Perbedaan Kemampuan Beberapa Jenis Mangrove dalam Menjerat Sedimen Terlarut

👤priyo 🕔 09:25 am, 14. June 2016

Balitek DAS (Solo, 14/06/2016)_Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan mangrove dominasi Api-api (Avicennia spp.) memiliki kemampuan penjeratan sedimen tertinggi (35.04%) dikuti dominasi Bogem (Sonneratia spp.) (33.45%) dan terendah dominasi Bakau (Rizhophora spp.) (19,33 %). Hal tersebut disampaikan oleh Ir. Gunardjo Tjakrawarsa, M.Sc dan Drs. Rahardyan Nugroho Adi, M.Sc, tim peneliti Balai Litbang Kehutanan Pengelolaan DAS Solo (Balitek DAS Solo), Selasa (14/06).

Lebih lanjut Rahardyan mengatakan bahwa dari hasil penelitian diperoleh bahwa tegakan dominasi Bakau memiliki tingkat penjeratan sedimen terendah.  

“Kemampuan mangrove dalam menjerat sedimen dapat diindikasikan oleh kadar sedimen pada suatu titik,” kata Rahardyan.

“Kami mengambil sampel sedimen pada tiga jenis mangrove yang berbeda yaitu Rhizophora spp; Sonneratia spp dan Avicennia spp di Laguna Segara Anakan, Kabupaten Cilacap, ” ujar Rahardyan.

Sementara itu, Gunardjo mengatakan bahwa pengambilan sampel sedimen pada ketiga jenis mangrove tersebut untuk mengetahui kemampuan masing-masing jenis dalam menjerat sedimen.

“Dengan adanya perbedaan kemampuan tegakan mangrove di sepanjang aliran menuju laut dalam menjerat sedimen perlu dicari tegakan mangrove yang memiliki tingkat penjeratan sedimen terendah,” ujar Gunardjo.

“Berdasarkan perbedaan kemampuan dalam menjerat sedimen maka tegakan mangrove dominasi Bakau dapat dikembangkan dengan mengurangi secara selektif tegakan mangrove dominasi yang lain,” ungkap Gunardjo.

Kajian ini dilakukan dengan adanya permasalahan sedimentasi di Laguna Segara Anakan, Kabupaten Cilacap yang berdampak pada menurunnya populasi ikan dan rendahnya hasil tangkapan masyarakat. Laguna Segara Anakan secara kontinyu mengalami degradasi akibat tingkat sedimentasi yang tinggi. Adanya sedimentasi selama bertahun-tahun pada perairan tersebut telah mengakibatkan terjadinya pendangkalan serta penyempitan luasan laguna.

“Dalam proses aliran dari muara Sungai Citanduy dan Sungai Cibereum menuju Samudra Hindia terjadi proses sedimentasi pengendapan sedimen terlarut sebesar 80%,” jelas Gunardjo.

Lebih lanjut, Gunardjo menerangkan bahwa Laguna Segara Anakan sebagai muara dari beberapa sungai besar seperti Sungai Citanduy, Cibereum, Cimeneng, Cikonde, dan beberapa sungai lainnya membawa konsekuensi pada melimpahnya pasokan air dan sedimen yang terbawa ke dalam laguna.

Rahardyan menambahkan bahwa tingginya sedimentasi dan aliran sungai-sungai yang bermuara di Laguna Segara Anakan ditambah kemampuan hutan mangrove dalam mengendapkan sedimen telah menurunkan tungsi sistem drainase dan sistem pengendalian banjir.***NE