Dientry oleh Risda Hutagalung - 31 July, 2019 - 1005 klik
Mengenal Kratom, Hasil Hutan Bukan Kayu Potensial yang Terancam Dimusnahkan

---- Oleh Rina Wahyu Cahyani & Asef Kurniyawan Hardjana – Peneliti Babes Litbang EHD Samarinda ----

Kratom merupakan tanaman yang potensial. Selain pohonnya yang bermanfaat sebagai penahan abrasi sungai dan rehabilitasi lahan rawa pasang surut, daunnya merupakan salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang potensial mengangkat perekonomian masyarakat. Daunnya dimanfaatkan sebagai obat tradisional dan sebagian besar diekspor dalam bentuk tepung kratom. Namun saat ini, keberadaan kratom terancam dimusnahkan karena direkomendasikan masuk golongan narkotika kelompok NPS4 oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) meski belum masuk daftar secara resmi.

 

Apa itu Kratom?

Kratom (Mitragyna speciosa Korth.) merupakan tanaman tropis dari famili Rubiaceae yang berasal dari Asia Tenggara (Muang Thai, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina) dan Papua Nugini. Di Indonesia, tanaman ini banyak tumbuh di Kalimantan, Sumatera, sampai ke Sulawesi dan Papua di wilayah tertentu. Kratom dalam bahasa lokalnya disebut kratom/ketum/purik di Kalimantan Barat, disebut kayu sapat/sepat di Kalimantan Tengah/Kalimantan Selatan, dan disebut kedamba/kedemba di Kalimantan Timur.

Daun kratom dimanfaatkan oleh masyarakat lokal sebagai obat tradisional untuk mengatasi diare, lelah,  nyeri  otot,  batuk,  meningkatkan  daya tahan tubuh, menurunkan tekanan darah tinggi, menambah energi, mengatasi depresi, antidiabetes dan antimalaria serta stimulan seksual.

Berbagai sumber menyebutkan, efek kratom pada manusia tergantung dari dosis dan cara pemakaian. Pada dosis rendah, kratom yang mempunyai senyawa aktif Mitragynin dan 7-hidroksimitragynin ini mempunyai  efek  stimulasi, sedangkan pada dosis yang lebih tinggi, efek kratom hampir sama seperti senyawa opiat  yaitu  efek  analgesik  dan  sedasi.

Selain diambil daunnya, kayu kratom juga banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan bangunan dan meubel karena sifat kayunya yang keras dan kuat.

 

Kratom Bernilai Ekonomi Tinggi

Setelah melakukan studi awal mengenai aspek ekologi dan sosial ekonomi pengusahaan kratom di wilayah kerja KPHL Gerbang Barito Unit IX di Kalimantan tengah, diketahui bahwa kratom diusahakan oleh masyarakat dengan cara mengambil daunnya dari alam maupun dibudidayakan di kebun atau pekarangan rumahnya.

Kratom merupakan tanaman cepat tumbuh yang tumbuh secara alami di daerah zona pasang surut sungai dan rawa dengan pertumbuhan awal per tahun mencapai 2-3 meter. Morfologi tumbuhan kratom yang mempunyai kanopi melebar dan perakaran yang kuat menjadikan keberadaan kratom ini juga berfungsi sebagai pencegah erosi pinggir sungai.

Di beberapa desa di wilayah kerja KPHL Gerbang Barito sebagian besar ekonomi masyarakatnya bergantung pada pengusahaan tanaman kratom ini. Harga jual kratom per kilogram, untuk daun basah berkisar 1.500 sampai dengan 3.500 rupiah, sedangkan untuk daun kering berkisar 17.000 sampai dengan 27.000 rupiah. 

Komoditas daun kering yang berupa remahan dikumpulkan dan dikirim ke Kalimantan Barat untuk kemudian diolah menjadi tepung kratom. Tepung kratom ini selanjutnya akan diekspor ke Amerika, Kanada, Arab Saudi, India, dan Eropa. 

Menurut data Pekrindo (Pengusaha Kratom Indonesia) dalam kurun waktu tahun 2015 - 2018 jumlah total ekspor kratom dari Kalimantan Barat mencapai 4.800 ton melalui para eksportir yang berjumlah kurang lebih 90 orang. Berdasarkan hasil perhitungan ekonomi, penghasilan masyarakat petani terkait pengusahaan kratom mencapai 49,2 milyar rupiah dalam kurun waktu 4 tahun. 

 

Direkomendasikan sebagai Narkotika

Saat ini, meskipun BNN telah merekomendasikan kratom masuk ke dalam kelompok NPS4, namun kratom masih legal ditanam dan diperjualbelikan. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 tahun 2018, tentang perubahan golongan narkotika, khat sudah dimasukkan sebagai narkotika tetapi belum memasukkan kratom dalam daftar tersebut.

Meskipun kratom banyak digunakan sebagai obat tradisional, sebenarnya Badan POM telah melarang penggunaan kratom sebagai obat tradisional dan suplemen makanan sejak belasan tahun lalu. Larangan ini dikeluarkan melalui Keputusan Kepala Badan POM Nomor HK 00.05.23.3644 tahun 2004 tentang Ketentuan Pokok Pengawasan Suplemen Makanan.

Larangan lainnya juga dikeluarkan melalui Peraturan Kepala Badan POM tahun 2005 Nomor HK.00.05.41.1384 tentang Kriteria dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka, serta melalui Surat Edaran Nomor HK 04.4.42.421.09.16.1740 tahun 2016 tentang Pelarangan Penggunaan Mitragyna Speciosa (kratom) dalam Obat Tradisional dan Suplemen Makanan. Akan tetapi aturan-aturan ini bersifat mengikat hanya pada produk olahan bermerek yang akan didaftarkan ke Badan POM. 

 

Perlu Kejelasan Status melalui Riset Mendalam

Sejauh ini belum ada regulasi yang jelas mengenai pengusahaan maupun perdagangan kratom dalam bentuk raw material atau bahan mentah. Meskipun demikian, petani kratom dihantui rasa takut ditangkap pihak yang berwajib karena masih belum ada kejelasan mengenai legalitas kratom. Perlu kejelasan tentang ini, seperti halnya hasil rekomendasi Round Table Discussion (RTD) yang mengkaji kratom yang kami ikuti di Hotel Solo Paragon, Solo pada 8-10 Juli 2019 lalu.

Rekomendasi RTD yang dilaksanakan Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional selaku UPT Badan Litbang Kesehatan ini menyebutkan, perlu dilakukan riset lebih mendalam terkait dampak penggunaan kratom terhadap kesehatan berdasarkan data primer hasil penelitian. Selain itu, diskusi yang diikuti pihak-pihak terkait ini juga merekomendasikan perlunya riset mendalam terkait kemungkinan kratom sebagai bahan alternatif obat.

Pihak-pihak yang diundang membahas hal tersebut diantaranya Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Perdagangan (Bea Cukai), Kemenko PMK, LIPI, Badan Narkotika Nasional, Puslabfor Bareskrim Polri, Pekrindo (Pengusaha Kratom Indonesia), Pemda Kapuas Hulu, KPHL Gerbang Barito unit IX, RSKO dan tim pakar dari Institut Teknologi Bandung. Mewakili Balai Besar Litbang Ekosistem Hutan Dipterokarpa, kami turut hadir sebagai salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut untuk memaparkan kajian ekologi kratom.

Pada aspek sosial ekonomi dan lingkungan kami merekomendasikan pentingnya melakukan kajian mengenai alternatif komoditas pengganti kratom apabila nantinya kratom dimasukkan dalam narkotika golongan I dan harus dimusnahkan. Komoditas alternatif yang dimaksud diharapkan bernilai ekonomi tinggi sehingga bisa memecahkan permasalahan sosial ekonomi masyarakat setempat. Dalam perspektif konservasi lingkungan, komoditas alternatif tersebut setidaknya mempunyai kemampuan yang sama dengan kratom dalam beradaptasi pada kondisi habitat pinggir sungai dan daerah rawa pasang surut.***