Dientry oleh Risda Hutagalung - 13 February, 2020 - 46 klik
Menuju Restorasi di Daerah Asalnya, 400 Tunas Cendana Klon Unggul B2P2BPTH Diaklimatisasi

B2P2BPTH (Yogyakarta, 2020) _Senin (27/1/2020) lalu menjadi salah satu hari tersibuk di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta. Pada hari itu, kegiatan penelitian aklimatisasi dengan teknik microcutting dilakukan tim peneliti cendana bersama teknisi lab. Tidak tanggung-tanggung, 400 tunas cendana hasil perbanyakan invitro dari klon unggulan yang ditujukan untuk membangun kebun benih klon di Nusa Tenggara Timur (NTT), daerah asalnya dan di Gunungkidul sebagai daerah pengembangan cendana di Indonesia, diaklimatisasi pagi itu.

“Aklimatisasi merupakan salah satu tahapan dalam kultur jaringan yang bertujuan untuk mempersiapkan tanaman untuk beradaptasi secara bertahap dengan lingkungan luar. Tanpa adanya tahapan aklimatisasi yang sesuai, tunas hasil perbanyakan kultur jaringan berpotensi besar mengalami kematian yang tinggi secara cepat”, jelas Yohannes Wibisono, S.Hut.,M.For.Ecosys.Sc., salah seorang tim peneliti.

“Teknik microcutting dalam aklimatisasi dilakukan dengan cara menanam tunas hasil perbanyakan tanpa melalui fase perakaran invitro. Pengakaran tunas bersamaan dengan aklimatisasi diharapkan dapat memangkas sumber daya dan waktu yang dibutuhkan,” sambungnya.

Terkait itu, Liliek Haryjanto, S.Hut.,M.Sc. pakar cendana B2P2BPTH menyebutkan, melalui teknik microcutting diharapkan klon-klon tersebut dapat dimultiplikasi dalam jumlah banyak dengan efisien dan diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam peningkatan keberhasilan restorasi populasi cendana di Indonesia, khususnya di Provinsi NTT.

“Kita ingin memulangkampungkan cendana ke asalnya dengan klon unggul yang kita miliki,” ujar Kepala B2P2BPTH, Dr. Nur Sumedi, S.Pi., MP. menambahkan apa yang disampaikan Liliek. Lebih jauh, pengembangan klon cendana unggul tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai informasi, B2P2BPTH Yogyakarta yang dikenal dengan sebutan BIOTIFOR ini telah memiliki beberapa koleksi klon unggul cendana hasil seleksi dengan produktivitas kadar santalol tinggi. Beberapa klon bahkan memiliki kandungan santalol sesuai standar minimal perdagangan global ISO 3518 2002 yaitu kandungan senyawa a- dan b-santalol masing-masing 41-55% dan 16-24%.

Sebagaimana diketahui, cendana dari Indonesia adalah jenis Santalum album yang merupakan jenis sandalwood yang paling banyak mengandung minyak (6-7%) dibandingkan dengan jenis sandalwood lainnya seperti S. yasi (5%), S. austrocaledonicum (3-5%), S. spicatum (2%) dan S lanceolatum (1%).

Mengerahkan 7 orang, pekerjaan aklimatisasi 400 tunas cendana tersebut berhasil diselesaikan hanya dengan waktu 2 jam saja. Hal ini dirasa cukup signifikan, mengingat kegiatan serupa pernah dilakukan pada Oktober 2019 dengan personil sebanyak 4 orang, memakan waktu hingga 4 jam.***(WB)

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan :

Jl. Palagan Tentara Pelajar KM15 Purwobinangun Pakem Sleman DI Yogyakarta (Indonesia)

Email                : breeding@biotifor.or.id

Website            : www.biotifor.or.id

Instagram          : www.instagram.com/biotifor_jogja

Facebook         : www.facebook.com/Balai-Besar-Litbang-BPTH-187407891327294

E-Journal             : http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPTH/index