Dientry oleh Dyah Puspasari - 16 July, 2020 - 450 klik
Menteri LHK: Litbang Berperan Penting dalam Peradaban Manusia

" Penelitian dan pengembangan (litbang) mempunyai peran yang penting di dalam kemajuan peradaban manusia, kita tidak ragu tentang itu "

[FORDA]_”Penelitian dan pengembangan mempunyai peran yang penting di dalam kemajuan peradaban manusia, kita tidak ragu tentang itu,”kata Dr. Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), dalam sambutannya pada Upacara Pengukuhan Profesor Riset Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian LHK di Jakarta (16/7). 

Sejarah membuktikan bahwa penguasaan iptek menjadi tolok ukur kemajuan suatu bangsa. “Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat saat ini tak lepas dari kemajuan penelitian dan pengembangan di semua bidang, tak terkecuali di bidang lingkungan hidup dan kehutanan,”lanjutnya. 

Oleh karenanya, Menteri Siti berharap peneliti Kementerian LHK terus mengembangkan diri dan dituntut untuk mampu beradaptasi dan memegang peranan yang penting di dalam kemajuan iptek. 

Pengukuhan 3 Profesor Riset KLHK 

Hari ini, Kementerian LHK melaksanakan upacara pengukuhan 3 (tiga) profesor riset dengan bidang kepakaran ekonomi kehutanan dan kebijakan kehutanan; bidang hidrologi hutan; dan bidang teknologi perbenihan tanaman hutan, yaitu: 

  1. Prof. Ris. Dr. Satria Astana, dengan orasi “Membangkitkan Sektor Riil Kehutanan di Era Pembangunan Rendah Emisi” (peneliti pada Puslitbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim di Bogor)
  2. Prof. Ris. Dr. Irfan Budi Pramono, dengan orasi “Peningkatan Peran Hutan dalam Mengendalikan Hasil Air untuk Mitigasi Banjir dan Kekeringan” (peneliti pada Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS di Solo)
  3. Prof.Ris. Dr. Yulianti, dengan orasi “Pentingnya Standar Mutu Benih Tanaman Hutan di Indonesia” (peneliti pada Balai Litbang Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan di Bogor)

“Saya ingin menegaskan, bahwa bidang-bidang ini merupakan bidang dengan konteks yang sangat kuat untuk kemajuan Indonesia pada lingkup LHK,”ungkap Menteri Siti. 

Pengukuhan dilakukan oleh Ketua Majelis Pengukuhan Profesor Riset (MPPR), Prof.Ris. Dr. Pratiwi, didampingi oleh Menteri LHK dan Kepala BLI, Dr. Agus Justianto. 

“Secara nasional, profesor riset yang dikukuhkan hari ini adalah yang ke-553, 554 dan 555 dari 8709 peneliti. Secara instansi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, adalah profesor riset yang ke-27, 28 dan 29 dari 462 peneliti,”papar Prof.Ris.Dr. Pratiwi, saat menutup sidang pengukuhan. 

Dalam sambutannya, Menteri Siti menyampaikan selamat dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada tiga profesor riset yang baru saja dikukuhkan. Diakuinya ketiga profesor riset tersebut merupakan peneliti terbaik dan telah mengabdikan dirinya dalam kurun waktu yang panjang dalam kegiatan penelitian di lingkup KLHK. 

“Saya bangga juga ya, sudah punya 29 profesor riset di KLHK,” tegasnya.  

Membangkitkan Sektor Riil Kehutanan di Era Pembangunan Rendah Emisi 

Dalam orasinya, Prof. Ris. Dr. Satria Astana menyampaikan informasi kontribusi hasil hutan kayu, HHBK, dan jasa lingkungan sekaligus menawarkan 3 strategi untuk membangkitkan sekaligus mengurangi emisi sektor riil kehutanan. Pertama, meningkatkan produksi kayu HTI sebesar 9,5% pertahun. Kedua, memperbaiki property rights dalam pengelolaan hutan. Ketiga, mengoreksi distorsi harga kayu bulat di pasar dalam negeri untuk menjamin biaya pengelolaan hutan secara lestari dapat ditutupi oleh harga pasar kayu bulat. 

Kondisi saat ini, menurut Menteri, produksi kayu bulat dan HHBK mengalami kompleksitas persoalan masalah maupun kebijakan. Ini memerlukan rumusan strategi dan kebijakan untuk pengembangan peningkatan agar dapat berkontribusi lebih tinggi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. 

“Saya bergembira dengan temuan ini.  Sektor riil bidang kehutanan memberikan warna aktivitas perenokomian Indonesia kita.  Apalagi dengan atribusi rendah karbon yang saat ini semakin penting serta upaya pemerintah untuk terus memberantas illegal loging dan mengatasi degradasi hutan alam dan mendorong HHBK dan jasa lingkungan,”ujar Menteri Siti, menanggapi materi orasi Prof. Ris. Dr. Satria Astana. 

“Saya berterima kasih atas catatan-catatan ini yang secara langsung akan menjadi referensi bagi kebijakan di kementerian,”ungkapnya. 

Unduh: Buku Orasi dan Materi Presentasi

Peningkatan Peran Hutan dalam Mengendalikan Hasil Air 

Dalam orasinya, Prof. Ris. Dr. Irfan Budi Pramono menyampaikan bahwa peran hutan dalam mengendalikan hasil air dapat ditingkatkan melalui penerapan teknik konservasi tanah dan air. Ketidaktepatan pemilihan jenis pohon dan terlalu rapatnya tanaman di daerah kering  berpotensi mengurangi hasil air. Aspek sosial, ekonomi, budaya, dan kelembagaan perlu menjadi pertimbangan dalam meningkatkan peran hutan untuk untuk mengendalikan hasil air. 

Menanggapi hal tersebut, Menteri Siti mengatakan,”Subjek ini juga sangat relevan dan penting bagi KLHK, sebagaimana arahan yang terhormat Bapak Presiden, bahwa sejak 2 tahun lalu dan akan terus ke depan, kita akan lakukan langkah-langkah pemulihan lingkungan, ke depan jadi prioritas utama.” 

Saat ini KLHK sedang menyiapkan diseminasi pengetahuan tentang water balance, daya tampung dan daya dukung lingkungan bagi pejabat daerah, perencana wilayah pengendali lingkungan di daerah, arahnya agar semua langkah pemulihan memiliki prinsip-prinsip pengetahuan dan hubungan kausalitas kebijakan dalam sistem DAS. 

“Ini juga akan menjadi referensi langsung, dan nanti saya akan minta Dirjen DAS dan Kepala BP2SDM mengambil referensi ini juga untuk pelatihan e-learning yang sedang disiapkan,”tegasnya. 

Unduh: Buku Orasi dan Materi Presentasi

Pentingnya Standar Mutu Benih Tanaman Hutan 

Dalam orasinya, Prof. Ris. Dr. Yulianti memaparkan bahwa kesatuan mutu genetik, fisik, fisiologis, dan kesehatan benih, akan mempengaruhi performa benih, yang selanjutnya menentukan kualitas bibit hingga produktivitas tanaman di lapangan. Penggunaan benih bermutu dapat meningkatkan produktivitas 30%-50% riap volume pohon. 

Baca juga: Standar Mutu Benih, Inovasi untuk Tingkatkan Produktivitas Hutan

Hasil riset perbenihan BLI telah banyak diadopsi dalam penyusunan standar mutu benih dan masuk dalam Standar Nasional Indonesia (SNI). Standar penanganan benih generatif sebanyak 96 jenis (SNI 5006.12:2014), SNI standar pengujian benih tanaman hutan (SNI 8805:2019) sebanyak 86 jenis dan SNI standar mutu fisik fisiologis benih sebanyak 67 jenis (SNI 7627:2014). Ketiganya telah digunakan secara nasional oleh seluruh pemangku kepentingan perbenihan tanaman hutan di Indonesia dalam proses sertifikasi mutu benih tanaman hutan serta untuk mendapatkan akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) bagi lembaga pengujian mutu benih tanaman hutan. 

“Benih dan bibit sangat penting sebagai bagian dari upaya besar-besaran yang sedang dilakukan KLHK dalam bentuk rehabilitasi hutan dan lahan dalam rangka pemulihan lingkungan,”ungkap Menteri Siti dalam sambutannya. Oleh karenanya, KLHK terus mendorong pembibitan tanaman keras untuk memperbaiki hutan alam sambil terus melindungi hutan primer dan gambut.

Unduh: Buku Orasi dan Materi Presentasi

Di akhir sambutannya, Menteri Siti mengapresiasi penyelenggaraan pengukuhan yang telah berjalan dengan baik. Ia juga menyampaikan bahwa tugas berat berada di pundak para profesor riset. Sebagai gelar tertinggi bagi seorang peneliti, tentunya menuntut tanggungjawab yang semakin besar sesuai dengan bidang kepakarannya masing-masing. 

“Selamat bekeja dan terus berkarya. Indonesia dan dunia menunggu kontribusi nyata para profesor riset. Terima kasih atas dedikasi bagi negeri tercinta Indonesia,”pungkasnya. 

Dalam kerangka kerja "Adaptasi Kebiasaan Baru" disiplin protokol COVID-19, acara yang digelar di Auditorium Dr. Soedjarwo Gedung Manggala Wanabakti ini  dihadiri oleh sekitar 100 peserta, dan disaksikan secara daring oleh lebih dari 400 peserta melalui kanal Youtube dan Zoom BLI. Acara ini juga dihadiri oleh Wakil Menteri LHK, Ketua dan Sekreatris MPR LIPI, Kepala Biro Kepegawaian KLHK, Kepala Pusdatin KLHK, dan para undangan lain.*(DP)

Penulis : Dyah Puspasari
Editor : Yayuk Siswiyanti & Sahri Chair