Dientry oleh Dyah Puspasari - 27 December, 2019 - 622 klik
Merentas Jalan Wisata Ilmiah Fosil Kayu Gorontalo

BLI (Gorontalo, Desember 2019)_Gorontalo, provinsi yang terkenal akan keindahan danau Limboto-nya, serta eksotisme deretan pegunungan karst sepanjang garis pantai di Teluk Tomini, ternyata menyimpan potensi wisata ilmiah yang terpendam, yakni fosil kayu. Penelitian paleobotani yang dilakukan Puslitbang Hasil Hutan (P3HH) Badan Litbang dan Inovasi (BLI) pada 2017 lalu di Gorontalo, menemukan beberapa fosil kayu.  Fosil tersebut masih dalam proses identifikasi dan diperkirakan berumur jutaan tahun yang lalu (antara masa Pliosen dan Plistosen). Hal ini mengindikasikan bahwa wilayah tersebut memiliki potensi sebagai salah satu sumber keragaman jenis fosil kayu di Indonesia. 

Fosil kayu Indonesia memiliki informasi ilmiah, nilai historis dan estetika yang luar biasa. Potensi tersebut, apabila dikelola dengan baik apalagi dipadukan dengan keindahan lanskap geologi kawasan, dapat menjadi salah satu tujuan wisata ilmiah sejarah hutan tropis purba kelas dunia.

Potensi itu yang telah dikembangkan oleh beberapa negara seperti Yunani, Arizona, Mississippi dan Thailand dengan membangun taman nasional fosil kayu. Keberadaan taman-taman tersebut, selain bertujuan untuk konservasi yakni perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan secara lestari, juga terbukti mampu menghadirkan banyak wisatawan domestik dan mancanegara sehingga mendatangkan manfaat ekonomi yang signifikan dan berkelanjutan bagi masyarakat setempat. 

Baca juga: Penyelamatan Sejarah Hutan Tropis Purba Melalui Konservasi Fosil Kayu

 

Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia (MPFKI) di Gorontalo 

Provinsi Gorontalo adalah satu-satunya daerah di Indonesia yang memiliki pusat koleksi fosil kayu. Oleh Yosep Tahir Ma'ruf (alm), selaku pendiri dan pemiliknya, tempat ini diberi nama Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia (MPFKI).  Tim FORDA Ekspedisi berkesempatan mengunjungi museum tersebut serta menelusuri jejak sejarah dan lokasi penemuan fosil kayu. 

Daerah Gorontalo, berdasarkan struktur geologi Sulawesi, merupakan bagian dari lajur volkano-plutonik Sulawesi Utara yang dikuasai oleh batuan gunung api Eosen-Pliosen dan batuan terobosan. Posisi tektonik tersebut menjadikan Gorontalo berpotensi memiliki sumber daya alam fosil kayu. 

Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia (MPFKI) tepatnya berada di Desa Bongo yang terletak di Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. Tim bertemu  Hasan selaku pengelola museum. Dalam perbincangan hangat tersebut, Hasan menuturkan bahwa diperkirakan pada zaman purba, Danau Limboto dahulunya merupakan sebuah kubah besar gunung api purba yang meletus secara dasyat dan material vulkanisnya menyelimuti dan mengubur pepohonan purba. Batang pepohonan purba yang tertutup abu vulkanis halus (terpa) tersebut mengalami proses pengerasan sampai menjadi fosil dalam kurun waktu jutaan tahun. Penuturannya tersebut mengutip hasil kajian ilmiah yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo beberapa tahun silam. 

Melanjutkan penuturannya, inisiatif pembentukan  MPFKI datang secara spontan. Kala itu, Yosep Tahir Ma'ruf (am) yang merupakan keturunan bangsawan Kerajaan Bubohu dan pengasuh pondok pesantren alam, berinisiatif untuk mempercantik lingkungan pesantren dengan aneka ragam bebatuan dengan bantuan Hasan. 

Suatu ketika, Hasan mengumpulkan dan menunjukkan 11 kepingan batu dengan tekstur kayu yang diperolehnya dari daerah sekitar Sungai Tohupo dan serta merta Yosep Tahir Ma'ruf (alm) tertarik untuk mengumpulkan batu palapa (istilah lokal untuk fosil kayu) tersebut. Selama kurun waktu 2013-2014, beragam jenis dan ukuran fosil kayu dikumpulkan dari sepanjang aliran sungai tersebut dan ladang jagung di sekitarnya.  Fosil-fosil kayu tersebut selanjutnya ditata tersebar di kompleks museum, yang memiliki luas ±  4 hektar. 

Penemuan fosil kayu di daerah ini berawal dari maraknya aktivitas penambangan galian C (pasir dan batu koral). Fosil kayu ikut tergali oleh alat ekskavator yang digunakan penambang. Saat itu, dan bahkan hingga kini, kebanyakan bebatuan kayu tersebut disisihkan oleh penambang dan dibiarkan teronggok begitu saja di sekitar tebing dan tepi sungai di sana. Selain itu, kepercayaan masyarakat bahwa benda-benda purba memiliki nilai magis memberikan dampak positif terhadap keberadaan fosil kayu di alam. Oleh karenanya, kondisi fosil kayu di Gorontalo masih jauh lebih baik daripada daerah lain yang telah tereksploitasi untuk perdagangan.

 

Potensi Wisata Ilmiah MPFKI

Dibuka secara resmi pada 2015, Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia (MPFKI) berupa lanskap yang dilengkapi dengan taman dan home stay, ternyata menarik perhatian pengunjung. Tak kurang dari 3.000 orang per-bulannya berkunjung ke museum tersebut.

Daya tarik lainnya adalah pengunjung tidak perlu membayar sepeser pun untuk masuk ke sana. Pengelolanya, yang merupakan keluarga besar Bapak Yosep, membebaskan bea masuk. Namun bagi para pengunjung yang sukarela membantu biaya perawatan museum dapat memasukkan berapapun nominal sesuai kemampuannya ke dalam kotak sumbangan. Tak hanya wisatawan domestik, wisatawan mancanegara berasal dari Eropa dan Amerika pun pernah berkunjung ke museum tersebut. Uniknya, setiap pengunjung diwajibkan memasukkan kelereng yang usut punya usut berfungsi sebagai alat penghitung jumlah pengunjung. 

Di museum ini, pengunjung tidak hanya dapat menikmati koleksi fosil kayu, melainkan dapat melihat dan memperoleh informasi tentang 1) Sejarah Gorontalo, 2) Desa Wisata Religius Bubohu, 3) Pesantren Alam Bubohu, 4) Masjid Walima Emas Bubohu , serta 5) Laboratorium Pertanian Organik berbahan utama eceng gondok. Di lokasi ini terlihat suatu bak penampungan air guna pengairan tanaman, baik sayuran, palawija dan juga kurma yang ditanam di sana. Semua kegiatan tersebut berlangsung di wilayah yang dulunya merupakan pusat Kerajaan Bubohu. 

Beberapa tahun terakhir, pihak pengelola melakukan beberapa acara penunjang berupa Festival Walima dan pentas seni tarian. Festival tersebut merupakan agenda tahunan yang bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi. Beragam kegiatan berupa karnaval, bazar dan pentas tarian dilaksanakan selama festival berlangsung. Pada karnaval, para peserta akan mengarak gunungan yang berisi kue-kue mengelilingi kampung dan selanjutnya gunungan kue tersebut akan diperebutkan oleh para pengunjung. Keseruan karnaval tersebut juga menjadi daya tarik wisata di MPFKI. 

Memperhatikan keunikan dan daya tarik landskap serta potensi fosil kayu di MPFKI, Tim FORDA Ekspedisi melihat sebuah potensi besar untuk merekomendasikan kawasan ini sebagai salah satu destinasi pariwisata, khususnya wisata ilmiah, di Gorontalo, Indonesia dan bahkan dunia. Ini juga merupakan sebuah strategi konservasi dan penyelamatan sumber daya alam fosil kayu yang bernilai ilmu pengetahuan yang tinggi. 

Baca juga: Riset Paleobotani Upaya Penyelamatan Sejarah Hutan Tropis Purba Indonesia                                                                

Wisata Ilmiah Fosil Kayu: Sebuah Tantangan  

Koleksi fosil kayu di Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia (MPFKI) tersebut, saat ini belum memiliki keterangan apapun. Infomasi botanis dan sejarahnya belum tersedia, sehingga pengunjung saat ini hanya menikmati fosil kayu sebagai sebuah koleksi yang menarik. Oleh karenanya, menuju pembangunan wisata ilmiah fosil kayu adalah sebuah tantangan dan memerlukan jangka waktu cukup panjang. Aspek pemetaan potensi, identifikasi jenis, kelembagaan, pemasaran adalah sebagian dari banyak aspek yang harus disiapkan. 

Tim FORDA Ekspedisi dalam kunjungan ke MPFKI, telah mencoba memetakan para pihak yang harus terlibat serta agenda-agenda yang harus dilaksanakan untuk mewujudkan hal tersebut.Sebuah konsorsium institusi sebagai pelaksana program, mutlak harus dibangun.  

Dalam konteks wisata ilmiah fosil kayu, yang mana Badan Litbang dan Inovasi (BLI) adalah yang terdepan dalam iptek identifikasi kayu, maka Sekretariat BLI akan memainkan peran fungsi koordinatif dengan Pusat Litbang Hasil Hutan (P3HH) sebagai tim peneliti utama. Staf Ahli Menteri LHK bidang Hubungan Pusat dan Daerah dibantu UNESCO akan menjadi pengarah. Para mitra kerja yang akan dilibatkan antara lain kementerian yang menangani biodiversitas, pariwisata, kepemerintahan daerah-pusat, pekerjaan umum, pendidikan budaya; masyarakat/komunitas wisata, KPH; pengusaha yang berkecimpung dalam wisata seperti travel, perhotelan; industri kecil-menengah; Lembaga Swadaya Masyarakat; serta komunitas internasional.*(RAH)

Penulis : Rattah Pinusa Handisa