Dientry oleh Muhamad Sahri Chair - 09 October, 2019 - 82 klik
Corrective Action Pemerintah Indonesia untuk Peningkatan Kualitas Lingkungan

Kamboja (BLI, Oktober 2019)_ Peran aktif Indonesia dalam upayanya mengatasi permasalahan lingkungan pada tingkat ASEAN terlihat dari pernyataan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Dr. Siti Nurbaya, yang  diwakilkan oleh Kepala Badan Litbang dan Inovasi KLHK, Dr. Agus Justianto pada pertemuan The 15th ASEAN Ministerial Meeting on the Environment (AMME) atau pertemuan se-tingkat Menteri Lingkungan Hidup ASEAN ke-15 di Sofitel Angkor Phokeethra, Siem Reap, Kamboja.

Dr. Agus Justianto menyampaikan pernyataan Menteri LHK bahwa betapa pentingnya isu lingkungan di region ASEAN dan perlunya langkah-langkah strategis yang kolaboratif untuk mengantisipasi permasalahan lingkungan di region ASEAN. Dalam pernyataan resmi tersebut juga disebutkan langkah-langkah korektif (corrective action) yang dilakukan Pemerintah Indonesia melalui KLHK untuk meningkatkan kualitas lingkungan di Indonesia.

Pertemuan AMME ke 15 yang berlangsung dari 7-11 Oktober, membahas berbagai permasalahan lingkungan di regional ASEAN serta membahas kerjasama regional untuk mengantisipasi permasalahan lingkungan yang ada. Pembahasan tersebut meliputi perubahan iklim, pembangunan kota yang ramah lingkungan, konservasi keanekaragaman hayati, lingkungan pesisir dan laut yang bersih, pendidikan lingkungan bagi generasi muda, pengelolaan sumber daya air, pengelolaan limbah kimia dan berbahaya, pengendalian pencemaran kabut asap lintas batas, dan sekolah yang ramah lingkungan.

Dalam pertemuan setingkat menteri, AMME ke-15 tersebut, tiga hal penting yang dibahas adalah penetapan pernyataan bersama negara-negara anggota ASEAN mengenai perubahan iklim yang akan disampaikan dalam konferensi para pihak pada kerangka kerja konvensi perubahan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP 25 – UNFCCC) di Chili pada Desember 2019; rancangan rencana strategis ASEAN tentang lingkungan hidup (ASEAN Strategic Plan on Environment, ASPEN), dan penetapan lima Taman Nasional di Myanmar, Thailand, dan Vietnam sebagai Taman Warisan Budaya ASEAN (ASEAN Heritage Park).

Selain tiga hal utama tersebut, Pertemuan juga akan membahas beberapa hal penting terkait lingkungan yaitu konferensi ke-15 para pihak tentang polusi asap lintas batas (The 15th Meeting of the Committe under the Conference of the Parties to the ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution, COM-15 to AATHP), dialog menteri lingkungan hidup ASEAN dengan Jepang terkait kerjasama lingkungan (ASEAN-Japan Ministerial Dialogue on Environmental Cooperation, AJMDEC), dan pertemuan ke-16 Menteri Lingkungan Hidup ASEAN ditambah tiga menteri (16th ASEAN Plus Three EMM), serta Hari Lingkungan Hidup ASEAN 2019 yang akan menampilkan penghargaan bagi generasi muda yang peduli terhadap gerakan pelestarian lingkungan dan sekolah yang ramah lingkungan.

Pertemuan AMME ke-15 dibuka oleh Deputi Prime Minister, Minister of Economy and Finance of Cambodia, H.E. Akka Pundit Sapheacha Aun Pommoniroth di ruang sudang utama Sofitel Hotel, Kamboja dilanjutkan dengan acara penanaman pohon di daerah wisata Angkor Wat. Setelah makan siang, persidangan setingkat menteri AMME ke-15 dipimpin oleh Menteri Lingkungan Hidup Kamboja, H.E. Say Samal.

Dalam pertemuan AMME ke-15 juga dilakukan evaluasi hasil kerja ASEAN Working Group (AWG) di bidang lingkungan hidup dan usulan kegiatan lain di bidang lingkungan hidup yang relevan untuk mengatisipasi permasalahan lingkungan di regional ASEAN. ASEAN Working Group bidang lingkungan hidup adalah AWGNCB (ASEAN Working Group on Nature Conservation and Biodiversity) yang memiliki kegiatan di bidang konservasi keanekaragaman hayati, AWGCME (ASEAN Working Group on Coastal and Marine Environment) yang memiliki kegiatan melindungi ekosistem pantai dan laut; AWGWRM (ASEAN Working Group on Water Resource Management) untuk pengelolaan sumber air; AWGESC (ASEAN Working Group on Environmentally Sustainable Cities) untuk pengelolaan kota yang ramah lingkungan; AWGCC (ASEAN Working Group on Climate Change) untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim; AWGCW (ASEAN Working Group on Chemicals and Waste) yang mengatasi permasalahan limbah berbahaya dan beracun; dan AWGEE (ASEAN Working Group on Environmental Education).

Sesuai agenda, pada tahun 2021 nanti AMME ke-16 akan diadakan di Indonesia. Pada kesempatan persidangan AMME ke-15, Chair persidangan adalah tuan rumah Kamboja dan Indonesia sebagai tuan rumah AMME berikutnya ditunjuk sebagai Vice-Chair dalam persidangan AMME ke 15. Indonesia berharap bahwa isu lingkungan menjadi lebih baik dalam dua tahun mendatang dan negara anggota ASEAN dapat lebih fokus dalam mengantisipasi permasalahan di bidang lingkungan. *KS