Dientry oleh B2P2BPTH Yogyakarta - 13 October, 2020 - 98 klik
Pentingnya Pemuliaan Pohon dalam Menjawab Tantangan Hutan Tanaman Industri

" Penelitian-penelitian berbasis genetik melalui aplikasi bioteknologi dan pemuliaan pohon merupakan langkah strategis yang dapat menjadi andalan utama dalam mengatasi dan menjawab tantangan permasalahan Hutan Tanaman Industri di Indonesia "

[FORDA] _Pentingnya pemuliaan pohon dalam menjawab tantangan HTI diungkapkan pihak-pihak terkait dalam Webinar BIOTIFOR 2020 Seri 4 bertajuk “Pemuliaan Pohon dalam Menjawab Tantangan Hutan Tanaman Industri”, Kamis (8/10/2020) lalu.

Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI), Dr. Agus Justianto dalam sambutannya saat membuka acara menekankan bahwa penerapan hasil-hasil penelitian dan pengembangan (litbang) berbasis genetik melalui aplikasi bioteknologi dan pemuliaan pohon merupakan langkah strategis yang dapat diambil dalam mengatasi dan menjawab tantangan permasalahan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Indonesia.

Pada kegiatan diseminasi hasil litbang dalam rangka pengaplikasiannya pada tataran operasional HTI tersebut, Agus juga mendorong upaya penemuan inovasi-inovasi lain merujuk pada perkembangan Iptek dan hasil riset yang ada agar produktivitas dan kualitas tegakan semakin meningkat.

“Ini penting untuk menjawab berbagai masalah di sektor hulu terkait produktivitas tegakan HTI yang mengakibatkan terjadinya penurunan suplai bahan baku kayu,” ujar Agus kepada sedikitnya 300 peserta webinar dari berbagai kalangan seperti Kementerian/Lembaga Pemerintah baik pusat maupun daerah, peneliti, akademisi/dunia pendidikan, mitra kerja sama, swasta/industri, LSM, serta masyarakat umum.

Menurutnya, serangan hama dan penyakit oleh jamur Ganoderma sp., Ceratocystis sp., serta serangan hama monyet khususnya pada tegakan Acacia mangium sebagai tanaman pokok HTI di lahan mineral (dry-land) dengan tingkat kerusakan tegakan bisa mencapai lebih dari 40%, adalah beberapa diantara permasalahan yang ada.

Selain itu, terkait kondisi tapak, sangat sedikit jenis tanaman yang sesuai untuk bahan baku industri dan mampu tumbuh di lahan basah yang merupakan bagian besar dari lahan HTI, seperti lahan gambut, marine clay dan peralihan tanah gambut mineral.

“Saat ini hanya Acacia crassicarpa yang masih menjadi tanaman pokok untuk sebagian besar lahan basah ini. Di samping itu praktik-praktik silvikultur pada HTI juga menjadi tantangan tersendiri yang memerlukan penyesuaian terkait dengan dampak dari daur rotasi tanam,” ujar Agus.

Terkait itu, Dr. Ir. Eko Bhakti Hardiyanto, M.Sc., dosen Pasca Sarjana Fakultas Kehutanan UGM juga sangat menekankan apa yang dinamakan best silvicultural practices dalam keberhasilan aplikasi program pemuliaan pohon.

“Apabila hal itu dilupakan, maka genetic gain/peningkatan produksi yang dihasilkan dari program pemuliaan pohon tidak akan terealisasi, tanpa adanya praktik silvikultur yang terbaik untuk spesies maupun klon yang telah dihasilkan itu,” tegas Dr. Eko, narasumber pertama pada webinar kali ini.

Meyakini varietas unggul mampu menjawab tantangan HTI, peneliti Pemuliaan Tanaman Hutan, Dr. Sri Sunarti, S.Hut., MP memaparkan bahwa sampai saat ini BIOTIFOR telah berhasil mendaftarkan delapan varietas baru hasil litbangnya pada Pusat Perlindungan Varietas tanaman. Empat diantaranya baru dilahirkan tahun 2020 ini.

“Pada tahun 2018 berhasil menerbitkan 4 varietas baru yaitu E. pellita Purwo Bersinar Ep006, E. pellita Purwo Bersinar Ep007, E. pellita Purwo Bersinar Ep014 dan Hibrid Acacia Purwo Sri Ah044. Sedangkan pada tahun 2020 ini berhasil melahirkan varietas E. pellita Purwo Bersinar Ep058, E. pellita Ep063, E. pellita Ep070 dan Hibrid Acacia Purwo Sri Ah025,” ucap Sri Sunarti.

Terkait hama dan penyakit, Desy Puspitasari, S.Hut., M.Sc, Project Technician on ACIAR Project FST. 068/2014 “Management Strategies for Acacia Plantation Diseases in Indonesia and Vietnam” menyampaikan bahwa tidak semua penyakit bisa dikendalikan dengan metode yang sudah ada seperti halnya ada interaksi antara tanaman dengan lingkungan.

“Begitu halnya dengan patogen, akan memiliki interaksi masing-masing yang berbeda antar patogen yang satu dengan inang yang lainnya, pemahaman interaksi antara patogen dengan inang sangat diperlukan dalam mengembangkan (teknik) pengendaliannya,” ujar Desy.

Berbagi pengalaman dari apa yang dilakukan oleh PT. Arara Abadi, Program Leader Forest Improvement, R&D, Ir. Bambang Herdyantara, sebagai narasumber terakhir mengemukakan betapa pentingnya peran pemuliaan pohon dalam produktivitas hutan.

“Tentu saja ini harus diikuti komitmen yang kuat dan kolaborasi yang erat, antara research dan development (R & D) dengan tingkat operasional, untuk menghasilkan plantation yang terbaik,” tegasnya menutup paparan.***

 

Link materi:

http://bit.ly/MateriWebinarBiotifor4

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan :
Jl. Palagan Tentara Pelajar KM15 Purwobinangun, Kec. Pakem, Kab. Sleman, Yogyakarta (Indonesia)

Telp. (0274) 895954; 896080 Fax. (0274) 896080

Email               : breeding@biotifor.or.id

Website           : www.biotifor.or.id

Instagram        : https://www.instagram.com/biotifor_jogja

Facebook        : www.facebook.com/Balai-Besar-Litbang-BPTH-187407891327294

Youtube           : http://youtube.com/c/BiotiforJogja

E-Journal        : http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPTH/index

 

Penulis : M. Nurdin Asfandi
Editor : Risda Hutagalung