Dientry oleh Risda Hutagalung - 07 October, 2019 - 199 klik
Habitatnya Didominasi Strain Aceh, Pinus merkusii Strain Kerinci Terancam Punah

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, Oktober 2019) _Saat ini keberadaan Pinus merkusii strain Kerinci mulai terancam dengan kehadiran strain Aceh di sekitarnya. Hal ini diungkapkan peneliti Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli, M. Hadi Saputra, S.Hut, M.P.W.K, M.Sc di ruang kerjanya baru-baru ini. 

“Pengamatan yang dilakukan di tiga lokasi P. merkusii strain Kerinci menunjukkan tingkat regenerasi yang rendah dilihat dari ketersediaan anakan alam maupun tingkat pertumbuhan semai maupun pancang yang kecil. Selain itu keberadaan P. merkusii strain Aceh mengancam kemurnian strain Kerinci. Keberadaan strain Aceh berpeluang mengontaminasi strain kerinci,” jelas Hadi. 

Seperti diketahui, Pinus merkusii di Sumatera memiliki tiga strain yaitu strain Aceh, Tapanuli dan Kerinci. Strain Kerinci merupakan species P. merkusii yang unik karena merupakan satu-satunya jenis pinus yang tersebar di bagian selatan katulistiwa. Jenis ini tumbuh pada lokasi Taman Nasional Kerinci Seblat dan sekitarnya seperti Bukit Tapan, Bukit Terbakar dan Pungut mudik. 

Pinus merkusii strain Kerinci ditemukan secara mengelompok pada satu kawasan dengan populasi yang sedikit. Hal ini dikarenakan kemampuan pinus untuk menekan pertumbuhan tanaman lain,” kata Hadi. 

Berdasarkan ujicoba, hasil perkecambahan kerucut P. merkusii strain Kerinci yang dilakukan di BP2LHK Aek Nauli menunjukkan kemampuan kecambah yang rendah. Hal yang sama ditemukan di habitat alaminya dimana keberadaan anakan alam sedikit bahkan tidak ada sama sekali. Secara genetik, variasi genetik strain Kerinci di habitat alaminya mengalami kemunduran. 

“Dengan kata lain, terjadi penyerbukan dalam kerabat yang meminimalisir peluang terjadinya pembuahan. Hal ini disebabkan variasi genetik yang kecil pada strain Kerinci dibanding strain Aceh maupun Tapanuli,” jelas Hadi. 

Menurut Hadi, pengaruh manusia turut menyumbang turunnya populasi strain Kerinci di alam. Pemanenan getah yang berlebihan menyebabkan banyak pohon yang mati. Kondisi alam yang cenderung kering turut meningkatkan potensi kebakaran yang mematikan anakan alam terutama di daerah Bukit Terbakar, Kerinci. 

Mengingat potensi dan kondisi P. merkusii Strain Kerinci di ambang kepunahan. BP2LHK Aek Nauli telah melakukan upaya konservasi eksitu dengan pembangunan demplot konservasi jenis P. merkusii strain Kerinci pada tahun 2012. Sumber anakan alam berasal dari Pungut Mudik dan Bukit Tapan. 

“Upaya konservasi dilakukan untuk menjaga ketersediaan material genetik dari jenis ini agar tidak terdegradasi di habitat alaminya walaupun dengan jumlah yang sedikit,” kata Hadi. 

“Selain itu, perlu tindakan pencegahan di habitat alaminya melalui pemeliharaan di habitat alam dan penjarangan pada jenis P. merkusii strain Aceh agar kemurnian genetik species ini tetap terjaga” pungkasnya. 

Seperti diketahui, Pinus merkusii merupakan salah satu species dari Famili Pinaceae yang ditemukan tumbuh secara alami di dataran Sumatera, Indonesia. Jenis ini tersebar dari Aceh hingga Jambi dan telah dikembangkan sebagai jenis tanaman untuk reboisasi pada era 1980-an. 

Kemampuan untuk tumbuh dengan cepat pada areal kritis dan miskin hara menjadi keunggulan jenis P. merkusii dalam keberhasilan reboisasi hutan dan lahan. di balik kegemilangannya tersebut terdapat permasalahan yang muncul, yaitu terjadinya kemunduran keragaman genetik akibat dominansi dari salah satu strain dari P. merkusii.***