Dientry oleh Risda Hutagalung - 07 November, 2019 - 80 klik
Terus Berkiprah, Profesor Litbang Banjarbaru Berbagi Strategi Pengendalian Karhutlah

BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, November 2019) _Prof. Riset Acep Akbar, peneliti Balai Litbang LHK kembali menunjukkan kiprahnya sebagai ahli dalam bidang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan. Sebulan terakhir ini ada beberapa kegiatan yang meminta Prof. Acep sebagai pemateri. Kamis (10/10/2019) di Kantor Sekda Provinsi Kalsel, Acep memaparkan  resultante hasil analisis SWOT dalam Rakor untuk pengelolaan kebakaran di Hutan Lindung (HL) Liang Anggang Kalsel, yang digagas oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Selatan.

“Deteksi dini kebakaran perlu ditingkatkan, terutama pada bulan Juli sampai dengan Oktober setiap tahun disertai tindakan hukum yang tegas. Sistem hidrologi biarkan berjalan alami kecuali pembangunan embung dan saluran parit sebagai stok air di musim kering. Demikian pula dengan pembuatan tabat sebaiknya tidak menimbulkan kebanjiran di musim hujan dan tidak berefek kekeringan di musim kemarau pada areal sekitar.” ujar Acep pada Rakor tersebut.

Menurut Prof. Acep, hal-hal penting yang harus dilakukan yaitu Pertama inventarisasi kembali dan petakan adanya pemukiman di sekita HL. Kedua, meningkatkan pemberdayaan relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) yang berbasis penduduk lokal sekitar HL dengan fasilitasi alat, pendampingan biaya operasional dan pelatihan pencegahan dan taktik pemadaman dini kebakaran. Ketiga, recovery ekosistem gambut tipis dengan jenis setempat seperti Shorea belangiran dan Malaleuca leucodendron/kajuputi. Keempat, bangun sekat bakar sekaligus batas luar mengelilingi HL disertai tata batas. Kelima,.Sosialisasi aturan dan status hutan dengan cara persuasif kepada pemukiman sekitar.

Dalam sesi diskusi dibahas terkait kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang, Terkait itu, Acep menjelaskan, pada kejadian kebakaran yang terlanjur besar, diperlukan Standar Operasional Prosedur (SOP) tentang lembaga apa berbuat apa dan siapa Komando Utama operasional pemadaman.

“Kemudian peralatan pemadam tambahan saat tanggap darurat kebakaran yang terlanjur besar dan luas perlu disediakan. Untuk pencegahan maka kurangilah muatan bahan bakar halus berupa rumput dan semak saat musim kering di sekeliling batas luar HL”.

Selain sebagai pemateri tersebut, Prof. Ris. Acep Akbar juga didaulat menjadi moderator dalam Forum Discussion Group (FGD) for Preparation of JICA Verification Survey for Forest and Peatland Fire Project, Selasa (8/10/2019). Forum tersebut merupakan cara untuk menyaring masukan dari para stakeholder terkait rencana kerja sama antara Shabondama Soap dan JICA dengan Balai Litbang LHK Banjarbaru terkait penerapan teknologi ramah lingkungan berupa busa sabun untuk memadamkan api di lahan gambut.

Berikutnya, Kamis (24/10/2019) Prof. Ris Acep Akbar kembali diminta menjadi pemateri dalam Rapat Koordinasi (Rakor) tentang  Upaya Mengurangi dampak kebakaran hutan dan lahan di hotel Dafam Syariah, Banjarbaru, yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kab. Banjar. Pada rakor tersebut Acep diminta untuk menjelaskan strategi yang tepat dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan di lahan gambut

“Khusus di lahan gambut, penyebabnya dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu pertama, pembakaran vegetasi, baik oleh masyarakat tingkat bawah maupun tingkat pelaku usaha untuk berbisnis dalam suatu lahan. Kedua, aktivitas pembakaran akses dalam memanfaatkan sumber daya alam seperti untuk mencari ikan, madu, mencari kayu galam dan hasil hutan lainnya. Ketiga, pembakaran lahan tidur agar tidak menjadi hutan dan menunjukkan penguasaan lahan,” ungkap Acep.

Lebih lanjut Acep menjelaskan, selain tiga kelompok penyebab diatas, terdapat faktor pendukung/pengendali kebakaran, yaitu faktor-faktor yang sangat mempercepat proses pembakaran ketika api terlanjur menyala. Ada beberapa unsur pendukung terjadinya kebakaran hutan dan lahan yaitu Gejala alam Elnino (musim kemarau lebih panjang); Penguasaan lahan gambut yang luas dan melanggar kearifan local; Terjadinya degradasi hutan; Bahan bakar halus dirreversible drying. Menurut Acep, faktor-faktor inilah yang harus menjadi perhatian sebelum terjadi kebakaran,” jelas Acep lebih lanjut.

“Ketika kebakaran terlanjur muncul, maka Standart Operational Prosedur (SOP) harus dimantapkan. Siapa ketua koordinator saat di lapangan. dan apa yang harus dilakukan baik oleh koordinator maupun oleh satuan regu. Sharing biaya dan peralatan saat di lapangan antara stakeholder utama yang berkewenangan dalam mengendalikan kebakaran dengan lembaga lain yang tugas pokoknya bukan melakukan pemadaman, perlu ditingkatkan,” ujar Acep.

Di akhir acara, Acep menyimpulkan bahwa dari segi teknis, pembasahan gambut saat musim kering bukan menjadi satu-satunya andalan karena sistem hidrologi lahan gambut lebih dikendalikan oleh kondisi ekosistem utamanya komponen pohon, sehingga revegetasi menjadi sangat penting. Keseimbangan neraca air antara pembasahan alami dengan laju evaporasi dan evapotranspirasi perlu banyak dipelajari.

“Aspek sosial yang sangat menentukan keberhasilan pemadaman dini dan deteksi dini adalah masyarakat sekitar hutan yang perlu diberdayakan menjadi Masyarakat Peduli Api (MPA). Sinergisitas antar lembaga dalam hal pengadaan dana dan peralatan perlu terus ditingkatkan,” pungkas Acep.***