Dientry oleh Dyah Puspasari - 04 September, 2020 - 1505 klik
FORDA Ekoliterasi, Mengawal Kesadaran Konservasi Alam Lintas Generasi

" FORDA Ekoliterasi hadir untuk berkontribusi mengawal kesadaran konservasi alam lintas generasi yang berbasis sains. Beragam aktivitas dilakukan untuk terus menggugah dan menumbuhkan kepedulian serta meningkatkan pengetahuan generasi muda tentang pentingnya sumber daya alam dan lingkungan bagi manusia. "

[FORDA]_Menghadapi tantangan kondisi sumber daya alam dan lingkungan yang terus terdegradasi, Badan Litbang dan Inovasi (BLI) menyadari bahwa dibutuhkan lebih dari iptek dan inovasi. Membangun kesadaran tentang pentingnya lingkungan hidup yang mengejewantah dalam perilaku, menjadi hal sangat penting yang harus terus dikembangkan. 

FORDA Ekoliterasi, telah menjadi salah satu strategi BLI turut andil dalam upaya tersebut. Melalui FORDA Ekoliterasi, BLI berkontribusi mengawal kesadaran konservasi alam lintas generasi yang berbasis sains. Beragam aktivitas dilakukan untuk terus menggugah dan menumbuhkan kepedulian serta meningkatkan pengetahuan generasi muda tentang pentingnya sumber daya alam dan lingkungan bagi manusia. 

Ekoliterasi (eco-literacy) atau melek ekologi, pertama kali dikemukakan oleh Fritjof Capra dalam bukunya berjudul The Web of Life: A New Understanding of Living Systems pada 1997 silam. Sejak itu, gagasan ekoliterasi terus berkembang menjadi salah satu solusi membangun kesadaran tentang pentingnya lingkungan hidup. 

Gagasan ini sangat penting bagi pegiat literasi, terutama BLI yang berperan memproduksi iptek dan inovasi LHK serta menyebarluaskan hasil-hasilnya. Generasi muda, sebagai salah satu target penyebaran iptek dan inovasi tersebut, harus mempunyai paradigma pro-lingkungan, karena mereka adalah pewaris sumber daya alam dan hutan di masa depan. 

Kini, di tengah pandemi Covid-19 yang juga harus dihadapi Indonesia selain degradasi alam dan lingkungan, ekoliterasi semakin menjadi kebutuhan. Apalagi berbagai hasil riset telah mengungkapkan, bahwa keanekaragaman hayati yang tinggi dapat melindungi kesehatan manusia dengan mengurangi tingkat penularan patogen sehingga mengurangi risiko penyakit menular tertentu. Aktivitas manusia yang mengeksploitasi satwa liar dan merusak habitat alaminya, telah meningkatkan peluang interaksi hewan-manusia dan memfasilitasi penularan zoonosis. Sekitar 60% dari semua penyakit menular manusia saat ini adalah zoonosis. 

Memperhatikan fakta di atas, ekoliterasi tidak boleh berhenti pada kemampuan generasi muda menyerap bacaan teks dan beragam wacana kontemporer ekologi. Ekoliterasi juga dituntut untuk mampu mengajak generasi muda mewujudkan pemahaman ekologinya dalam aksi nyata yang berkontribusi mengurangi persoalan-persoalan lingkungan hidup. Membaca harus diaktivasi dengan kegiatan menanam misalnya, sebagai manifestasi keberpihakan pada masa depan planet bumi.  

Aksi FORDA Ekoliterasi 

Icon FORDA Ekoliterasi mulai diusung BLI pada akhir 2019. Meski kegiatannya sendiri telah dilakukan sejak bertahun-tahun silam dalam berbagai kegiatan pameran hasil-hasil iptek dan inovasi, maupun menyediakan lokasi tempat magang siswa dan mahasiswa. Yang terbaru adalah mengembangkan kurikulum tematik mangrove untuk siswa SD di Kabupaten Indramayu, yang bahkan berhasil meraih penghargaan MURI

Baca juga: Wariskan Semangat Konservasi, BLI dan Mitra Kembangkan Kurikulum Tematik Mangrove 

Dalam momen Kehati Expo 2019, selama 30 hari, BLI menggelar FORDA Ekoliterasi dengan memamerkan berbagai publikasi terkait Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional.  Ratusan siswa sekolah dasar yang datang dari segala penjuru Jakarta hadir dan menikmati berbagai buku bacaan dan dongeng menarik tentang hutan dan satwa. 

Baca juga: