Dientry oleh Rizda - 07 April, 2017 - 1551 klik
Kawasan Mangrove di Selat Sebuku Kaya Keanekaragaman Mikroorganisme Tanah dan Air

BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, 06/04/2017)_Hasil penelitian peneliti Balai Litbang LHK (BP2LHK) Banjarbaru menunjukkan bahwa kawasan mangrove di Selat Sebuku dan beberapa daerah di sekitarnya kaya akan berbagai jenis mikroorganisme tanah dan air.  

“Mangrove adalah suatu ekosistem unik yang memiliki komponen biotik dan abiotik yang komplek,” kata Wawan Halwani, peneliti BP2LHK Banjarbaru dalam hasil penelitiannya yang dimuat dalam Indonesian Journal of  Forestry Research Vol. 2, No. 2, October 2015, 131-140. 

Bersama dengan rekan kerjanya, Susi Andriyani,  Wawan melakukan penelitian yang bertujuan untuk mempelajari keanekaragaman mikroorganisme tanah dan air, potensi dan fungsinya  dalam ekosistem, dan  parameter lingkungan di  kawasan mangrove Cagar Alam Teluk Kelumpang, Selat Laut, dan Selat Sebuku (Cagar Alam Kelautku), Kalimantan Selatan. 

Penelitian ini dilakukan dengan cara mengambil contoh tanah dan air kemudian dianalisis di laboratorium sehingga diperoleh data mikroorganisme tanah dan air. 

Hasilnya menunjukkan bahwa Selat Sebuku memiliki indeks keanekaragaman bentos tertinggi.  “Komponen mikroorganisme tanah dan air berfungsi sebagai dekomposer dalam ekosistem mangrove,” kata Wawan. 

Anadara granos merupakan salah satu mikroorganisme jenis bentos yang keberadaannya melimpah di sana. Cyanophyta yang hanya ditemukan di Teluk Kelumpang dan Selat Laut dari genera Oscillatoria menunjukkan toleransi yang tinggi terhadap kondisi perairan. 

Berbeda dengan kelimpahan Anadara granos, jumlah keberadaan plankton terendah di Selat Sebuku. Hal ini diduga akibat gelombang laut yang lebih besar di Selat Sebuku dan kepadatan pemukiman lebih banyak di Teluk Kelumpang dan Selat Laut yang menyebabkan adanya input limbah rumah tangga ke dalam perairan sekitarnya. 

“Kualitas perairan mangrove, secara langsung atau tidak langsung, sebagian besar dipengaruhi oleh aktivitas manusia seperti pemukiman, konversi mangrove untuk tambak, pertanian, pelabuhan dan pertambangan,” kata Wawan. 

Untuk itu diperlukan adanya pengaturan pemanfaatan kawasan mangrove, mengurangi  konversi lahan  menjadi pemukiman, tambak, dan sebagainya serta kontrol rutin air bakau. Hal ini bisa mendukung upaya pelestarian mangrove, khususnya keberadaan mikroorganisme tanah dan air.***JND

 

Penulis : Junaidah