Dientry oleh BP2TSTH Kuok - 19 November, 2020 - 107 klik
Kemilau Pomade, Diversifikasi Produk Perlebahan yang Bernilai Ekonomi

" Pembuatan pomade dengan lilin lebah, selain memberikan nilai tambah pada bahan baku alami ini juga dapat menjadi pendapatan tambahan dari sektor hasil hutan bukan kayu, khususnya melalui skema diversifikasi produk perlebahan "

Oleh: Syasri Jannetta, SP

Teknisi Litkayasa Penyelia – Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH)

Secara alami, lebah mempunyai fungsi ekologis sebagai agen penyerbuk utama yang membantu polinasi dan berkontribusi dalam menjaga kelestarian tumbuhan di muka bumi. Secara sosial ekonomi, lebah menghasilkan madu yang merupakan obat dan makanan terbaik untuk manusia dengan nilai ekonomi yang cukup tinggi.

Selain madu (honey), lebah juga menghasilkan produk yang bernilai ekonomi lainnya seperti roti lebah (bee bread) dan lilin lebah (bee waxs). Sesuai karakteristiknya, berbagai jenis lebah penghasil madu pun mempunyai unggulan produknya masing-masing.

Pada lebah Apis dorsata dengan karakteristiknya yang besar, produk dengan potensi terbesar yang dihasilkannya adalah madu. Selain itu juga ada sarang lebah yang dapat diolah menjadi lilin lebah, namun potensi ini belum dimanfaatkan dengan optimal.

Mengenal Apis dorsata

Apis dorsata atau yang dikenal sebagai lebah madu raksasa merupakan lebah madu Asia yang berhabitat di hutan. Membuat sarang dengan hanya satu sisiran yang menggantung di dahan dan ranting pohon tinggi serta tebing jurang bebatuan adalah karakteristiknya.

Spesies ini berkembang hanya di kawasan sub-tropis dan tropis Asia, seperti Indonesia, Filipina, India, Nepal, dan tidak tersebar di luar Asia. Di Indonesia lebah ini masih banyak ditemukan di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Nusa Tenggara, sedangkan di pulau Jawa lebah ini sudah jarang ditemukan.

Lebah ini memiliki nama daerah yang berbeda di Indonesia yaitu manye/muanyi (Dayak), Gong (Jawa), Odéng (Sunda), labah gadang, labah gantuang, labah kabau, labah jawi (Minangkabau) dan Harinuan (Batak).

 

Lilin Lebah untuk Pembuatan Pomade

Pembuatan pomade dengan lilin lebah, selain memberikan nilai tambah pada bahan baku alami ini juga dapat menjadi pendapatan tambahan dari sektor hasil hutan bukan kayu, khususnya melalui skema diversifikasi produk perlebahan. 

Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) melalui tim perlebahannya, menjadikan komoditi pomade sebagai salah satu diversifikasi produk perlebahan yang terangkum dalam beragam kegiatan diseminasi paket ilmu pengetahuan dan teknologi perlebahan.

Hal ini diaplikasikan antara lain pada beberapa kegiatan kerja sama BP2TSTH dengan Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh melalui skema pemberdayaan masyarakat dan penguatan kelompok tani hutan di zona pemberdayaan.

Baca juga: Penyuluh BTNBT Perkaya Ilmu Diversifikasi Produk Lebah Madu di BP2TSTH Kuok 

Lilin lebah adalah bahan yang digunakan dalam pembuatan pomade yang aman bagi kesehatan. Pembuatan pomade dengan bahan dasar lilin lebah akan memberikan nilai tambah sehingga lilin lebah lebih bernilai ekonomi.

Pomade merupakan suatu sediaan kosmetik yang masuk dalam kategori wax based cream yang diminati pria untuk dapat membuat penampilan rambut yang lebih rapi. Pomade bertekstur mirip seperti minyak rambut berbentuk gel, dapat dioleskan ke rambut sehingga menciptakan berbagai efek seperti mengkilap, mudah di atur, dan terlihat lebih hitam.

Secara teknis, bahan-bahan pembuatan pomade mudah ditemukan di sekitar kita yang meliputi lilin lebah (bees wax), vaseline (Petroleum jelly), minyak zaitun, minyak jarak, kemiri dan pemberi aroma. Fungsi-fungsi dari bahan tersebut dapat melembabkan rambut, membuat rambut berkilau, dapat melindungi lapisan kulit kepala, dapat mencengah kerontokan dan banyak fungsi estetika lainnya.

Baca juga: KTH Binaan BTNBT Belajar Diversifikasi Produk Perlebahan ke BP2TSTH

Proses pembuatan pomade sangat sederhana. Dimulai dari memasukkan lilin lebah ke dalam wadah lalu dihangatkan hingga mencair. Selanjutnya tambahkan vaseline. Kemudian aduk hingga merata. Setelahnya masukkan bahan – bahan seperti minyak zaitun, minyak jarak, kemiri dan aroma yang dikehendaki. Setelah bahan tercampur lalu didinginkan sejenak dan langsung dimasukkan ke dalam wadah.

Berdasarkan kalkukasi biaya produksi oleh penulis, untuk mendapatkan pomade seberat 50 gram dibutuhkan biaya sebesar Rp. 5.000,-. Ini diperoleh dari melalui analisa finansial Benefit Cost Ratio (BCR) pada lingkup Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Setiap komponen dinilai berdasarkan harga pasaran saat ini. 

Pengembangan lebah madu hutan ini perlu digalakkan, karena secara tidak langsung berkontribusi pada keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan, khususnya tanaman hutan sumber pakan lebah. Sektor ekonomi berputar sembari menjaga kelestarian alam yang berujung pada keberlanjutan produksi melalui eksistensi alam.***

Informasi teknis hubungi: syasribphps@yahoo.co.id  

Penulis : Ega Surata dan Syasri Jannetta
Editor : Risda Hutagalung