Dientry oleh BP2LHK Banjarbaru - 30 September, 2020 - 140 klik
Temuan Potensi Paludikultur di Lahan Gambut Kaltara untuk Perencanaan Pembangunan

" Temuan lainnya yaitu keunikan lahan gambut di Kalimantan Utara dibandingkan dengan lahan gambut di Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Selatan, yaitu ditemukan pencampuran dengan ekosistem lahan kering dalam satu hamparan lansekap lahan gambut "

[FORDA] _Paludikultur saat ini merupakan salah satu solusi penyelamatan lahan gambut. Terkait itu, Dr. Dony Rachmanadi, peneliti dari Balai Litbang LHK (BP2LHK) Banjarbaru melakukan riset bersama lembaga nirlaba GIZ melalui proyek Peatland Management and Rehabilitation (PROPEAT) untuk melihat potensi dan peluang penerapan konsep paludikultur di Kalimantan Utara.

Penelitian ini dilakukan dengan cara survei untuk melihat pola pemanfaatan lahan gambut oleh masyarakat dan menganalisis kesesuaian lahan dan komoditas pertanian dan kehutanan. Tiga daerah yang disurvei yaitu Kabupaten Bulungan tepatnya Desa Salimbatu dan Desa Tanjung Buka, Kabupaten Nunukan di Desa Atap dan Desa Tagul, serta Kabupaten Tana Tidung tepatnya di Desa Bebatu dan Desa Sengkong.

“Dari survei lapangan, kami menemukan bahwa komoditas-komoditas yang dibudidayakan di areal studi sebagian besar merupakan komoditas yang umum diusahakan di lahan kering, dan hanya kurang dari 10% jenis yang merupakan tumbuhan atau komoditas asli dari lahan gambut,” ungkap Dony.

Dony menyayangkan hal ini mengingat tumbuhan asli dari lahan gambut diyakini akan lebih adaptif di lapangan. Namun menurutnya, kita juga tidak bisa menutup mata terhadap pertimbangan nilai ekonomi dan ketersediaan pasar.

“Oleh karena itu, untuk aplikasi paludikultur di lahan gambut Provinsi Kalimantan Utara sangat memerlukan dukungan secara sosial, ekonomi, dan kebijakan,” ujarnya.

Menurut Dony, ada beberapa komoditas yang potensial di hutan gambut Kalimantan Utara, yang dapat digunakan dalam praktik paludikultur yaitu budidaya jenis pohon, pandan duri sebagai bahan serat, rotan, buah hutan, bahan aktif untuk bahan obat dan juga jamur. Selain itu juga dapat digali potensi jasa lingkungan dan tujuan wisata dari ekosistem hutan rawa gambut.

Temuan lain dari penelitian ini yaitu keunikan lahan gambut di Kalimantan Utara dibandingkan dengan lahan gambut di Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Selatan. Keunikan tersebut adalah ditemukannya pencampuran dengan ekosistem lahan kering dalam satu hamparan lansekap lahan gambut di Kalimantan Utara.

Menurutnya, hal tersebut menjadikan lahan gambutnya lebih subur dan terjadinya pencampuran jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan sehingga keanekaragaman hayatinya juga unik. Kondisi ini tentunya sangat menguntungkan dalam kerangka penyelamatan ekosistem gambut karena aktivitas budidaya dapat difokuskan di lahan kering, sedangkan lahan gambut sebagai penyedia jasa lingkungan lainnya.

Hasil riset tersebut pun disampaikan kepada Kepala Bappeda dan Litbang Kalimantan Utara, Risdianto, S.Pi, M.Si dalam Diskusi GIZ dan Partner di Kalimantan Utara.

“Harapan kami hasil kajian ini akan menjadi mata rantai untuk perencanaan pembangunan lahan gambut dan lahan basah secara komprehensif dan terintegrasi, yang dilegitimasi dalam bentuk peraturan daerah Kaltara,” ujar Risdianto, S.Pi, M.Si menyambut baik hasil riset tersebut.

Selain disampaikan kepada pihak Pemerintah Daerah Kaltara, hasil riset ini juga dikomunikasikan dengan berbagai pihak. Salah satunya dengan digelarnya webinar bertema “Potensi Perikanan Darat, Pertanian dan Kehutanan (Paludiklutur) di Lahan Gambut Kaltara” pada akhir Juli 2020 lalu.

Dalam acara webinar tersebut ada tiga sub topik yang didiskusikan, salah satunya yaitu “Potensi Pengembangan Paludikultur di Kalimantan Utara” yang dipaparkan oleh Dr. Dony. Dua lainnya yaitu:“Implementasi Agrosilvofishery dalam Pengelolaan Ekosistem Gambut di Sumatera Selatan” oleh Ir. Bastoni, M.Si, Peneliti BP2LHK Palembang; dan “Keanekaragaman Jenis Ikan Tawar dan Pemanfaatan oleh Masyarakat” oleh Dr. Heppi Iromo, S.Pi, M.Si, Dosen jurusan Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan – Universitas Borneo Tarakan (UBT).

Sebagai informasi, Dr. Dony Rachmanadi merupakan Peneliti Ahli Madya di BP2LHK Banjarbaru yang fokus pada penelitian restorasi hutan rawa gambut tropis serta ekologi tanaman di hutan rawa gambut. Dr. Dony juga merupakan salah satu peneliti yang berkontribusi dalam riset paludikultur di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.***

Penulis : Safinah Surya Hakim
Editor : Risda Hutagalung