Dientry oleh Risda Hutagalung - 26 March, 2020 - 103 klik
Kajian Biodiversitas TN. Kayan Mentarang di Areal Terdampak Proyek PLTA untuk IKN Baru

[Balitek KSDA] _Berpartisipasi mengkaji biodiversitas areal terdampak dari proyek PLTA 1.375 MW di Taman Nasional (TN) Kayan Mentarang, Balai Litbang Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA) mengirimkan dua orang personilnya, yaitu peneliti dan teknisi bergabung dalam tim survei. Bersama tujuh orang lainnya dari TN. Kayan Mentarang dan PT. Kahayan Hidropower Nusantara, Tim Balitek KSDA melakukan survei singkat kondisi biodiversitas di Resort Sungai Tubu, SPTN Wilayah II - TN. Kayan Mentarang.

Seperti diketahui dari pemberitaan media, proyek pembangunan PLTA 1.375 MW ini telah ditinjau oleh Presiden Joko Widodo pada akhir tahun lalu, Desember 2019. Pembangunan PLTA ini adalah bagian dari proyek strategis nasional untuk menyuplai kebutuhan listrik Provinsi Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur. Sebagian suplai listrik kedepannya akan digunakan untuk mendukung pengembangan Ibu Kota Negara (IKN) baru di Kalimantan Timur dan Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Kalimantan Utara.

Aspek yang diamati pada survei yang dilaksanakan selama 15 hari, pada 23 Februari hingga 8 Maret ini meliputi vegetasi, aves, mamalia, dan herpetofauna. Peneliti Balitek KSDA, Mukhlisi, S.Si., M.Si membantu pengamatan satwa, sedangkan teknisi Balitek KSDA, Priyono berperan dalam pengenalan jenis pohon. Dalam pelaksanaannya, kegiatan survei juga dibantu oleh kelompok masyarakat adat Dayak Punan yang bermukim di sekitar Sungai Tubu.

Dari survei yang dilakukan, Mukhlisi memberi gambaran, Sungai Tubu masih memiliki biodiversitas yang beragam, meskipun sebagian diantaranya adalah bekas perkampungan Dayak Punan yang direlokasi pemerintah sejak tahun 1970an.

“Kami masih menemukan jejak macan dahan (Neofelis diardi borneensis) serta kelompok primata endemik Kalimantan Utara, Lutung Bangat (Presbytis hosei). Sebanyak 70an jenis burung dan 30an jenis herpetofauna juga turut terdata dalam survei ini,” ujar Mukhlisi.

Tamsil, S.Hut, Kepala SPTN Wilayah II menjelaskan bahwa lokasi pengamatan diprioritaskan di sepanjang anak Sungai Tubu, seperti Kuala Rian, Menabur, dan Belanga. Areal taman nasional tersebut diprediksi akan terendam seluas 256 Ha akibat pembangunan PLTA. Sungai Tubu merupakan pecahan dari Sungai Mentarang, lokasi PLTA yang akan dibangun dengan cara membendung aliran sungainya.

Misoniman, A.Md, Kepala Resort Sungai Tubu mengakui bahwa informasi ilmiah biodiversitas yang diperoleh di wilayah Sungai Tubu masih sangat minim. Hal ini disebabkan banyaknya tantangan untuk dapat melakukan survei di sepanjang aliran sungai pada wilayah ini, karena lokasi yang sulit dijangkau, topografi terjal, serta diperlukan ketahanan fisik untuk berjalan kaki di aliran sungai deras berbatu.

“Hasil survei ini akan menjadi basis data dalam perencanaan pembangunan PLTA di TN. Kayan Mentarang, khususnya tentang dampak yang mungkin ditimbulkannya terhadap aspek biodiversitas yang ada di sana,” ujar Misoniman.

“Laporan dari hasil survei ini akan diteruskan ke Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam Kementerian LHK di Jakarta,” tambah Misoniman.***