KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Ministry of Environment and Forestry Republic of Indonesia
www.menlhk.go.id

Berita Litbang
Posted by Rizda Hutagalung - 29. November 2018 - 277 klik

Presentasikan Hasil Studi, Dua Pegawai BP2LHK Manado Diapresiasi Para Pihak

BP2LHK Manado (Manado, November 2018)_Dua pegawai Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado yang telah menyelesaikan tugas belajar jenjang strata-2, Senin (26/11/2018) melaksanakan presentasi ilmiah yang diselenggarakan di aula Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara selaku Korwil UPT Kementerian LHK di Provinsi Sulawesi Utara.

Ini merupakan kali pertama pertemuan ilmiah diselenggarakan di Korwil UPT sejak peraturan yang baru diberlakukan. Pertemuan ilmiah ini dihadiri oleh 26 peserta yang merupakan perwakilan dari UPT Kementerian LHK diantaranya dari BP2LHK Manado, Balai Taman Nasional Bunaken, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Tondano, Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah VI Manado, UPTD Tahura Gunung Tumpa dan beberapa peneliti dari Macaca Nigra Project beserta peneliti dari Portsmouth University United Kingdom.

Presentasi hasil studi yang dipimpin Kepala BKSDA Sulawesi Utara, Lukita Awang Nistyantara dan Kepala BP2LHK Manado, Dodi Garnadi selaku moderator ini diapresiasi oeh para pihak (stakeholders).

Lis Nurrani, S.Hut, peneliti muda BP2LHK Manado yang telah menyelesaikan studinya di Yeungnam University Republic of Korea mengangkat topik penelitian “Beneficial Analysis of Clerodendrum minahassae Teijsm et Binn as Biological Products for Community Livelihood in North Sulawesi Province, Indonesia”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai manfaat tanaman Leilem (C. minahassae) yang merupakan tanaman endemik Sulawesi Utara dan potensinya dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitarnya.

Hasil studi etnobotani menunjukkan bahwa tanaman leilem memiliki ragam manfaat bagi masyarakat Sulut terutama suku Minahasa diantaranya adalah sebagai sayuran, bahan pelengkap/rempah-rempah kuliner khas Sulut dan bahan herbal untuk menyembuhkan beberapa penyakit yang terkait dengan gangguan saluran pencernaan serta sebagai pagar hidup karena bunganya yang indah dipajang menjadi ornamental tree. Berdasarkan hasil analisis kandungan nutrisinya, daun leilem tinggi akan kandungan vitamin C dan vitamin E hingga mencapai 389,23 mg/100 g dan 435,97 mg/g.

“Salah satu pilihan rekomendasi yang diajukan dari hasil studi ini adalah mengedukasi masyarakat terkait nilai manfaat dan nutrisi leilem serta mendorong pemerintah daerah setempat untuk menetapkan leilem sebagai salah satu bahan pangan lokal yang potensial,” ungkap Lis.

Presentasi kedua dilakukan Supratman Tabba S.Hut, Litkayasa Penyelia BP2LHK Manado yang telah menyelesaikan studinya di Chungbuk National University Republic of Korea, yang disponsori oleh KOFPI (Korea Forestry Promotion Institute).

Supratman memaparkan penelitiannya yang berjudul “Invasion Influence of Spathodea campanulata Beauv on the Ecological Structure of Mount Gunung Tumpa Forest Park in North Sulawesi Province, Indonesia”.

“Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi kelimpahan spesies, struktur dan komposisi tegakan Spathodea di kawasan Tahura Gunung Tumpa serta menganalisis dampak negatif dan positif dari keberadaan spesies ini terhadap struktur ekologi kawasan,” kata Supratman.

Supratman mengatakan, hasil inventarisasi menunjukkan bahwa dominansi spatodea atau yang sering masyarakat lokal sebut sebagai kayu bunga (karena bunganya yang bagus) sangat tinggi, terus mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Saat ini kerapatan spatodea mencapai 562 pohon/ha. Dominansinya yang konsisten pada semua tingkat pertumbuhan pohon mengakibatkan kurangnya atau semakin menekan pertumbuhan spesies alami lainnya. Inilah salah satu penyebab masih minimnya keberhasilan pengkayaan tanaman yang dilakukan di Tahura Gunung Tumpa.

“Beberapa pilihan rekomendasi hasil penelitian adalah berupa pendekatan konservasi dan pendidikan, pengendalian secara mekanis, kimiawi dan biologis, serta penetapan Spathodea campanulata sebagai tumbuhan invasive di Indonesia,” papar Supratman.

Selain mendiseminasikan hasil studinya di depan para kolega, ASN lingkup Kementerian LHK yang telah menyelesaikan studinya juga diwajibkan untuk mengajukan policy brief  yang akan dikirimkan ke Pusat Litbang Sosek Kebijakan dan Perubahan Iklim untuk ditindaklanjuti. Hal ini bertujuan agar hasil-hasil penelitian dapat menjadi masukan kebijakan dalam pengelolaan hutan dan pembangunan masyarakat sekitarnya sebagai wujud kontribusi optimal dari Kementerian LHK.

Memberi masukan kepada para pemakalah, Lukita Awang mengatakan, selain policy brief yang diajukan ke pemegang kebijakan di pusat, hasil-hasil studi ini juga harus dibuatkan infografisnya. Infografis ini dibuat sedemikian sederhana namun memuat informasi yang lengkap dan bahasa yang lugas agar dapat dipahami bukan hanya oleh aparatur di lingkungan KLHK beserta rekanannya saja namun juga oleh masyarakat secara luas.

“Dan tidak lupa mencantumkan kolom contact person pribadi penulisnya, hal ini penting untuk mempermudah bagi siapa saja yang membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai tanaman tersebut,” kata Lukita Awang.  

Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.14/P2SDM/SET/PEG.1/12/2017 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Presentasi Hasil Studi Bagi Pegawai Negeri Sipil Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, setiap ASN Kementerian LHK yang telah menyelesaikan tugas belajar dan izin belajar diwajibkan untuk mempresentasikan hasil studinya di depan para pejabat struktural dan pejabat fungsional lingkup Kementerian LHK dan pihak lain yang terkait dengan topik tesisnya.

Kegiatan presentasi ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh ASN untuk pencantuman gelar baru yang diperoleh dan untuk pengaktifan kembali di unit kerja masing-masing ataupun di unit kerja yang direkomendasikan berdasarkan dengan potensi keahlian yang dimilikinya. Sesuai peraturan yang baru bahwa mulai tahun 2018 penyelenggara pertemuan ilmiah dapat dilaksanakan di Koordinator Wilayah UPT.***LN