Dientry oleh Dyah Puspasari - 06 November, 2019 - 185 klik
Ciamis akan Kembangkan Kurikulum Tematik Konservasi Alam Berbasis Budaya

BLI (Bogor, November 2019)_Kabupaten Ciamis akan mengembangkan kurikulum tematik konservasi alam berbasis budaya. Rencana ini terinspirasi dari kurikulum tematik mangrove di Kabupaten Indramayu, hasil karya peneliti Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian LHK. Hal ini disampaikan oleh Wakil Rektor Universitas Galuh-Ciamis, Iskhak Said, Drs., M.M., M.Pd., kepada Prof. Ris. Dr. Hendra Gunawan, di kantor Puslitbang Hutan, Bogor (4/11). 

Baca juga: Wariskan Semangat Konservasi, Peneliti KLHK Susun Buku PLH Tematik Mangrove 

“Kami tertarik untuk mengembangkan model kurikulum tematik ini di Kabupaten Ciamis, khususnya pada ekosistem Gunung Sawal, terkait potensi lingkungan alam, sosial (budaya dan ekonomi), sumber daya manusia dan akses geografis-politis yang sangat membantu pertumbuhan kehidupan maju bagi masyararakat Ciamis,”jelas Iskhak saat dikonfirmasi melalui telepon genggamnya. 

Informasi awal mengenai kurikulum tematik tersebut diketahui saat Dies Natalis Universitas Galuh pada April 2018 lalu. Informasi selanjutnya, diperoleh pada Sarasehan Pengurangan Risiko Bencana Gunung Sawal, April 2019.  Pada acara itu, Prof. Ris. Dr. Hendra Gunawan memaparkan tentang “Konservasi Keanekaragaman Hayati sebagai Upaya Mitigasi Bencana Ekologis di Kabupaten Ciamis”. Melalui paparannya, Hendra memberikan pemahaman tentang pentingnya memasukkan pendidikan lingkungan hidup bertema konservasi keanekaragaman hayati dan pendidikan mitigasi bencana ke dalam kurikulum pendidikan dasar (SD/SMP/SMA). Lebih lanjut, informasi rinci dan model edukasi tentang konservasi diperoleh Universitas Galuh saat pada kunjungan ke Puslitbang Hutan (4/11). 

“Setiap daerah memiliki keunikan dan keunggulan sumberdaya alam maupun sosial budaya yang bisa diangkat menjadi muatan pendidikan yang diajarkan lintas generasi. Ciamis menurut saya, membutuhkan muatan lokal konservasi alam untuk mendukung pendidikan karakter generasi mendatang, ”terang Hendra, melalui pesan singkatnya. 

Baca juga: Kurikulum Mangrove Karya Peneliti BLI-KLHK Raih MURI 

Mewakili Rektor Universitas Galuh, yang juga sebagai Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Ciamis dan Pencinta Lingkungan/Adventure), Iskhak menyampaikan bahwa Ciamis mempunyai ekosistem Gunung Sawal yang merupakan sendi kehidupan masyarakat Ciamis. Gunung Sawal merupakan sumber air bagi Ciamis, Tasikmalaya, Banjar, Cilacap Barat melalui DAS Citandui, untuk berbagai pola kehidupan seperti rumah tangga, pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan/kehutanan. Gunung Sawal juga masih memiliki binatang langka yakni macan tutul Jawa, dan ragam hayati lainnya yang masih tersedia. 

“Fakta saat ini di berbagai daerah telah terjadi banjir, kekeringan, bahkan tanah longsor, konflik dengan hewan langka, global warming, dan lainnya, maka sangat mendesak diperlukan kurikulum edukasi pendidikan lingkungan/ konservasi berbasis budaya bagi masyarakat Ciamis,”tegas Iskhak. 

Berbasis budaya, lanjut Iskhak, merupakan strategi konservasi yang akan diterapkan, mengingat Ciamis merupakan pusat budaya Kagaluhan dan memiliki situs-situs sejarah yang masih lengkap. Kagaluhan juga mewariskan budaya egaliter dan peduli dengan tata adat Sunda yang kaya akan pesan/makna hidup dari nenek moyang yang mengajari generasi muda untuk cinta lingkungan.

Menuju Ciamis Berkurikulum Tematik 

Sebagai upaya mengembangkan kurikulum tematik konservasi alam berbasis budaya di Kabupaten Ciamis, serangkaian proses telah dilakukan. Proses ini diawali dengan pembahasan isu Gunung Sawal dan Budaya Kagaluhan pada Dies Natalis Universitas Galuh pada April 2018 dan April 2019. Proses selanjutnya adalah deklarasi pendidikan tinggi berbasis budaya dan konservasi melalui Konferensi Rektor ASEAN pada 16 Agustus 2019, dan juga komunikasi intensif dengan Bupati Ciamis dan Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis.

Universitas Galuh telah proaktif berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis melalui analisis kebutuhan dan prosedur akademik yakni riset dan pengembangan. Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan pihak Puslitbang Hutan, terutama dengan Prof. Hendra Gunawan. Hal ini  karena proses pengembangan kurikulum tematik sangat memerlukan berbagai input tentang arah, konsep, dan aplikasi edukasi konservasi tersebut.

“Ditargetkan mulai Juli tahun 2020, pembelajaran konservasi berbasis budaya dapat dilaksanakan di lingkungan Kabupaten Ciamis dan tersedianya perangkat pembelajaran berupa buku ajar, LKS, dan petunjuk guru,”pungkas Iskhak.

Pihak Universitas Galuh sendiri telah mewajibkan seluruh mahasiswa baru angkatan 2019/2020 untuk mengikuti 2 mata kuliah wajib institusi, yaitu Kagaluhan serta Konservasi Lingkungan dan Manajemen Kebencanaan. Mata kuliah tersebut menuntut mahasiswa memiliki kompetensi dan soft skill yang terkait kepribadian unggul yang akan memberikan ‘jaminan’ masa depan Indonesia maju.

Selain itu, sebagai rangkaian kegiatan mewujudkan kurikulum tematik, Universitas Galuh menginisiasi Festival Gunung Sawal pada Juni 2020 mendatang. Dengan mengangkat pesan moral “Gunung Sawal sebagai Nyawa”, pada puncak acara tersebut akan dilakukan pencanangan peluncuran gerakan ‘Literasi berbasis Budaya dan Konservasi Lingkungan’.*(DP)