Dientry oleh Tuti - 13 April, 2016 - 3956 klik
Pohon Kapur, Raksasa Rimba dari Barus yang Mulai Hilang

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, 14/04/2016)_Kapur barus atau kamper merupakan barang yang sangat bermanfaat dan sering digunakan dalam rumah tangga. Namun tidak semua orang mengenal pohon kapur yang menjadi salah satu bahan baku utama pembuatannya. Saat ini, pohon tersebut sudah sangat sulit untuk ditemui.  Bahkan menurut IUCN Redlist, statusnya sudah kritis atau critically endangered dengan tingkat keterancaman tinggi sebelum status punah.

Disadari bahwa sejak abad 7 M, kapur barus atau kamper merupakan komoditi perdagangan internasional dan terkenal di Pelabuhan Barus dan Singkil. Untuk mendapatkan kapur barus atau kamper dilakukan dengan membelah pohon kapur, karena umumnya kristal-kristal kamper tersebut tersimpan di dalam batangnya.

Namun tidak semua pohon kapur tersebut bisa menghasilkan kapur barus atau kamper. Hanya individu-individu dengan performa pertumbuhan superior. Selain sebagai penghasil kapur barus atau kamper, pohon ini juga mempunyai manfaat lainnya, antara lain: 1). Penghasil ombil atau minyak kapur yang terdapat pada ranting-ranting dan daunnya; 2). Salah satu bahan bangunan terbaik untuk dinding, lantai, tiang kapal rumah dan kapal karena kayu pohon ini masuk dalam kelas awet II; 3). Tanaman rehabilitasi lahan bekas kebakaran atau tebangan karena pohon ini mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi.

Pada masa dahulu, pohon kapur yang merupakan salah satu anggota famili Dipterocarpaceae mudah ditemukan. Umumnya, pohon yang dikenal sebagai Borneo Camphor, Camphor Tree, atau Indonesian Kapur  ini ditemukan di rimba-rimba raya di antara Sungai Natal dan Sungai Singkil dan dari selatan Sungai Rokan hingga utara S. Batanghari.

Tetapi, setelah era pengusahaan hutan berakhir di wilayah tersebut, tegakan pohon kapur hanya ditemukan pada spot-spot kecil terpisah di Kadabuhan, Jongkong dan Sultan Daulat di Subulussalam, Singkohor dan  Danau Paris di Aceh Singkil, serta Sirandorung dan Manduamas di utara Barus, selatan Pakpak dan pada hutan-hutan bekas tebangan di Natal.

Bahkan Heyne dalam artikelnya (1987) menyatakan bahwa semua individu lama-kelamaan akan menghasilkan kapur barus itu adalah hal tidak pasti, namun yang sudah pasti ialah bahwa pada setiap tahunnya banyak yang ditebang tanpa mengandung kapur barus

Kondisi ini dikhawatirkan akan berimbas pada perekonomian, terutama masyarakat Barus, Singkil dan daerah sekitarnya yang memproduksi kapur barus atau kamper. Oleh karena, upaya pemuliaan pohon kapur merupakan suatu keniscayaan.

Untuk itu, diperlukan upaya penggalian informasi sebaran, peningkatan populasi dan produktivitas melalui sumber benih berkualitas serta teknik silvikultur yang tepat diharapkan dapat mendukung upaya-upaya peningkatan produktivitas pohon kapur ini. Selain itu, pelibatan masyarakat dalam menjaga dan melindungi pohon ini sangat diperlukan. ***Tim Web BP2LHK Aek Nauli.

 

Informasi Lebih Lanjut:

BALAI LITBANG LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN AEK NAULI

url : http://bpk-aeknauli.litbang.dephut.go.id atau http://balithut-aeknauli.org

Jl. Raya Parapat Km. 10,5 Sibaganding, Parapat , Sumatera Utara 21174, Telp. 0625 - 41659, Fax.  0625 – 41659

Penulis : Tim Web Aek Nauli