Dientry oleh Risda Hutagalung - 29 May, 2020 - 160 klik
Peneliti Balitek KSDA Gagas Revisi Penetapan Rayon Wisata Alam

[Balitek KSDA] _Peneliti Kebijakan Balai Litbang Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) menggagas revisi penetapan rayon wisata alam. Gagasan yang disampaikan secara virtual di hadapan Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hidup dan Kehutanan - Ditjen KSDAE dan para Kepala Balai Besar/Balai KSDA/Taman Nasional, Rabu (13/5/2020) ini merupakan hasil kajian yang dilatarbelakangi masih banyaknya ketidaksesuaian kelas rayon wisata alam yang ada di lingkup KLHK dengan kondisi di lapangan.

“Pada tahun 2014, tercatat sebanyak 293 ODTWA yang ada di kawasan konservasi di seluruh Indonesia, tidak ada satu pun yang masuk Rayon I, hanya 18 objek saja yang masuk Rayon II, dan selebihnya masuk Rayon III,” ujar Suryanto, S.Hut., M.Si, Peneliti Kebijakan Balitek KSDA dalam presentasi hasil kajian “Usulan Revisi Permenhut P.36/Menhut-II/2014 tentang Tata Cara Penetapan Rayon di Taman Nasional, Tahura, Taman Wisata Alam dan Taman Buru”.

Menurut Suryanto dan tim kajian dari Puslitbang SEKPI, Subdit PLHK, dan assesor wisata nasional, penentuan kelas rayon yang kurang tepat mengakibatkan potensi penerimaan negara dari tarif wisata alam tidak optimal.

“Sebagai contoh, salah satu spot wisata alam di Taman Nasional yang sudah dikenal mendunia berada pada kelas Rayon III. Hal ini tentunya suatu kerugian bagi kita,” ujar Suryanto.

Hal inilah yang memunculkan gagasan untuk melakukan perbaikan kriteria indikator penetapan rayon sehingga dapat menilai suatu lokasi wisata alam secara objektif. Dari hasil kajian Permenhut P.36/2014, tim mengusulkan penyederhanaan kriteria dari 7 kriteria menjadi 4 kriteria saja.

Tim juga menyatakan bahwa penilaian rayon yang diusulkan ini lebih humanis karena mengambil perspektif konsumen/pengunjung. Pendekatan kriteria yang diusulkan tersebut ialah 3A+, yaitu aksesibilitas (Accessibility), daya tarik (Attraction), kenyamanan (Amenity), dan info tambahan (Ancilary/Profile).

Setiap kriteria dibagi menjadi beberapa indikator penilaian yang menggabungkan penilaian kuantitatif dan kualitatif sehingga mempermudah pengelola untuk melakukan self assessment terhadap wisata alam yang dikelolanya. Sebagai contoh, kriteria aksesibilitas menggunakan indikator jarak dipadukan dengan kondisi jalan. Contoh lainnya, kriteria kenyamanan (amenity) menggunakan indikator ketersediaan tempat menginap dipadukan dengan tarif inap.

“Output dari penilaian itu nantinya berupa angka yang akan menentukan kelas rayon suatu ODTWA (Objek Daya Tarik Wisata Alam),” jelas Suryanto.

Mengapresiasi hasil kajian tersebut, Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Nandang Prihadi, M.Sc akan menindaklanjutinya dengan bersurat kepada UPT lingkup KSDAE.

“Kita akan buat surat kepada seluruh balai agar setiap satker melakukan ujicoba penilaian objek wisata masing-masing. Masing-masing menugaskan dua orang staf yang paham tentang lokasinya sehingga diharapkan diperoleh nilai (kelas rayon-red) yang sesuai,” ujar Nandang yang disambut baik oleh para peserta.

Kepala Balitek KSDA, Dr. Ishak Yassir pada kesempatan tersebut juga menyampaikan apresiasi sekaligus ucapan terima kasih kepada pihak Direktorat PJLHK yang telah memfasilitasi acara ini. “Saya mewakili manajemen BAlitek KSDA menyampaikan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada peneliti kami untuk memaparkan kajiannya kepada Bapak Ibu di lingkup Dirjen KSDAE. Harapan kami, apa yang telah kami lakukan tersebut dapat berkontribusi positif terhadap pengelolaan wisata alam lingkup KLHK,” kata Ishak Yassir.

Ke depan, hasil ujicoba penilaian yang dilakukan oleh para pengelola ini akan ditindaklanjuti oleh tim kajian guna penyempurnaan dan penajaman kriteria dan indikator penetapan rayon hingga menjadi draft usulan revisi Permenhut P.36/Menhut-II/2014.***