Dientry oleh Risda Hutagalung - 22 October, 2019 - 35 klik
Silvikultur Intensif Hutan Alam menuju 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia

Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Selasa, 22 Oktober 2019. Menuju 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia (Indonesia emas 2045), pemerintah berupaya agar hutan alam Indonesia dapat tetap berkontribusi terhadap pembangunan nasional. Oleh karena itu, perlu ada perubahan teknologi dalam pengembalian hutan alam untuk meningkatkan produktifitasnya.
 
Upaya pengembalian hutan alam produksi dilakukan dengan penanaman pengkayaan jenis tanaman komersial unggul. Selain itu, untuk meningkatkan produktifitasnya dilakukan dengan menerapkan teknik Silvikultur Intensif (SILIN).
 
"Pemerintah telah menerbitkan pedoman penerapan SILIN Meranti melalui Peraturan Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) No. P.12 Tahun 2018 Jo. P.4 Tahun2019, yang mewajibkan para pemegang izin konsensi pemanfaatan hutan alam untuk menerapkan teknik SILIN seluas 20% dari luas areal produktifnya," ujar Plt. Direktur Jenderal PHPL Bambang Hendroyono, yang dibacakan oleh Direktur Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Drasospolino, pada Konsultasi Publik Peta Jalan Silvikultur Intensif, di Jakarta (22/10).
 
Pelaksanaan penanaman SILIN akan dilakukan secara bertahap dan diproyeksikan berdasarkan tahapan per 5 tahun. Berdasarkan kondisi faktual hingga Tahun 2019, luasan SILIN pada Tahun 2045 di seluruh Indonesia seluas 2.700.000 Ha, yang setara dengan 20% luas efektif Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Alam (IUPHHK-HA) seluas 13,16 juta Ha.
 
Sementara itu, pakar silvikultur dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Prof. Moh. Naiem, menyampaikan ada 3 pilar utama silvikultur, yaitu pemuliaan jenis (bibit unggul), optimalisasi kondisi lingkungan tempat tumbuh, dan pengelolaan organisme pengganggu tanaman.
 
"Dari sisi produktivitas tanaman, SILIN diharapkan akan meningkatkan produktivitas hutan alam. Pada riap pertumbuhan diameter lebih besar dari 1,7 cm/tahun, penerapan SILIN nantinya mampu meningkat berkisar 120-150 m3/Ha/20 tahun," paparnya.
 
Untuk mencapai target penerapan SILIN, telah disusun strategi dan rencana aksi yang meliputi penyiapan sumber daya manusia terampil di bidang SILIN, penyiapan petunjuk teknis, peta spasial, mekanisme pasar, dan pengembangan IPTEK SILIN.
 
Pada kesempatan tersebut, Tenaga Ahli Menteri LHK, Hilman Nugroho, menyampaikan forum konsultasi publik ini dilakukan untuk menjaring masukan korektif dan konstruktif terhadap Peta Jalan SILIN.
 
"Aspek perencanaan pada peta jalan ini harus betul-betul dilakukan sebaik-baiknya, sejalan dengan komitmen SILIN yang cepat, sederhana, mudah, komprehensif, dan profesional," tuturnya.
 
Lebih lanjut Hilman menambahkan, teknik SILIN ini harus berhasil, untuk memenuhi kebutuhan kayu kedepan.
 
Konsultasi Publik Peta Jalan Silvikultur Intensif ini melibatkan para pakar dan praktisi serta pemegang IUPHHK-HA. (*)