KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Posted by Rizda 10:39 am, 27. November 2017
Peneliti BP2LHK Banjarbaru Jadi Narasumber Seminar International “The 2nd INOVCOM FP 2017”

BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, 24/11/2017)_Dr. Acep, peneliti utama Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru menjadi salah satu narasumber pada seminar internasional “The 2nd International Conference on Innovation and Commercialization of Forest Product” yang diselenggarakan pada Selasa (21/11) di Hotel Grand Dafam, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

“Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia hampir terjadi setiap tahun. Kebakaran di lahan gambut akan menghasilkan asap yang cukup tebal dan menyebabkan pencemaran udara serta emisi gas rumah kaca. Kebakaran di lahan gambut memiliki durasi yang yang lebih lama dibanding lahan mineral, sehingga dalam upaya pemadaman perlu materi tambahan selain air”.

Demikian disampaikan Acep yang juga anggota Center of Excellence Research Consortium for Sustainable Tropical Forest Management, Lambung Mangkurat University (C0E RC-STFM).

Pada pertemuan tersebut, Dr. Acep Akbar menyampaikan materi berjudul “The Potential Use of Japanese Sabondama Foam Extinguishers to Extinguish Fires in Indonesia Peatland”.

“Saat ini sudah ada materi tambahan berbentuk sabun yang bisa digunakan untuk pemadaman api di lahan gambut yang diproduksi oleh salah satu perusahaan di Jepang. Upaya uji coba efektifitas keberhasilan penggunaan materi tambahan tersebut akan dilakukan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah,” papar Acep.

Selain sebagai narasumber utama, beberapa peneliti BP2LHK juga ikut serta menyampaikan makalah dalam bentuk oral dan poster pada acara tersebut.

Acara seminar tersebut diselenggarakan C0E RC-STFM dan dihadiri oleh narasumber dari berbagai negara antara lain: Dr. Dede Rohadi dari Center for International Forestry Research (CIFOR), Dr. Andri Andriyana dari Universitas Malaya, Malaysia, Dr. Eija Laitinen dari Universitas Hame, Finlandia dan Aulia Perdana dari World Agroforestry Center.***JND