Keanekaragaman Genetik, Kunci Ketahanan Tanaman

👤Tuti 🕔 12:00 am, 26. July 2017

Forda (Yogyakarta, 25/07/2017)_Mengawali hari kedua Konferensi IUFRO-INAFOR 2017, Dr. Wickneswari Ratnam (Coordinator of IUFRO-The Role 2.08.07) memandu presentasi tiga makalah pada kelompok isu Evaluasi dan Pengelolaan Resiko Hama dan Penyakit terhadap sumber daya hutan.

“Keanekaragaman genetik tidak hanya merupakan upaya untuk menghasilkan bibit unggul. Keanekaragaman genetik ini juga merupakan kunci dalam menghadapi serangan hama penyakit pada tanaman akibat perubahan iklim,”ungkap Jeremy T. Brawner, Guest Lecture, Selasa (25/07/2017).

“Keanekaragaman genetik merupakan faktor kunci dalam penyebaran pengembangan genetik yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap tekanan tertentu seperti perubahan iklim maupun hama penyakit,” tambah Jeremy.

Lebih lanjut, Jeremy menyatakan bahwa proses pengembangan atau keanekaragaman genetik akan menghasilkan pencapaian yang lebih baik apabila dilakukan secara bersama-sama dari berbagai pihak dari pada bekerja sendiri. Selain itu, dalam proses kerjasama multi pihak akan terjadi sharing pengalaman sehingga dapat memperluas pengetahuan masing-masing.

Hal ini didukung oleh Libby Pinkard, Group Leader CSIRO Land and Water-Australia yang menyatakan bahwa perubahan dinamika jenis dan serangan hama penyakit yang terjadi secara periodik akibat perubahan iklim merupakan permasalahan yang harus dihadapi untuk menjamin keberlanjutan tanaman dan pengelolaan hutan.

Untuk mengatasi pengaruh perubahan iklim tersebut, salah satu cara yang dapat dilakukan dengan melihat seberapa besar dampak yang akan ditimbulkan. Hal ini dapat dilakukan dengan penghitungan kerentanan tanaman terhadap hama penyakit dan perubahan iklim dengan memperhatikan faktor exposure dan sensitivity. Selain itu, upaya dilakukan dengan menyusun sistem pemodelan untuk mengetahui langkah tindak lanjut serta adaptasi yang bisa diambil.

“Sistem monitoring merupakan suatu hal yang penting dalam menghadapi serangan hama penyakit dan perubahan iklim. Penyusunan sistem ini akan optimal apabila dilakukan dengan kolaborasi, ”tegas Libby.

Di sisi lain, Pham Quang Thu, Direktur Pusat Perlindungan Tanaman Hutan di Vietnam juga menyatakan bahwa adanya serangan hama pada tanaman akasia juga memberikan kerugian besar pada ekonomi negara. Hal ini didasarkan pada kerusakan tanaman akasia akibat perubahan iklim di Asia Tenggara seluas 2,5 Juta Ha, diantaranya seluas 1.3 juta Ha di Vietnam. Kerusakan utama disebabkan oleh serangan hama ceratocycytictis.,”kata Pham.

Untuk mengatasi  masalah tersebut, biasanya dilakukan dengan bahan kimia yang sulit didapat, harganya mahal dan berpotensi menyebabkan kerusakan bagi lingkungan. Oleh karena itu, penggunaan pestisida hayati direkomendasikan untuk perlindungan tanaman. ***THS.