Dientry oleh Risda Hutagalung - 06 December, 2019 - 884 klik
Pertama di Indonesia, Rumah Singgah Peduli Kanker "Arang Bambu" Diresmikan

BLI (Aek Nauli, Desember 2019) _Ada kabar baik bagi para penderita kanker. Hari ini, Jumat (6/12/2019), Rumah Singgah Peduli Kanker "Arang Bambu” pertama di Indonesia diresmikan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Peresmian rumah singgah peduli kanker berbasis hutan dan hasil hutan yang digagas Badan Litbang dan Inovasi (BLI) ini ditandai dengan pengguntingan pita oleh Sekretaris BLI bersama CTECH Labs (Edwar Technology) selaku mitra.

“Peresmian Rumah Singgah Peduli Kanker ini adalah wujud inisiasi BLI terhadap pengobatan kanker dari Iptek dan inovasi hasil litbang BLI,” ujar Sekretaris BLI, Dr. Sylvana Ratina, dalam sambutannya di hadapan para undangan dan awak media yang hadir, sesaat sebelum peresmian.

Terkait itu, inisiator Rumah Singgah Peduli Kanker di Aek Nauli ini, Dr. Dwi Sudharto yang saat itu menjabat Kepala Pusat Litbang Hasil Hutan (P3HH) mengatakan, penerapan teknologi arang terpadu dan bambu ini adalah kontribusi P3HH dalam mendukung smart eco-tourism di kawasan Danau Toba. Seperti diketahui, pengembangan Danau Toba merupakan salah satu program Prioritas Nasional saat ini.

“P3HH, salah satu Pusat Litbang BLI telah memformulasikan tahapan rencana pengembangan “Rumah Singgah Peduli Kanker” di BP2LHK Aek Nauli bekerja sama dengan CTECH Labs (Edwar Technology) untuk ujicoba dan mengaplikasikan kombinasi teknologi arang terpadu dan bambu, inovasi BLI dengan teknologi alat kesehatan Dr. Warsito yaitu ECCT (Electro Capacitive Cancer Therapy) yang berbentuk rompi, selimut dan lain-lain pada hewan dan manusia,” ujar Dwi.

“Selain itu kerja sama juga dilakukan dengan LIPI untuk pengembangan jenis bamboo melalui modifikasi genetik untuk pencegahan dan pengobatan kanker atau yang kami sebut “bambu kanker”,” tambah Dwi.

Dalam penjelasannya, Dwi mengatakan, diresmikannya “Rumah Singgah Peduli Kanker” hari ini adalah permulaan dalam grand design "Carbon Bamboo Cancer Care Center" yang telah disusun untuk dapat diwujudkan dalam waktu lima tahun kedepan.

Dalam rumah singgah ini, pengunjung akan mendapatkan produk-produk teknologi pengolahan dan pemanfaatan bambu seperti mebel, flooring, papan lamina, dan produk kesehatan fungsional olahan bambu hasil penelitian unggulan seperti arang teh celup, asap cair bambu, arang kosmetik, arang kapsul, kaosarang, serta rompi terapi kanker.

Jika nanti bambu kanker sudah dihasilkan dalam dua tiga tahun kedepan, masyarakat dapat membawa bibit bambu kanker unggul untuk ditanam di tempat masing-masing. Selain itu, sebagai rangkaian wisata ilmiah ini, juga telah dikembangkan juga rumah tungku sebagai media belajar membuat arang terpadu sekaligus untuk memproduksi berbagai produk kesehatan tersebut.

Mewakili CTECH Labs (Edwar Technology), Suhaemi menjelaskan bahwa Rumah singgah ini juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat beristirahat, sebagai forest healing, bagi masyarakat yang memang sengaja berkunjung ke BP2LHK Aek Nauli atau singgah saat menuju Danau Toba. Nanti di Rumah Singgah Peduli Kanker, Edwar Technology selaku mitra BLI akan melatih tenaga-tenaga kesehatan untuk dapat memberikan pemeriksaan dan terapi yang sesuai standar. Teknologi Dr. Warsito ini telah digunakan di Polandia, Jepang, Turki dan juga Qatar.

"Kedepan, dalam rumah singgah ini juga masyarakat dapat melakukan pemeriksaan kanker menggunakan alat ECVT, Electrical Capacitance Volume Tomography, dari Edwar. Alat deteksi kanker empat dimensi yang sangat terjangkau harganya, juga berbagai teknologi pengobatan kanker, tidak hanya kanker tapi juga jantung, stroke dan hipertensi, yang bersahabat," ujar Suhaemi.

Di sela-sela kunjungan ke spot pembuatan arang, Prof. Riset Gustan Pari, peneliti P3HH mengatakan, kegiatan ini memadukan tiga hal utama yaitu pemanfaatan bambu, aplikasi teknologi arang terpadu, dan kesehatan, dalam hal ini kanker. "Dua luaran utama yang dihasilkan adalah wisata ilmiah berbasis bambu dan pengembangan ‘Carbon Bamboo Cancer Care Center’ di Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli, yang saat ini diberi nama “Rumah Singgah Peduli Kanker”," ujar Prof. Gustan.

Adapun alasan dipilihnya bambu, menurut Dr. Ratih Damayanti, peneliti P3HH lainnya, adalah karena kelebihan yang dimiliknya. "Cepat tumbuh (tanaman dengan produksi biomassa tertinggi, 20-40 ton/ha/tahun), daur tebang pendek 3-5 tahun, beragam manfaat terutama untuk kesehatan, kandungan holoselulosa tinggi, erat dengan budaya Indonesia, kemampuan menyerap N dan CO2 tinggi sehingga berperan penting dalam mengurangi perubahan iklim,” ujar Ratih.

Selain itu, menurutnya, bentuk perakarannya yang khas membuat bambu dapat menahan air dan erosi sehingga sangat baik untuk rehabilitasi hutan dan lahan terutama di sekitar Danau Toba.

Sebagai informasi, tingkat kematian akibat kanker di Indonesia mencapai rata-rata 50% dengan beban biaya pengobatan kanker terus meningkat dimana pada tahun 2017 dana BPJS mencapaisebesar 3,1Triliun rupiah. Devisa Negara sebesar 28 Triliun per tahun berpindah karena masyarakat mampu memilih berobat ke luar negeri.***(RH & NS)