Dientry oleh Risda Hutagalung - 08 November, 2019 - 147 klik
Rencana Pembentukan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) di Samboja

Balitek KSDA (Samboja,_November 2019)_ Sebanyak 30 orang masyarakat sekitar Kawasan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto di Kecamatan Samboja, Kalimantan Timur mengikuti kegiatan Sosialisasi Perlindungan dan Pengamanan Hutan, serta Rencana Pembentukan Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Kegiatan yang diadakan UPTD Tahura Bukit Soeharto ini dilaksanakan di aula kantor Balai Litbang Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA), Sabtu (26/10/2019) lalu.

Dalam sambutannya, Taufiqurrohman S.Hut., MPA, Kepala Seksi Data Informasi Balitek KSDA menyampaikan apresiasi dan harapan terhadap pelaksanaan kegiatan ini. “Kami berharap dengan adanya kegiatan sosialisasi dan rencana pembentukan Masyarakat Mitra Polhut yang diinisiasi oleh UPTD Tahura Bukit Soeharto ini, dapat membantu upaya perlindungan dan pengamanan Kawasan Tahura, terutama KHDTK Samboja,” harap Taufiq.

“Masyarakat Mitra Polhut adalah kelompok masyarakat sekitar hutan yang membantu Polhut dalam melaksanakan perlindungan hutan di bawah koordinasi pembinaan dan pengawasan Instansi Pembina. Instansi Pembina yang dimaksud adalah instansi kehutanan pusat dan daerah yang membidangi perlindungan hutan,” ujar Kristiono, S.Hut., M.Si, narasumber dari Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur yang menyampaikan materi Rencana Pembentukan Masyarakat Mitra Polhut (MMP).

Kristiono juga menyampaikan kedudukan, tata cara dan proses pembentukan MMP, tugas MMP, fasilitasi dari instansi pendamping, organisasi dan keanggotaan, persyaratan keanggotaan berdasarkan Permenhut No P.56/Menhut-II/2014 tentang Masyarakat Mitra Polhut.

Disampaikan Kristiono, keikutsertaan MMP dalam perlindungan hutan dapat dilakukan dalam bentuk antara lain: membantu Polhut dalam mengamankan sarana prasarana perlindungan hutan; melakukan patroli bersama Polhut; membantu sosialisasi informasi kehutanan; melaporkan kepada Polhut adanya indikasi gangguan keamanan hutan; dan dapat menangkap tersangka tindak pidana kehutanan dalam hal tertangkap tangan.

Narasumber sebelumnya dari Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum LHK (Balai Gakkum) Wilayah Kalimantan, Mujiono, S.Hut., Polhut Muda menyampaikan materi tentang upaya perlindungan dan pengamanan di bidang lingkungan hidup dan kehutanan dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan hingga pelaporan.

“Kegiatan pengamanan hutan dilakukan dengan cara pre-emtif, preventif, dan represif. Pre-emtif artinya upaya untuk menutup niat tindak pidana (lingkungan hidup dan kehutanan). Preventif ialah upaya menutup kesempatan tindak pidana, sedang represif artinya menekan atau menghentikan tindak pidana,” jelas Mujiono kepada peserta.

Turut hadir pada acara tersebut yaitu Camat Samboja, Lurah Sungai Merdeka, Babinsa Sungai Merdeka, Babinkamtibmas Sungai Merdeka, dan Ketua Yayasan Jejak Pulang.***(TR)