Dientry oleh Risda Hutagalung - 24 October, 2019 - 273 klik
Tampil di ISE 2019, Inovasi BLI Tarik Perhatian Pengunjung Dalam dan Luar Negeri

BLI (Tangerang, Oktober 2019) _Tampil di Indonesia Science Expo (ISE) 2019, berbagai inovasi Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK kembali menarik perhatian pengunjung. Alat Identifikasi Kayu Otomatis (AIKO), Teh Irai, Teh Faloak, sabun dari tanaman hutan, parfum kemenyan “Tobarium” dan propolis kemenyan “Stypro”, ulat sutera unggul hibrid, teknologi inokulasi gaharu, biodiesel, bioetanol, briket benih, dan bambu lamina adalah beberapa diantaranya. Demo sound level meter untuk mendeteksi kebisingan juga melengkapi pameran kali ini. 

“(Inovasi) ini bagus sekali karena memang sekarang ini, bagaimana inovasi memberi kemanfaatan dan solutif menjawab masalah, itu yang penting,” ujar Ir. Wahyuningsih Darajati, M.Sc, mantan Direktur Lingkungan Hidup BAPPENAS, pengunjung pertama di stand BLI. 

Hingga Kamis (24/10/2019) siang, saat berita ini dilaporkan, stand BLI telah dikunjungi sekitar 200 orang yang berasal dari berbagai latar belakang, diantaranya masyarakat umum dengan bermacam profesi, instansi pemerintah, swasta, LSM, mahasiswa, siswa dan guru pendamping. 

Siswa SMA 28 Tangerang sempat mencoba Teh Irai dan menyukai aromanya, yang katanya mirip aroma teh dari bunga melati. Guru MAN 1 Kudus yang jadi pembimbing LKIR tertarik dengan AIKO dan mengunduh aplikasinya juga. Beberapa sekolah, salah satunya MAN 5 Kabupaten Bogor bahkan tertarik untuk bisa bekerja sama terkait diseminasi hasil-hasil litbang dan program lingkungan dari maupun ke sekolah mereka semacam visit school

“Saya ingin tahu lebih banyak tentang kayu. Semoga dengan AIKO ini, saya ingin menjelaskan kepada murid-murid saya tentang keaslian jenis kayu,” kata Suwandi, guru SD Hati Kudus, pengunjung lainnya yang telah mengunduh aplikasi AIKO karena tertarik ingin tahu lebih banyak tentang kayu. 

Bukan saja pengunjung dalam negeri, pengunjung dari luar negeri juga tertarik melihat inovasi yang dipamerkan stand BLI ini. Sarah Long, dari Guangxi Forestry Research Institute China tertarik dengan AIKO. “Bagaimana awal mengembangkannya,” tanya peneliti dari institusi bidang penelitian kayu ini kepada tim pameran BLI yang bertugas. 

Pengunjung lainnya, Sveteana, Ekoterinq dan Olga, guru biologi dari Russia tertarik dengan parfum kemenyan Tobarium. “Dimana bisa beli parfum tersebut dan bagaimana caranya,” tanya mereka. 

Ketertarikan pengunjung terhadap inovasi hasil litbang BLI bisa dikatakan telah sesuai dengan harapan penyelenggaraan ISE 2019 yang disampaikan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Laksana Tri Handoko dalam sambutannya saat membuka acara tersebut, Rabu (23/10/2019). Dengan ISE, Laksana berharap pemahaman tentang pentingnya Iptek, dan inovasi dapat digaungkan di tengah masyarakat luas. 

“ISE menjadi salah satu sarana penting untuk membumikan sains dan hasil-hasil riset para peneliti maupun inovator yang ada di Indonesia maupun negara-negara lain sehingga masyarakat luas akan memahami betapa pentingnya sains dalam kehidupan sehari-hari sehingga akan tercipta science-based society,” kata Laksana. 

“Sejalan dengan tema ISE tahun ini yaitu “Today and Beyond”, kita didorong untuk terus menghasilkan karya Iptek yang dapat bermanfaat bagi pemecahan masalah di masyarakat, menghasilkan paten dan ujungnya mampu meningkatkan daya saing bangsa,” tambahnya. 

Menurut Laksana, ini penting mengingat dalam pidato pertama pasca dilantik Minggu (20/10/2019) lalu, Presiden Joko Widodo menyampaikan 5 hal penting yang menjadi fokus pemerintahan 2019-2024. Dua hal dari fokus utama tersebut berkaitan erat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembangunan SDM merupakan prioritas utama, yaitu membangun SDM yang memiliki komitmen untuk bekerja keras, dinamis, terampil, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dan juga melibatkan talenta-talenta global untuk bekerja sama. 

Hal kedua adalah terkait transformasi ekonomi. Indonesia harus bertransformasi dari ketergantungan pada sumber daya alam kepada daya saing manufaktur dan jasa modern yang tentunya mempunyai nilai tambah. Untuk itu maka peningkatan daya saing ini mutlak perlu didukung oleh kapasitas SDM profesional dan kompetensi riset yang excellence, sehingga mampu menghasilkan inovasi yang kompetitif secara global. 

“Akhirnya, saya mengajak kita semua untuk bebaskan keingintahuan, bangkitkan kreatifitas, temukan inspirasi dan kemungkinan baru yang bisa mengubah visi menjadi nyata dengan karya sains dan Iptek di ISE 2019,” pungkas Laksana. 

Sebagai informasi, perhelatan ISE yang diinisiasi LIPI tahun ini menghadirkan lebih dari 300 booth dalam rangkaian expo yang diikuti oleh para inovator muda pada level nasional maupun internasional, industri dalam dan luar negeri, kementerian/lembaga, perguruan tinggi, dan start-up company binaan LIPI. Di samping itu, selama kurun waktu 4 hari, 23 – 26 Oktober 2019 ini akan diselenggarakan 10 konferensi internasional dengan peserta sekitar 1.000 orang, business matching, side events ISE seperti talkshow, science shows, science movies, dan science art. 

Pada event ini, ada ratusan inovator muda Indonesia dan 11 negara lainnya bergabung dalam the 15th International Exhibition for Young Inventors (IEYI). Di level nasional juga ada ratusan karya para peserta Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang ke-51 dan 12th National Young Inventor (NYIA). Yang terbaik dari yang terbaik untuk dikirim ke Amerika Serikat di ajang Intel ISEF dan Pemenang NYIA ke Rusia tahun depan.***RH