Dientry oleh priyo - 12 January, 2015 - 2997 klik
Menyulap Lahan Bekas Tambang Timah menjadi Hutan

FORDA (Bogor, 13/01/2015)_Menghutankan kembali lahan bekas tambang timah bukanlah hal yang mustahil. Hal ini telah dibuktikan oleh Tim Peneliti Badan Litbang Kehutanan, yang dipimpin oleh Prof. Ris. Dr. Ir. Pratiwi, M.Sc. Sejak tahun 2010 sampai sekarang telah melakukan rekayasa media dengan memanfaatkan bahan campuran overburden dan tailing kuarsa di lahan bekas tambang timah sebagai media pembibitan di persemaian dan penanaman di lapangan di PT. Kobatin Bangka Tengah, Provinsi Bangka.

“Lahan bekas tambang timah, seperti halnya lahan bekas tambang terbuka lainnya, seringkali meninggalkan banyak masalah kerusakan lahan. Umumnya penambangan timah meninggalkan landskap yang berupa hamparan overburden dan tailing kuarsa serta kolam-kolam yang dalam bahasa lokalnya disebut sebagai kolong,” kata Pratiwi.

Disadari bahwa overburden merupakan material yang dipindahkan pada waktu pengupasan (stripping) lapisan penutup bijih timah dan mempunyai sifat heterogen yang tidak kompak atau tidak beraturan. Kondisi ini diperparah jika diantara bahan-bahan di dalam overburden ini terdapat mineral pirit (FeS2) yang teroksidasi sehingga menimbulkan  air asam tambang yang meningkatkan kemasaman tanah, sehingga  daya dukung tanah dari bahan campuran overburden ini terhadap tanaman sangat rendah.

Sedangkan tailingkuarsa  mempunyai kandungan bahan mineral kuarsa atau kandungan fraksi pasir lebih dari 94% sehingga miskin unsur hara dan daya menyimpan air tanahnya rendah, sehingga secara alami tanaman sukar tumbuh. Sedangkan kolong merupakan kolam yang berisikan air asam tambang.

“Hasil penelitian menunjukkan kedua bahan tersebut (bahan campuran overburden dan tailing kuarsa) dengan dosis yang tepat dapat dimanfaatkan sebagai pertumbuhan bibit tanaman kehutanan di persemaian sampai umur tiga bulan, antara lain lain ubak(Eugenia garcinaefolia), sengonbuto(Enterolobium cyclocarpum); trembesi (Samanea saman), ekaliptus (Eucalyptus urophylla) dan jabon (Anthocephalus cadamba),” kata Pratiwi.

Adapun dosis yang tepat  untuk media bahan campuran overburden diberi top soil (bahan mineral liat) dan bahan organik masing-masing 20% bobot, NPK 1% bobot dan kapur 10%bobot. Sedangkan untuk media tailing kuarsa diberi top soil dan bahan organik masing-masing 20% bobot, NPK 1% bobot dan kapur 5% bobot.

“Untuk uji lapangan bisa menggunakan dosis di atas dengan tambahan penanaman bibit bermikoriza,” kata Pratiwi

Mikoriza merupakan asosiasi simbiosis mutualisme antara fungi dengan akar tanaman. Bibit bermikoriza, umumnya mempunyai pertumbuhan yang lebih baik serta lebih mampu beradaptasi dalam kondisi yang kurang baik.

Hasil penanaman pada hamparan overburden dan tailing kuarsa menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman sampai sekarang (umur tiga tahun) untuk tanaman ekaliptus, ubak  dan sengon buto relatif bagus. Sedangkan jabon  dan trembesi tidak bisa tumbuh optimal. Selain itu, tanaman pada hamparan overburden menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan pada hamparan tailing kuarsa. Hal ini membuktikan bahwa hamparan overburden mengandung unsur hara yang lebih baik dibandingkan dengan hamparan tailing kuarsa.

“Pengamatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang telah dtanam pada kedua hamparan ini akan dilakukan secara terus menerus sampai sekarang, ” kata Pratiwi.**THS

 

Informasi lebih lanjut:

Prof.Ris.Dr.Ir. Pratiwi, M.Sc dan Budi Hadi Narendra, S.Hut, M.Si

Peneliti Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi (Puskonser)

E-mail : pratiwi.lala@yahoo.com; budihadin@yahoo.com

 

http://www.forda-mof.org atau www.litbang.dephut.go.id

Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan

Forestry Research and Development Agency (FORDA)

Penulis : Tri Hastuti Swandayani