Dientry oleh Risda Hutagalung - 31 March, 2020 - 170 klik
Peneliti BP2LHK Palembang: Potensi Pengembangan Biomassa di Sumatera Selatan Sangat Besar

[BP2LHK Palembang] _Potensi pengembangan biomassa di Sumatera Selatan sangat besar. Hal ini disampaikan Peneliti Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Palembang, Hengki Siahaan, mengingat luasnya kawasan hutan dan lahan kritis yang terlantar di Sumatera Selatan, yang bisa dimanfaatkan untuk membangun sumber energi biomassa.

Selain itu, menurut Hengky ada tujuh jenis kayu lokal Sumatera Selatan yang sangat potensial dikembangkan sebagai kayu energi di lahan kritis yang mencapai 312.864 ha tersebut. Ketujuh jenis tersebut yaitu lamtoro (Leucaena leucocepala), kayu pelawan (Tristaniopsis obovata), kayu laban (Vitex pubescens), kayu talok (Microcos tomentosa), kayu seru (Schima wallichi), kayu plangas (Aporosa nervosa), dan kayu betih (Decaspermum humile).

 “Sebenarnya semua jenis kayu bisa dijadikan bahan bakar, tapi harus juga dipertimbangkan nilai kalor, tingkat pertumbuhan dan juga adaptasinya kalau ingin dikembangkan sebagai kayu energi,” kata Hengki dalam laporan hasil penelitiannya.

Kecuali lamtoro, keenam jenis kayu tersebut telah dikembangkan di demplot seluas 4 ha di KHDT Kemampo sejak tahun 2016.  Hasil uji pertunasan dan penanaman, kayu-kayu jenis lokal ini mempunyai produktivitas tunas yang tinggi, adaptif dan mudah dikembangkan dengan sistem pangkas.

“Dari keenam jenis tersebut, yang mempunyai nilai kalor yang relatif sama adalah kayu seru dan kayu laban, yaitu berkisar antara 4.356 dan 4.302 Kcal/kg. Sedangkan berat jenis untuk keenam jenis kayu tersebut umumnya tergolong sedang berkisar antara 0,58 sampai 0,67 kg/cm3, kecuali untuk jenis pelawan dengan berat jenis mencapai 1,18 kg/cm3. Kemampuan bertunas untuk keenam jenis ini sama-sama tinggi,” terang Hengki.

Dijelaskannya, budidaya jenis-jenis kayu energi ini dilakukan secara generatif melalui pengecambahan biji atau menggunakan anakan alam di bawah tegakan induk. Penanamannya dilakukan setelah bibit dipelihara di persemaian selama 6 bulan dengan jarak tanam yang bervariasi, yaitu 2 m x 1 m; 2 m x 1,5 m; 1,5 m x 1,5 m, dan 1,5 m x 1 m.

“Ini dimaksudkan untuk mengetahui jarak tanam yang paling efektif dalam pengembangan masing-masing jenis kayu energi,” ujarnya.

Secara periodik, tanaman-tanaman ini diukur untuk mengetahui pertumbuhannya masing-masing, dan pengujiannya dilakukan dengan menghitung tingginya nilai kalor, berat jenis, dan kemampuan bertunas ketika dipangkas.

Untuk memperoleh kayu energi dengan produktivitas yang tinggi, Hengki mengingatkan, pemangkasan (coppicing) juga merupakan hal terpenting yang perlu diperhatikan. Pemangkasan pada batang atau cabang utama dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pertumbuhan tanaman.

“Kita menggunakan sistem pangkas-tunas (coppice system) untuk mempercepat daur pemanenan, sehingga mana jenis kayu energi yang layak dikembangkan akan cepat kita ketahui,” tambahnya.

Harapan Hengki, dengan mengembangkan potensi energi biomassa yang dimilikinya, Sumatera Selatan dapat mendukung pemenuhan kebutuhan energi alternatif di Indonesia nantinya, sebagaimana kebijakan pemerintah tentang bauran energi nasional.

Pengembangan energi baru dan terbarukan ini, diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia akan energi fosil guna mencapai kedaulatan energi nasional, serta secara langsung membantu pemerintah Indonesia dalam upaya mencapai target penurunan emisi efek rumah kaca. 

Walaupun demikian, dalam pelaksanaannya juga masih terdapat terkendala. Salah satu faktor penghambat pengembangan energi biomassa di Indonesia adalah lemahnya tingkat kompetisinya secara ekonomi dengan energi fosil. Selain itu, minimnya penyediaan infrastruktur dan teknologi pengolah juga menjadi tantangan lainnya.

“Oleh karena itu, pengembangan energi biomassa perlu didukung oleh kebijakan pemerintah melalui regulasi yang relevan,” ujar Hengki.

Sebagai informasi, di tingkat global, trend pemanfaatan energi yang lebih hijau, lebih bersih, dan terdesentralisasi ini banyak digaungkan dan disambut baik penggunaannya karena akan mendorong terjadinya regenerasi hutan alam, menurunnya laju deforestrasi, dan mempertahankan tutupan hutan, serta pengembangan manajemen hutan yang intensif serta peningkatan efisiensi pemanfaatan lahan kosong dan lahan pertanian.***