Dientry oleh BP2TKSDA Samboja - 15 September, 2020 - 148 klik
Eksplorasi Kawasan Karst Teluk Sumbang, Balitek KSDA: Layak Jadi Kawasan Ekosistem Esensial di Berau

" Karst Teluk Sumbang tidak hanya kaya akan keanekaragaman hayati, tetapi juga memiliki keindahan alam yang luar biasa, mulai dari tepi pantai sampai dengan perbukitan. Ke depan, kawasan ini sangat layak dipertahankan, dilindungi dan dipertimbangkan sebagai salah satu kawasan ekosistem esensial terpenting yang dimiliki oleh Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur "

[FORDA] _“Karst Teluk Sumbang tidak hanya kaya akan kehati (keanekaragaman hayati), tetapi juga memiliki keindahan alam yang luar biasa, mulai dari tepi pantai sampai dengan perbukitan. Ke depan, kawasan ini sangat layak dipertahankan, dilindungi dan dipertimbangkan sebagai salah satu kawasan ekosistem esensial terpenting yang dimiliki oleh Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur,” ujar Kepala Balitek KSDA, Ishak Yassir kepada KPH Berau Pantai, Tim Lamin Guntur dan BKSDA Kalimantan Timur di tengah kegiatan eksplorasi Kawasan Karst Teluk Sumbang, belum lama ini.

“Untuk itu, diperlukan dukungan dari semua pihak, terutama dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat,” tambah Ishak yang berterima kasih kepada para pihak tersebut atas dukungannya kepada tim peneliti di lapangan, sehingga kegiatan eksplorasi mulai 24 Agustus 2020 hingga 2 September 2020 ini berjalan lancar.

 

Eksplorasi Kawasan Karst Teluk Sumbang

Setidaknya 14 jam perjalanan darat harus ditempuh tim peneliti dari kantor Balitek KSDA di Samboja menuju Kawasan Karst Desa Teluk Sumbang, Berau ini. Meski melelahkan, perjalanan selama itu dirasa impas dengan keindahan alam sekaligus kekayaan kehati yang ditemukan selama delapan hari di sana.

Kawasan Karst Teluk Sumbang termasuk bagian dari Kawasan Karst Biduk-Biduk yang memanjang dari Teluk Sumbang hingga Batu Putih di Kabupaten Berau. Menariknya, beberapa lokasi berbatasan langsung dengan garis laut di ujung timur hidung Pulau Kalimantan. Hal ini memberikan warna tersendiri bagi kawasan yang sebagiannya merupakan kawasan HPH sejak tahun 1990-an ini.

Salah satu yang menarik perhatian Tim Balitek KSDA terhadap kawasan karst ini adalah informasi keberadaan Rafflesia spp. yang dilaporkan oleh BKSDA Kalimantan Timur, khususnya dari Seksi Konservasi Wilayah I Berau. Menindaklanjuti laporan tersebut adalah salah satu alasan eksplorasi ini dilakukan. Sayangnya, ketika sampai di lokasi penemuan Raflessia spp., kondisi bunga sudah menghitam dan sangat rapuh.

"Karena kondisi sudah hampir busuk, tidak dapat dilakukan pengamatan organ bunga yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi jenis bunga tersebut," ujar Bina Swasta Sitepu, peneliti Botani Balitek KSDA. Namun, Bina dapat memastikan bahwa temuan ini merupakan catatan baru untuk Kawasan Karst Biduk-Biduk. Dalam skala lebih luas, temuan Raflessia Kawasan Karst Sangkulirang - Mangkalihat hanya tercatat di daerah Sangkulirang, Kutai Timur.

Selain raflessia, salah satu temuan menarik dan terbaru dari eksplorasi ini adalah Amorphophallus lambii. Kerabat dari porang ini ditemukan tumbuh pada saat fase bunga pada batu karst di bawah tegakan Ficus spp. Di lokasi lainnya ditemukan cukup banyak individu ini pada saat fase daun. Selain itu, tercatat berbagai flora dari jenis Ficus, Begonia, Hoya, Shorea, dan Orchidae (anggrek) yang juga mengisi ekosistem Karst Desa Teluk Sumbang.

Selain temuan flora, sebanyak 73 jenis burung berhasil diamati tersebar dari hutan karst tepi pantai sampai perbukitan.

"Jenis-jenis yang umum ditemukan di areal pantai adalah perling kumbang (Aplonis panayensis), cekakak sungai (Todiramphus chloris), dan tekukur (Streptopelia chinensis). Sedangkan jenis-jenis merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier), merbah corok-corok (Pycnonotus simplex), dan sempur hujan darat (Eurylaimus ochromalus) lebih sering ditemukan di kawasan Hutan Karst perbukitan," jelas Mukhlisi, Peneliti Satwa Balitek KSDA.

Potensi mamalia berdasarkan catatan pengamatan jejak dan bekas cakaran di lapangan, diantaranya satwa kijang muncak (Muntiacus muntjak), rusa sambar (Rusa unicolor), pelanduk (Tragulus spp), babi hutan (Sus barbatus), serta beruang madu (Helarctos malayanus).

"Pola distribusi mamalia di hutan karst tersebar secara tidak merata sebab mengikuti sumber-sumber air yang terkonsentrasi di tempat-tempat tertentu saja," lanjut Mukhlisi.

Pengamatan herpetofauna dilakukan pada malam hari mengikuti perilaku alami kelompok satwa tersebut yang cenderung aktif di malam hari. Pengamatan juga dilakukan pada siang hari untuk melengkapi data pengamatan malam hari. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa keragaman herpetofauna di Teluk Sumbang cukup rendah.

"Kondisi ini disebabkan minimnya sebaran sumber air yang tersebar merata di seluruh hutan, sedangkan jenis-jenis herpetofauna dari kelompok amfibi membutuhkan keberadaan air untuk bertahan hidup," jelas Teguh Muslim, Peneliti Herphetofauna Balitek KSDA.

Beberapa jenis herpetofauna yang ditemukan dalam pengamatan ini lebih dominan dari kelompok reptil. 4 jenis reptil endemik Borneo yang ditemukan di sana, yaitu: Gonocephalus bornensis (Agamidae), Cyrtodactylus ingeri (Gekkonidae), Dasia vittatum (Scincidae), Sphenomorphus multisquamatus (Scincidae).***

Penulis : Agustina DS
Editor : Risda Hutagalung