Dientry oleh Risda Hutagalung - 18 February, 2020 - 52 klik
Inovasi Mikoriza Dukung Restorasi Gambut Berkelanjutan

P3H (Bogor, Februari 2020) _Salah satu kontribusi nyata dukungannya dalam pengelolaan gambut berkelanjutan, Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (Puslitbanghutan), telah melakukan penelitian rehabilitasi ramin, dan inovasi pemanfaatan mikoriza sebagai media tanam bibit untuk lahan gambut. 

Penelitian ini telah dilakukan sejak tahun 2016 oleh peneliti Puslitbanghutan, Dr. Maman Turjaman yang dalam pengembangannya di lapangan bekerja sama dengan PT. APP Sinas Mas. Hasilnya, hingga saat ini tercatat telah ada 50 koleksi isolat fungi mikorhiza arbuskula yang diperoleh dari areal konsesi PT. APP Sinar Mas Sumatera dia Riau, Jambi dan Sumatera Selatan.

“Inovasi ini merupakan bentuk model restorasi gambut yang berkelanjutan, karena bersifat ramah lingkungan (eco-friendly) tanpa polybag, akar akan tumbuh baik,  dan media tanam lebih padat, serta berpotensi untuk dikembangkan oleh masyarakat lokal,” jelas Maman di acara Kick Off Kerja Sama Penelitian Lahan Gambut di kantor CIFOR, Bogor, Jumat (14/2/2020). 

Sebelumnya, saat membuka acara, Kepala BLI KLHK, Agus Justianto mengatakan, berbagai penelitian, teknologi, dan inovasi terkait gambut yang melibatkan para pemangku kepentingan (stakeholder) dan multi manajemen, serta sinergisitas antar stakeholder, sangat penting sebagai pengembangan mendukung pengelolaan gambut, untuk kelestarian gambut dan kesejahteraan masyarakat lokal. 

“Tantangan pengelolaan gambut adalah sangat dinamis, tidak hanya terkait konservasi, restorasi, keanekaragaman hayati, tapi juga untuk meningkatkan produktivitas dari hutan gambut, serta tata kelola. Banyak stakeholder yang peduli dan sangat terkait dengan gambut, sehingga  memberikan dampak langsung,” ujar Agus.

Di hadapan para undangan yang hadir, Agus menegaskan, ITPC berdiri untuk memastikan metadata, identifikasi kesenjangan teknologi, dan persyaratan yang diperlukan dalam pengawasan restorasi, konservasi ekologi gambut, dan berbagi pengetahuan antar berbagai negara, serta sebagai sarana promosi praktik-praktik terbaik (best practices) dalam pengelolaan gambut, agar dapat memberi manfaat untuk mendukung ketersediaan air dan pengelolaan gambut. 

“Kami juga ingin membangun kemitraan dan komunikasi antar stakeholder, bukan hanya antar pengambil kebijakan tapi juga para praktisi,” ujarnya di kick off yang merupakan bagian dari program kegiatan International Tropical Peatlands Center (ITPC) memasuki dua tahun setelah diresmikan Menteri LHK ini. 

Dengan adanya kegiatan kick off  ini, Agus berharap dapat terbangun referensi restorasi ekologi dan manfaat ekosistem gambut dari berbagai sumber, serta para mitra dapat mengimplementasikan ilmu-ilmu yang diperoleh dalam mendukung pengelolaan gambut berkelanjutan. 

Terkait itu, Elim Sritaba, perwakilan PT. APP Sinar Mas menyampaikan apresiasinya terhadap mikoriza inovasi BLI KLHK dan dukungan dari ITPC. “Kegiatan ini sangat sejalan dengan tujuan organisasi, karena sebagai salah satu perusahaan kertas terbesar di Indonesia, kami telah berkomitmen bagaimana menemukan best practices dalam pengelolaan gambut dan resrorasinya, dengan melibatkan beberapa mitra pakar,” ujar Elim. 

“Kami menyadari bahwa areal kerja kami adalah lahan negara, sehingga kami harus mematuhi regulasi, dan melakukan kolaborasi untuk terus belajar, serta pengembangan praktik-praktik pengelolaan gambut terbaik, khususnya dalam mendukung restorasi di 7.000 hektar areal kerja kami,” ujar Elim. 

Selain Kepala BLI KLHK dan Koordinator ITPC, acara tersebut juga dihadiri Kepala Puslitbanghutan, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI), perwakilan Sekretariat BLI KLHK, CIFOR, ICRAF, serta para ilmuwan dan akademisi dari Balai Besar Litbang Bioteknologi, dan Pemuliaan Tanaman Hutan BLI KLHK di Yogyakarta, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan National University of Singapore (NUS) Environmental Research Institute.***