Dientry oleh Dyah Puspasari - 09 September, 2019 - 289 klik
AIKO-KLHK Kini Tersedia untuk Publik

P3HH (Jakarta, September 2019)_Puslitbang Hasil Hutan (P3HH) pada Badan Litbang dan Inovasi (BLI) terus berinovasi. Karya inovatifnya berupa sistem identifikasi kayu otomatis yang dikembangkan sejak 2011, kini semakin aplikatif. Dengan nama Alat Identifikasi Kayu Otomatis-Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (AIKO-KLHK), inovasi ini resmi diluncurkan untuk publik oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan diwakili Sekretaris Jenderal KLHK pada 29 Agustus 2019 di Manggala Wanabakti dalam acara Gelar Kebangsaan 2019. 

Aplikasi AIKO-KLHK dapat diunduh secara gratis di Google Play Store. Aplikasi  ini telah mengalami perkembangan pesat dari versi pendahulunya, AIKO-2018 dan WoodID-2017, yang dikembangkan bersama Pusat Penelitian Informatika LIPI dengan mekanisme pendanaan dari Insinas Kemenristekdikti. 

Platfor AIKO-KLHK berkembang, tidak terbatas aplikasi Android untuk identifikasi kayu secara online melainkan juga offline. Manajemen formasi berbasis website dan Android pun telah melengkapi versi terbaru ini. Manajemen formasi ini memungkinkan rekaman data pengguna AIKO-KLHK menjadi proses pendataan dan pemetaan jenis-jenis kayu di Indonesia yang dapat menjadi informasi yang sangat berguna. 

Kemampuan identifikasinya pun meningkat hingga 823 jenis kayu perdagangan Indonesia, jauh melebihi AIKO-2018 yang kemampuan identifikasinya hanya sampai 144 jenis. Selain identifikasi jenis, AIKO-KLHK juga mampu membedakan asal lokasi geografis berdasarkan kedekatan image dengan jenis kayu dari lokasi tertentu. 

Informasi status konservasi (CITES, IUCN dan SK Men-LHK) pun dapat diketahui, dan memungkinkan untuk diintegrasikan dengan Sistem Informasi Penatausahaan Hasil Hutan (SIPUHH) online. Aplikasi ini juga memiliki fasilitas pencarian pada menu ‘Pustaka’ yang memungkinkan penelusuran informasi suatu jenis kayu dilengkapi foto makroskopis yang tersimpan. Kemampuan-kemampuan tersebut, tidak dapat ditemui pada versi sebelumnya. 

“AIKO-KLHK akan terus dikembangkan, baik jenis kayu, kemutakhiran sistem, maupun informasi lain yang disajikan,” jelas Dr. Dwi Sudharto, Kepala P3HH, saat ditemui di setelah acara peluncuran tersebut. 

Mengapa AIKO-KLHK Penting? 

Pelaksanaan identifikasi kayu manual di laboratorium, memerlukan waktu 1-2 minggu. Ada  163 karakter kayu yang harus dicermati untuk sampai pada penentuan jenis kayu. Dengan AIKO-KLHK, proses panjang itu dapat dipangkas hingga hitungan detik. 

Identifikasi kayu merupakan proses penentuan suatu jenis kayu berdasarkan ciri struktur anatomi kayu yang dimilikinya. Setiap jenis kayu memiliki karakteristik yang unik sehingga perlu metode identifikasi yang akurat agar tidak terjadi kesalahan dalam menentukan jenis kayu. 

Identifikasi kayu diperlukan tidak hanya untuk menentukan pemanfaatan suatu jenis kayu dalam industri, namun juga mendukung bioforensik dalam penanganan perkara hukum yang menggunakan kayu sebagai barang bukti. Kesalahan penentuan jenis kayu dapat menimbulkan kerugian finansial. 

Di Bea Cukai misalnya, dengan aplikasi AIKO-KLHK, petugas bisa dengan mudah mengidentifikasi kayu yang akan diekspor. Kesalahan penentuan jenis dapat dihindari sehingga penentuan pajak yang tepat dapat dilakukan atau bahkan dapat menghalangi ekspor jenis kayu yang dilindungi. 

Oleh karenanya, tidak ada toleransi untuk melakukan kesalahan dalam mengidentifikasi kayu. Hanya ada dua kemungkinan yang terjadi akibat kesalahan tersebut, negara yang dirugikan atau perusahaan yang dirugikan. 

Selain memberikan kemudahan pada semua pihak yang memerlukan identifikasi kayu, AIKO-KLHK juga sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan. Keterbukaan akses untuk publik secara gratis, memungkinkan mahasiswa dan pelajar juga memanfaatkannya dalam proses belajar. 

Basis Data Satu Abad 

Basis data AIKO-KLHK dikembangkan dari koleksi kayu autentik Xylarium Bogoriense, perpustakaan kayu terbesar di dunia yang dibangun dan dikelola oleh P3HH-BLI sejak satu abad lalu. Koleksinya saat ini sudah mencapai lebih dari 193 ribu spesimen terdiri atas 110 suku, 675 marga, dan 3.667 jenis kayu otentik, yang dikumpulkan dari seluruh wilayah Indonesia sejak tahun 1915. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah. 

Baca juga: Xylarium Bogoriense Nomor 1 Dunia

Xylarium Bogoriense 1915 telah terdaftar dalam Indeks Xylariorum, Institutional Wood Collection pada tahun 1957 dengan kode BZFw dan telah terdaftar dalam Indeks Herbarorium Indonesianum pada tahun 2006. 

Inovasi, Wujud Kreasi Smart ASN KLHK

AIKO KLHK menjadi salah satu inovasi unggulan KLHK yang ditampilkan dalam Gelar Kebangsaan 2019.  Diinisiasi oleh Menteri LHK, gelar kebangsaan ini merupakan unjuk kerja inovasi-inovasi KLHK sekaligus puncak perayaan 74 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Inovasi KLHK tersebut merupakan wujud kreasi Smart Aparatur Sipil Negara (ASN) KLHK dalam mempermudah, memperlancar dan memotong rantai birokrasi dalam hal pelayanan publik. Inovasi yang dibangun dengan pendekatan teknologi informasi yang saat ini sangat berkembang di era revolusi industri 4.0.

“Bangsa ini membutuhkan sosok ASN yang memiliki kemapuan yang mumpuni, attitude yang baik, berkarakter, memiliki inovasi dan selalu berupaya untuk berinovasi,” ujar Menteri LHK, Dr. Siti Nurbaya pada sambutan yang dibacakan oleh Sekretaris Jenderal KLHK, Dr. Bambang Hendroyono.

Menteri Siti berharap pada tahun-tahun mendatang akan muncul inovasi-inovasi di bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang lebih dapat dibanggakan lagi serta dapat dimanfaatkan seluas-luasnya oleh masyarakat luas.

Hadir dalam acara Gelar Kebangsaan ini adalah para Pejabat Tinggi Madya lingkup KLHK, Pimpinan Komisi Informasi Pusat, Pejabat Tinggi Pratama dan Administrator lingkup KLHK, perwakilan Kementerian/ Lembaga dari LAN, BMKG, serta para undangan.*(TP)