Dientry oleh Risda Hutagalung - 27 December, 2019 - 916 klik
Purun, Bahan Alternatif Sedotan Ramah Lingkungan

BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, Desember 2019) _Belum lama ini, Kamis (7/11/2019), peneliti Balai Litbang LHK Banjarbaru, Marinus K Harun, M.Sc berbagi pengetahuan kepada ibu-ibu PKK dan pengurus Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Desa Tumbang Nusa tentang penggunaan purun sebagai bahan alternatif sedotan ramah lingkungan atau eco-straws. Pelatihan yang diikuti 35 orang peserta dan dilakukan di Balai Desa Tumbang Nusa, Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan.

Pada pelatihan ini masyarakat diajarkan tahapan bagaimana mengolah Purun Danau (Lepironia articulata) yang banyak ditemukan di sekitar wilayah Tumbang Nusa menjadi sedotan ramah lingkungan yang bernilai tinggi. Adapun tahapan-tahapan pembuatan sedotan purun adalah pembersihan dengan selang bertekanan tinggi, pencucian dengan sabun, pemotongan batang , pelubangan bagian dalam, pembilasan, dan sterilisasi dengan tambahan sereh wangi. Tak hanya sampai di situ, kegiatan ini dilanjutkan dengan kegiatan pengeringan, serta edukasi terkait pengemasan dan pemasaran.

“Saat ini, sudah ada beberapa bahan alternatif pengganti plastik untuk sedotan yakni bambu, kulit buah jagung, batang jerami, batang kangkung, sedotan dari cereal dan agar-agar dari rumput laut. Di lahan gambut, kita memiliki sumberdaya melimpah yang dapat digunakan sebagai sedotan ramah lingkungan yakni Purun”, terang Marinus.

Penggunaan purun sebagai bahan alternatif sedotan ramah lingkungan ini memiliki banyak kelebihan, yakni (a) pertama, mengurangi sampah sedotan plastik yang diketahui menjadi salah satu penyebab besar pencemaran lingkungan, terutama lautan, (b) kedua, menjawab demand masyarakat terhadap peningkatan kesadaran untuk menjaga lingkungan melalui gaya hidup ramah lingkungan, (c) sebagai upaya untuk menumbuhkan ekonomi lahan basah. Dalam jangka panjang, penggunaan purun ini diharapkan juga dapat mencegah terjadinya kebakaran hutan di wilayah lahan rawa gambut.

Sebagai informasi, penggunaan purun sebagai alternative eco-straw ini sudah banyak dikenal di berbagai daerah terutama luar negri. Sedotan Purun pertama kali diproduksi secara komersial oleh seorang pria berkewarganegaraan Vietnam bernama Tran Minh. Di Indonesia, sedotan purun telah diproduksi oleh Yayasan Purun Eco Straw yang berada di Provinsi Bangka Belitung (Babel), dan dipasarkan dengan merk dagang “Purun Eco Straw”.***(saf)

Penulis : SAF