sulawesi Utara, ini merupakan komoditi andalan spesifik dan strategis karena melibatkan banyak tenaga kerja lokal dalam produksinya. Dalam buku Rencana Strategi Terpadu Pengelolaan Sumber Daya Cempaka di Sulawesi Utara 2021-2030, disebutkan bahwa pada 2019 permintaan rumah tradisional tersebut semakin tinggi dengan permintaan khusus dari pembeli yang berasal Jawa Barat. Sementara di pasar internasional, permintaan juga meningkat khususnya dari negara-negara Timur Tengah, Dubai, Saudi Arabia, dan Jepang (Subarudi, 2020).  

 

Keragaman Cempaka di Sulawesi Utara 

Berdasarkan hasil riset Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado diketahui terdapat 6 (enam) jenis kayu cempaka di Sulawesi Utara. Keenam jenis cempaka tersebut adalah Elmerrillia celebica Dandy; Elmerrilia ovalis (Miq.) Dandy; Elmerrillia tsiampacca (L.) Dandy; Magnolia elegans (Blume.) H.Keng; Magnolia candollei (Blume) H.Keng; dan Michelia champaca L. Seluruhnya berasal dari 3 genus yaitu Elmerrillia, Magnolia, dan Michelia (Kinho & Irawan, 2011). 

Baca juga: Studi Keragaman Cempaka di Sulawesi Utara

Jenis Elmerrilia ovalis (Miq.) Dandy, lebih dikenal oleh masyarakat di Sulawesi Utara dengan nama “Wasian”. Jenis ini merupakan salah satu jenis tanaman cempaka yang banyak diminati masyarakat untuk bahan pembuatan rumah tradisional tersebut. Jenis yang kini bernama Magnolia tsiampacca (L.) Figlar & Noot., comb.nov., termasuk jenis endemik Indonesia yang menurut Effendi (2018) hanya ditemukan di Sulawesi dan Maluku. 

Hutan alam wasian ditemukan di Kabupaten Minahasa, Minahasa Utara, Kota Tomohon, Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, dan Bolaang Mongondow. Wasian memiliki perawakan sedang sampai besar. Tinggi pohon sekitar 15-20 m, dengan diameter batang 20-60 cm. Permukaan kulit batang pada tumbuhan muda (tingkat pancang dan tingkat tiang) mulus, berwarna hitam keabu-abuan dengan bercak-bercak putih yang hampir tersebar merata pada seluruh bagian permukaan batang (Kinho & Irawan, 2011).  

 

Konservasi Cempaka Secara Kolaboratif 

Produk kayu cempaka dalam bentuk rumah tradisional yang telah menembus pasar internasional menyebabkan permintaan terhadap kayu cempaka terus meningkat.  Hal ini mendorong penebangan kayu cempaka secara berlebihan baik yang berada di lahan atau kebun masyarakat, maupun yang berada di areal kawasan hutan. Umur panen pohon cempaka juga dipercepat menjadi rata-rata ditebang pada umur 15-20 tahun, dari semula pada kisaran umur 30-40 tahun. 

Penebangan kayu cempaka yang berlebihan akan menurunkan pasokannya di alam maupun di lahan masyarakat. Hal ini dapat mengancam keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya cempaka di masa depan, khususnya di Sulawesi Utara. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya minat masyarakat lokal untuk menanam kembali pohon cempaka. 

Menyadari pentingnya keberadaan cempaka dalam kehidupan masyarakat lokal Sulawesi Utara, BP2LHK Manado terus melakukan promosi tentang konservasi cempaka secara insitu maupun eksitu, dalam bentuk pembangunan hutan tanaman. Kegiatan dilakukan dengan secara kolaboratif antara pemerintah, masyarakat setempat serta stakeholders. Masyarakat lokal dilibatkan secara aktif dalam rangka mendukung mata pencaharian dalam jangka panjang. 

Baca juga: Selamatkan Cempaka di Sulawesi Utara dengan Kolaborasi 

Sejak 2016 BP2LHK Manado bersama dengan International Timber Organization (ITTO) menginisiasi upaya konservasi jenis cempaka “wasian” (Elmerrillia spp.).  Kegiatan ini dilakukan melalui pembangunan hutan tanaman cempaka bersama masyarakat lokal di Sulawesi Utara. 

Melalui Project ITTO PD 646/12 Rev. 3 (F) (2), dengan judul “Initiating the Conservation Of Cempaka Tree Species (Elmerrillia spp.) through Plantation Development with The Local Community Participation in North Sulawesi”, Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK bertindak sebagai executing agency dan BP2LHK Manado sebagai implementing agency. 

Jenis cempaka "Wasian" dipilih dalam proyek ini karena merupakan pohon khas Sulawesi Utara yang bernilai tinggi, serta merupakan kebanggaan masyarakat Minahasa ketika memiliki rumah tradisional dengan bahan baku kayu wasian Jenis ini juga merupakan ikon pelestarian alam dan lingkungan yang dideklarasikan dalam upacara adat Watu Pinawetengan 2009 lalu.

Secara umum proyek yang berjalan mulai 2016 hingga September 2020 ini memiliki tujuan untuk berkontribusi dalam konservasi spesies cempaka di Sulawesi Utara. Sedangkan tujuan spesifik dari proyek ini adalah mendorong dan mengkampanyekan upaya konservasi dan pengembangan hutan tanaman cempaka dengan melibatkan masyarakat lokal khususnya di Sulawesi Utara. 

Baca juga: BP2LHK Manado Latih Masyarakat Minahasa Cara Budidaya Cempaka 

Terdapat 17 kegiatan yang dilaksanakan dalam proyek ini dengan 3 output yang diharapkan yaitu 1) meningkatkan kapasitas masyarakat lokal dalam pengembangan budidaya cempaka; 2) meningkatkan partisipasi  masyarakat lokal dalam pengembangan budidaya cempaka; dan 3) mendukung konservasi dan pemanfaatan cempaka di Sulawesi Utara melalui reviu dan penguatan kebijakan pemerintah daerah. 

Baca juga: Pola Tanam Cempaka Sebaiknya dengan Tumpangsari  

 

Keberhasilan Proyek Konservasi Cempaka 

Proyek konservasi cempaka ini telah menghasilkan berbagai output yang sangat berdampak pada pelestarian cempaka. Di antara adalah publikasi dalam bentuk buku petunjuk teknis tentang teknik pemanenan dan perkecambahan, teknik persemaian, teknik penanaman, buku materi cempaka untuk penyuluh,dan buku strategi penyuluhan. 

Baca juga: Publikasi Hasil ITTO PD 646/12 Rev. 3 (F) (2)

Proyek ini juga menghasilkan peta sebaran dan potensi cempaka di Sulawesi Utara, aplikasi berbasis web untuk keperluan monitoring dan peredaran kayu, berbagai macam pelatihan bagi petani, Forum Group Discussion, terbentuknya Forum Cempaka Sulawesi Utara, terbangunnya demonstrasi plot (demplot) seluas 18 Ha di 3 Kabupaten (Minahasa, Minahasa Selatan dan Minahasa Utara), serta dokumen Rencana Strategis Pengelolaan Sumberdaya Cempaka Terpadu di Sulawesi Utara 2020-2029.   

Baca juga: Capaian Kerja Sama Pelestarian Cempaka: Konservasi dan Peningkatan Ekonomi Masyarakat 

Proyek ini juga dipandang berhasil meningkatkan minat dan ketertarikan masyarakat untuk melestarikan cempaka melalui penanaman. Hal ini merupakan faktor yang sangat penting dan dapat menentukan keberlanjutan program. Meningkatnya minat masyarakat terlihat dari antusiasme yang sangat tinggi pada saat pelatihan dan Forum Group Discussion yang ditandai dengan keaktifan dalam kegiatan diskusi serta kegiatan penanaman. Selain itu partisipasi aktif masyarakat baik pengusaha, petani, akademisi dalam Forum Cempaka juga mengindikasikan minat dan ketertarikan masyarakat untuk melestarikan cempaka telah meningkat.  

 

Keberlanjutan Pelestarian Cempaka di Sulawesi Utara 

Untuk kesinambungan program konservasi dan pengembangan cempaka di Sulawesi Utara, beberapa hal telah dan akan dilakukan oleh BLI dan BP2LHK Manado. Di antaranya dalam bentuk pemeliharaan demplot seluas 18 ha dan pemberian dukungan penuh pada Forum Cempaka untuk menjalankan misinya. 

Pemeliharaan demplot disinergikan dengan kegiatan penelitian balai, sehingga tanaman akan terpelihara dengan baik. Selain itu, BP2LHK Manado juga mensosialisasikan program forum cempaka ke beberapa daerah sehingga program kerja forum cempaka bisa dilaksanakan dengan baik. Dukungan pada forum yang mempunyai misi menjaga kelestarian cempaka di Sulawesi Utara ini dilakukan melalui koordinasi, tukar menukar informasi dan pengalaman antar stakeholder dan meneruskan program-program hingga mendapatkan dukungan dari Gubernur Provinsi Sulawesi Utara. 

Baca juga: Forum Cempaka Sulawesi Utara Mantapkan Kepengurusan dan Rencana Kerja 

Terkait rencana strategi terpadu pengelolaan cempaka yang telah disusun, untuk mendukung implementasinya, rencana tersebut dijabarkan dalam program dan aksi jangka menengah.  Penjabaran mencakup kawasan dan tata-ruang pengembangan tanaman cempaka, penguatan kelembagaan, budidaya tanaman cempaka, peningkatan partisipasi masyarakat, serta penguatan sistem informasi dan kampanye pembangunan pengelolaan cempaka. Pelaksanaan kegiatan dan pendanaan untuk implementasinya melibatkan multipihak seperti pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota, universitas, NGO serta masyarakat luas. 

Baca juga: Rencana Strategi Terpadu Pengelolaan Sumber Daya Cempaka di Sulawesi Utara 2021-2030 

BP2LHK Manado berdasarkan tugas dan fungsinya sebagai lembaga litbang juga turut serta mengawal keberlanjutan program pengembangan tanaman Cempaka dengan terus mengembangkan serta meningkatkan upaya penyebarluasan informasi paket IPTEK terkait cempaka. Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan dan menghasilkan paket IPTEK pengembangan sumberdaya cempaka juga dikemas dalam format yang sederhana berupa policy brief untuk disampaikan kepada pemerintah daerah sebagai bahan kebijakan dalam melestarikan cempaka di Sulawesi Utara. 

Upaya-upaya kolaboratif yang dilakukan para pihak untuk pelestarian cempaka di atas diharapkan dapat menjaga kesinambungan pemanfaatannya. Denyut cempaka sebagai salah satu sumber daya alam primadona  dan potensial di Sulawesi Utara diharapkan dapat terus berjalan dan bahkan meningkat, sehingga dapat memberikan manfaat konservasi, sosial budaya dan ekonomi secara berkelanjutan bagi masyarakat Minahasa khususnya dan Sulawesi Utara umumnya. *(MF) 

Sumber bacaan:

  1. Effendi, R. 2018. Review Ketersediaan Informasi untuk Teknik-Teknik Silvikultur Tanaman Cempaka. ”. Laporan Kegiatan 1.4. “To Review Available Information on Cempaka’s Silviculture Techniques” pada ITTO Project PD 646/12 REV.3 (F)
  2. Kinho, J dan Irawan, A. (2011). Studi keragaman jenis cempaka berdasarkan karakteristik morfologi di Sulawesi Utara. Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian (pp. 61 - 78). Manado: Balai Penelitian Kehutanan
  3. Kinho, J. dan Mahfudz. 2011. Prospek Pengembangan Cempaka di Sulawesi Utara. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Manado, Manado.
  4. Subarudi. 2020. Rencana Strategi Terpadu Pengelolaan Sumber Daya Cempaka di Sulawesi Utara 2021-2030

Informasi lebih lanjut:
BP2LHK Manado
Jl. Raya Adipura, Kima Atas, Mapanget, Kima Atas, Kec. Mapanget, Kota Manado, Sulawesi Utara 95119

Email: bp2lhkmanado@gmail.com 
Website: https://balithut-manado.org 

Penulis : Muhammad Farid
Editor : Dyah Puspasari