Dientry oleh BP2TSTH Kuok - 12 October, 2020 - 158 klik
Agroforestri, Asa di Tengah Pandemi Covid-19

" Agroforestri sebagai salah satu sistem dalam program Perhutanan Sosial yang dicanangkan KLHK sejak tahun 2016 lalu, dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan hutan, sekaligus memperkuat sistem ketahanan pangan di tengah pandemi Covid-19 "

Oleh: Andhika Silva Yunianto, S.Hut.

Peneliti Bidang Perlindungan Hutan - BP2TSTH Kuok

Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) telah berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia di seluruh dunia. Tidak hanya pada kesehatan, pandemi ini juga berdampak pada sektor lainnya seperti sosial, ekonomi, pendidikan maupun pariwisata sebagai multiple effects. Jika terus berlangsung, bukan tidak mungkin pandemi Covid-19 juga mengancam sistem ketahanan pangan.

Agroforestri sebagai salah satu sistem dalam program Perhutanan Sosial yang dicanangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sejak tahun 2016 lalu, dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan hutan, sekaligus memperkuat sistem ketahanan pangan di tengah pandemi.

ICRAF (International Centre for Research in Agroforestry) mendefinisikan agroforestri sebagai sistem penggunaan lahan yang mengombinasikan antara tanaman berkayu dengan tanaman non-kayu (tanaman pertanian), terkadang juga melibatkan hewan ternak sehingga tercipta interaksi ekologis dan ekonomis antar tiga komponen pokok yaitu kehutanan, pertanian dan peternakan. Penelitian terkait agroforestri telah banyak dipublikasikan berbagai pihak dan telah berkembang dengan pesat.

Pengaplikasian Agroforestri

Tahun 2019, Tim Penelitian Pemberdayaan Masyarakat – Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan (BP2TSTH) Kuok melakukan kajian teknis di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kepau Jaya. Melibatkan masyarakat sekitar kawasan yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) binaannya, pembangunan demonstrasi plot kegiatan perhutanan sosial dilakukan menggunakan skema kemitraan kehutanan di lahan seluas 2,4 Ha.

Sistem yang digunakan berupa sistem agroforestri yang mengombinasikan tanaman pokok berkayu, tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species/buah-buahan) dan tanaman pertanian/semusim. Jenis tanaman terpilih disesuaikan dengan peruntukan KHDTK Kepau Jaya, yaitu sebagai lokasi kegiatan penelitian dan areal sumber pakan lebah penghasil madu. Tanaman yang memiliki nilai jual juga menjadi pertimbangan dalam pemilihannya.

Tanaman pokok yang digunakan yaitu jenis gerunggang, gelam, balangeran dan Shorea leprosula. Pemilihan jenis ini disesuaikan dengan karakteristik areal demonstrasi plot. Tanaman MPTS yang digunakan adalah tanaman kopi liberika dan aren. Sedangkan tanaman semusim yang digunakan adalah melon, terong, cabai, ubi dan jagung. Keseluruhan jenis tanaman tersebut ditanam secara berdampingan sesuai sketsa yang telah disepakati antara BP2TSTH dengan KTH binaan sebagai penggarap.

Penciptaan Lapangan Kerja dan Peningkatan Perekonomian

Dalam jangka waktu satu tahun pelaksanaan, kegiatan ini mampu menarik minat masyarakat untuk bermitra dalam pengelolaan kawasan KHDTK Kepau Jaya tersebut. Masyarakat yang bergabung dalam KTH telah memperoleh hasil dari tanaman semusim, tanaman MPTS dan tanaman pokok kehutanan di areal agroforestri yang ada di sana.

Ketua KTH binaan BP2TSTH Kuok, Lilis Kiswanto yang akrab dipanggil Anto, menyampaikan bahwa untuk luasan 1/8 hektar yang dikelolanya dan diperuntukkan bagi tanaman melon, mampu menghasilkan keuntungan bersih 5 – 6 juta rupiah per periode panen.

Selain itu, dari kopi liberika, tanaman MPTS dengan satu tahun masa tanam, petani sudah dapat memanen biji kopi tersebut. Ditambah dari sisi tanaman pokok kehutanan, petani sudah dapat memperoleh Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa daun gelam yang menghasilkan minyak atsiri.

Peran Agroforestri dalam Upaya Membuka Kolaborasi di KHDTK

Dalam pemanfaatan sumber daya yang ada di dalamnya, selama ini KHDTK tidak terlepas dari tingginya kepentingan pemanfaatan lahan oleh berbagai pihak, termasuk KHDTK Kepau Jaya yang dikelola BP2TSTH Kuok. Hal ini dapat menimbulkan selisih persepsi, bahkan terdapat pihak ketiga yang memanfaatkan situasi tersebut. Salah satunya adalah kebutuhan masyarakat akan lahan, baik untuk bercocok tanam maupun memperoleh kesempatan ekonomi.

Dengan adanya kegiatan agroforestri melalui program perhutanan sosial, bersama-sama masyarakat mengelola dan menjaga kawasan hutan. Aktivitas pemberdayaan masyarakat yang dilakukan di KHDTK Kepau Jaya mendorong para pemanfaat situasi (free rider) tidak lagi memiliki kesempatan.

Di awal pelaksanaan kegiatan, KTH binaan BP2TSTH Kuok sempat mengalami berbagai macam tekanan dari pihak-pihak yang tidak menginginkan adanya kawasan hutan di Kepau Jaya. Mereka berpendapat bahwa kegiatan pemberdayaan ini tidak akan berhasil. Dengan tekad yang kuat dan pendampingan dari tim peneliti BP2TSTH, KTH binaan BP2TSTH Kuok membuktikan bahwa pemanfaatan kawasan hutan mampu memberikan kesejahteraan.

Berubah perilaku, para free rider yang sebelumnya kontra terhadap kegiatan agroforestri pun ingin menjadi bagian dari KTH binaan BP2TSTH. Selain itu, kejadian kebakaran hutan dan lahan yang dulu kerap terjadi, tidak lagi terjadi semenjak adanya kegiatan pemberdayakan masyarakat.

Agroforestri di KHDTK Kepau Jaya, selain berperan sebagai alternatif mata pencaharian dan meningkatkan ekonomi masyarakat di tengah pandemi Covid-19, juga berperan dalam menjaga kelestarian ekosistem lingkungan rawa gambut. Kegiatan agroforestri juga mampu menjaga kawasan hutan dari kemungkinan adanya konversi lahan secara sepihak. Program pemberdayaan masyarakat yang dituangkan dalam skema perhutanan sosial secara nyata dapat mewujudkan hutan lestari, masyarakat sejahtera.***

Penulis : Andhika Silva Yunianto
Editor : Risda Hutagalung